
"HILMAN!" teriak Aisha seraya menatap ke arah Sadam.
"UDIN!" seru Riki dengan senyum lebar dibibirnya.
"Iki, kamu teh nggak kira-kira ya kalau kasih nama orang!" ujar pak Asep sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa pak? Udin bagus kok,buat si akang," ucap Riki sambil terkekeh geli membayangkan Sadam yang memiliki wajah tampan, kulit putih bersih dan badan seperti Chris Hemsworth ini bernama Udin. Apakah kontras dengan visualnya?
"Nggak, masa nama si akang Udin?" Aisha tidak setuju dengan nama yang asal diberikan oleh Riki.
"Kenapa? Udin cocok kok!" kata Riki sambil senyum-senyum. Dia menatap Sadam yang kini terlihat bingung. Ketika dua orang didepannya memperdebatkan masalah nama sementara untuk Sadam, sampai ingatannya kembali.
"Kalian ini, mau makan malah ribut! Pamali! Mending tanya aja langsung, si akang namanya mau siapa," putus pak Asep tegas, seraya melirik ke arah Sadam.
"Iya kang, akang mau apa namanya?" tanya Aisha dengan mata yang penuh harapan pada Sadam. Berharap Sadam mau dengan nama Hilman.
Kedua sudut bibir Sadam tertarik ke atas, menyunggingkan senyum yang menunjukkan dua lesung di pipinya. Ya, walaupun wajah Sadam terlihat lebam-lebam. Tapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Hilman bagus," jawab Sadam singkat. Aisha pun tersenyum senang karena saran namanya diterima dengan baik oleh Sadam. Sedangkan Riki memanyunkan bibirnya ke depan, ia sebal karena Sadam memilih nama Hilman bukannya Udin.
"Ya sudah, Hilman, Aisha, Riki. Kita makan dulu yuk," ajak pak Asep pada semua orang yang duduk di karpet dan bersiap untuk makan.
Saat semua orang mengangkat tangan dan bersiap memanjakan doa sebelum makan, Sadam malah terlihat bingung.
"Akang, ayo berdoa dulu." Ajak Aisha pada Sadam dengan senyum lembutnya.
Sadam pun mengikuti gerakan tangan semua orang di rumah itu, dia pun ikut berdoa yang tidak dia hafal. Doa sebelum makan. Usai berdoa, Riki paling semangat makan lebih dulu dengan tangannya.
'Kok makan pake tangan ya? Kenapa nggak pake sendok?' batin Sadam bingung. Entah kenapa makan menggunakan tangan secara langsung, ia merasa jijik.
Ketika semua orang sudah melahap makanan beserta lauk pauknya ke dalam mulut, Sadam masih terdiam menatap makanan yang tersaji diatas piring miliknya. Ada yang berwarna hijau dan basah disana. Sedangkan makanan yang lainnya tidak ada yang hijau basah, hanya makanan kering dan dimakan dengan tangan langsung. Dan dia diberikan sendok.
"Kang Hilman, saya sengaja masakin sayur bayam. Soalnya kata dokter di klinik, makan sayur bayam bagus buat pertumbuhan tulang akang. Apalagi tangan akang ada yang retak tulangnya, tadi." Kata Aisha pada Sadam.
"Gue nggak suka makanan kambing ini, gue nggak bisa makan!" cetus Sadam yang merasa ingin muntah melihat bayam.
__ADS_1
Pak Asep dan Aisha langsung kaget mendengar ucapan Sadam. Pria itu terlihat serius tidak mau makan bayam. Sementara Riki malah tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Sadam.
"Hahaha...si akang. Ini bukan makanan kambing, ini bayam kang! Bayam! Makanan Popeye si pelaut itu loh, haha." Riki tertawa-tawa, hingga Aisha menepuk lengannya dan adiknya itu menjadi diam.
"Kang, kang Hilman harus makan sayur bayam ini. Enak kok rasanya...bagus untuk kesehatan akang. Biar akang cepet sembuh," tutur Aisha berusaha menjelaskan.
"Ta-tapi...kayaknya ini nggak enak. Gue--"
Aisha menggelengkan kepalanya, lalu ia mengambil sendok dan langsung menyuapi Sadam dengan nasi dan bayam.
"Jangan dimuntahkan kang! Makan sampai habis," ujar Aisha tegas, saat ia melihat raut wajah Sadam yang tidak menyenangkan dan ingin memuntahkan makanan yang sudah ada di mulutnya.
Dan Sadam pun bersusah payah menelan makanan yang sangat tidak dia suka itu. Anehnya, Sadam yang sebelum hilang ingatan sangat pembangkang, tapi pada Aisha. Sadam menurut dan mencoba menelan sayuran hijau yang menurutnya makanan kambing itu. Tapi tentu saja di suapi oleh Aisha. Pak Asep juga memperbolehkannya asal tidak berdua-duaan, lagipula niat Aisha hanya menolong Sadam.
****
1 bulan berlalu sejak Sadam tinggal di rumah Aisha. Dan sudah 1 bulan itu pula Sadam menghilang dari keluarga dan teman-temannya. Keadaan Sadam sudah membaik, ia telah pulih dari luka-lukanya. Selama tinggal di rumah pak Asep, Sadam agak kesulitan dengan yang namanya beradaptasi. Sadam pikir, mungkin dia anak orang berada dan manja sebelum hilang ingatan. Tapi Sadam mencoba beradaptasi dengan kehidupan disana karena ada Aisha. Entah kenapa dia merasakan hal familiar saat didekat Aisha, seolah gadis itu sudah ada hidupnya sebelum hilang ingatan. Selama 1 bulan itu, Sadam dan Aisha cukup dekat.
Siang itu, Aisha baru saja pulang ujian dari sekolahnya. Sebentar lagi dia akan lulus SMA. Dan hari ini Sadam menjemputnya dengan sepeda. Sontak saja wajah Sadam menjadi sorotan semua siswa-siswi di sekolah tempat Aisha bersekolah.
"Ieu mah wajib selfie hela. Yuk ajak selfie, sebelum Aisha dateng, terus si akangnya dibawa pulang." kata seorang siswi mengajak temannya yang lain untuk selfie dengan Hilman, alias Sadam.
Para siswi itu mendekati Sadam yang membawa sepeda untuk menjemput Aisha, cowok itu ada didepan gerbang sekolah.
"Akang, nunggu Aisha ya?"
"Iya. Kalian tau dimana dia?" tanya Sadam dengan wajah cueknya seperti biasa.
"Aisha lagi di perpustakaan," jawab salah seorang siswi dengan tatapan genit pada Sadam. Berharap Sadam akan meliriknya.
"Oh gitu. Masih lama nggak?" Sadam lanjut bertanya.
"Kayaknya lumayan lama deh kang, tunggu disini aja kang. Duduk dulu!" seru seorang siswi. Lalu mereka pun berani meminta foto, sayangnya Sadam selalu menolak. Hingga mereka pun bisa mengambil foto Sadam dari kejauhan saja.
"Ya udah lah lumayan, ini buat si upload ke efbi!"
__ADS_1
"Ka Ig tong hilap!" seru seorang siswi berseragam putih abu pada temannya yang meng-upload foto Sadam ke medsos. Foto itu diambilnya diam-diam.
"Akang Ji Chang Wook teh meni gantengnya kebangetan!" Siswi itu pun meng-upload foto Sadam ke akun FBnya. Dia beri hastag disana, pria tampan akang Ji Chang Wook dari desa Mekarmukti.
Foto Sadam diakun medsos siswi itu, banjir akan komentar warga net, terutama kaum hawa. Mereka penasaran dan sekaligus tidak percaya bahwa di desa terpencil seperti itu ada makhluk setampan Sadam yang notabenenya seperti artis Hollywood.
***
Tak lama kemudian, Aisha pun keluar dari perpus dan ia berjalan menuju ke gerbang sekolah bersama dengan salah satu teman sekelasnya, yaitu Yusuf. Sorot mata Sadam menajam pada Yusuf yang berjalan bersama Aisha, ia terlihat tak suka.
"Kang Hilman? Kenapa akang yang jemput aku? Kemana Iki?" tanya Aisha terheran-heran karena biasnya Riki yang menjemput Aisha.
"Riki ada urusan, jadi dia suruh gue yang jemput Lo. Ayo naik! Panas!" Sadam naik ke sepeda lebih dulu, lalu dia menyuruh Aisha untuk naik ke jok belakang sepedanya.
"Kang Yusuf, aku berangkat--"
"Buruan, gue panas!" ujar Sadam dengan suara cukup keras, hingga membuat Aisha tak sempat berpamitan dengan Sadam.
Sementara itu Riki sedang memegang perutnya dan dia terlihat kesakitan. Riki bolak-balik ke kamar mandi, setelah Sadam membelikannya seblak pedas.
"Awas aja si kang Hilman! Aku aduin sama teteh, sama bapak...sampe segitunya si akang pengen jemput teteh!"
Bruttt...
Brutt...
Terdengar suara memalukan dari bokong Riki. Wajah Riki juga tampak menahan nyeri.
"Aduh! Nyeri beuteng deui," Riki pun masuk lagi ke kamar mandi, entah sudah yang ke berapa kalinya.
****
Seorang pria terlihat sedang berada di sebuah ruangan seorang diri. Tiba-tiba saja seseorang datang ke ruangan itu dan memperlihatkan ponselnya pada pria yang duduk di kursi kebesarannya.
"Sadam masih hidup? Desa Mekarmukti?" pria itu tersenyum menyeringai, sorot matanya tajam dan kelam.
__ADS_1
****