
Restoran itu terlihat ramai dengan banyak pengunjung, restoran yang lumayan besar. Kini Aisha, Genan dan Arga berada didepan pintu masuk restoran itu.
Langkah Aisha terhenti, manakala ia melihat sosok pria yang tidak asing memakai seragam pelayan sedang melayani para tamu. Wajahnya masih terlihat tampan, tapi tubuhnya agak sedikit kurus. Aisha bergeming dengan senyuman di bibirnya, ia memandang pria yang dirindukannya selama 2 bulan ini dengan sendu. Ia benar-benar rindu pada pada pria itu, karena Sadam sama sekali tidak mengabarinya.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, tapi kenapa dia tidak ada mengabariku?" gerutu Aisha dengan atensi yang masih tertuju pada Sadam di sana.
"Sadam nggak ngabarin Lo, mungkin karena dia pengen buat surprise. Sama kita juga dia nggak ngabarin apapun kok, cuma kalau kita mau ketemu sama dia...ya disini tempatnya." Genan bicara tentang Sadam, agar Aisha tidak berpikiran negatif tentang sahabatnya itu.
"Selama 2 bulan ini, Sadam kayak isolasi mandiri. Dia bahkan nggak pernah nongkrong bareng kita. Kata nyokapnya, dia mau fokus menata masa depan sama Lo. Dan Lo tau? Restoran ini adalah salah satu restoran milik neneknya. Sadam kerja disini, tapi dia nggak kasih tau siapapun identitas dirinya. Sadam kerja keras banget, buat dapatin restu dari pak Asep dan tentunya cinta dari Lo." jelas Arga seraya melihat wajah Aisha yang tampak sedih melihat Sadam.
"Kita yang udah berteman sama Sadam dari SMP, nggak pernah ngeliat Sadam sampai segitunya sama cewek. Bahkan sama mantannya pun, dia nggak seserius gini usahanya. Beda kalau sama Lo, Lo spesial buat Sadam." kata Genan yang membuat Aisha terharu. Sadam sampai seperti ini karena dirinya? Demi mendapatkan pengakuan dari ayahnya, dia sangat serius dengan niatnya menikahinya.
__ADS_1
'Kang Sadam, dia beneran serius sama aku?' batin Aisha terharu.
Tiba-tiba saja Aisha melihat jam ditangannya. Ia baru teringat dengan jam sekarang, jam makan siang. Tapi ia belum melihat Sadam istirahat. "Ini udah jam makan siang, tapi kenapa kang Sadam masih kerja ya?" gumam Aisha.
"Si Sadam emang kayak gitu, dia suka fokus kerja. Kadang kita datang aja nggak ditanggapi!" celetuk Arga mengingat kelakuan Sadam akhir-akhir ini.
"Gue ada cara biar si Sadam nanggapin kita!" seru Genan sambil senyum-senyum ala Pepsodent dan melihat ke arah Arga juga Aisha.
"Kalian berdua, ikut gue!" ajak Genan pada keduanya. Mereka pun masuk ke dalam restoran tempat Sadam bekerja itu. Lalu mengambil tempat duduk di sana.
"Oke fine, ini batas kesabaran gue Dam!" ujar Genan sambil melihat ponselnya dengan tatapan membara. Aisha melihat Genan dengan terheran-heran, begitu pula dengan Arga. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Genan dengan ponselnya itu? Apakah dia akan menggepreknya?
__ADS_1
Lantas, Genan pun mengambil foto Aisha diam-diam. "Ha ha ha... " setelah memainkan ponselnya, pria itu malah tertawa evil seperti pemeran psikopat saja.
Disisi lain, Sadam sedang berada di dapur dan duduk-duduk sebentar. Ia melihat ponselnya yang sedari tadi berdering, dari tadi Genan meneleponnya. Tapi Sadam mengabaikannya, palingan cowok itu cuma mau ngajak main seperti biasa.
"Apaan sih Genan, pake kirim pesan gambar segala? Nggak tau apa gue lagi sibuk kerja!" gerutu Sadam kesal.
[Kalau Lo nggak buka, Lo bakal nyesel] Begitulah isi pesannya.
Lantas Sadam pun membuka pesannya meski ia sebenarnya malas. Matanya melotot melihat gambar wanita berhijab di sana dan lokasinya tidak asing.
"Aisha? Ini kan disini! Aisha ada disini?" pekik Sadam terkejut. Lalu ia pun keluar dari dapur setelah meminta izin pada bosnya. Bosnya langsung mengizinkan karena ini jam makan siang Sadam.
__ADS_1
Sadam berlari terburu-buru, ia tak sabar ingin melihat Aisha. Dia rindu dengan gadis itu. Sangat.
****