When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 14. Aisha di sekap


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Para warga menolong Riki dan Pak Asep yang tubuhnya terikat di kursi. Mereka geram setelah mendengar cerita pak Asep tentang Tristan dan anak buahnya yang menyerang rumah lalu menculik Aisha. Mereka ada hubungannya dengan Sadam.


"Gak bisa begini pak, kita harus lapor ke pihak berwajib! Ini sudah kriminal namanya," ucap seorang warga pada pak Asep.


"Iya bener pisan. Ini nggak bisa dibiarin begitu aja, atuh." Warga yang lain juga setuju untuk melaporkan Tristan ke kantor polisi.


"Lebih baik jangan gegabah. Mereka bisa mencelakai neng Aisha, kapan saja. Lebih baik kita teh hubungi dulu kang Hilman, eh maksud saya kang Sadam." Saran seorang warga yang berbeda dengan saran orang-orang disana.


Pak Asep dan Riki bergeming cukup lama. Apa yang dikatakan oleh warga itu, mereka juga tidak mengatakan bahwa yang dikatakannya salah. Bisa saja Aisha semakin dalam bahaya kalau Sadam tidak turun tangan. Tapi diam saja dan tidak melaporkan ke polisi juga salah.


"Saya akan tetap melaporkan tentang ini pada pihak berwajib. Akan tetapi saya juga akan mencoba menghubungi Sadam." putus pak Asep akhirnya.


Para warga disana setuju dengan usul pak Asep. Langsung saja pria paruh baya itu menghubungi nomor yang diberikan Sadam padanya. Namun belum ada jawaban dari nomor yang dihubunginya.


****


Disisi lain, Aisha dibawa ke Bandung kota. Lebih tepatnya ke salah satu rumah terbengkalai di tengah hutan. Tristan sengaja membawa Aisha kesana agar Sadam kesulitan melacak Aisha.


Tristan membaringkan Aisha di lantai, lalu anak buah Tristan mengikat tubuh gadis itu pada tiang kayu. Aisha masih belum siuman.

__ADS_1


"Bos, apa yang akan kita lakukan pada gadis ini?" tanya salah seorang anak buah Tristan dengan tatapan tajam pada Aisha.


"Jaga dia disini! Jika belum ada kabar dari si brengsek Sadam sampai besok. Gue bakal suruh kalian perkosa dia, terus bunuh dia!"


Anak buahnya terkejut mendengar ucapan gila Tristan. Mereka tau rencana awal tidak seperti itu. Tristan hanya ingin mempermainkan Sadam, memberinya pelajaran dengan menculik Aisha. Bukan membunuh karena itu adalah kriminal.


"Tristan, rencana awal kita nggak kayak gini. Kita nggak boleh bunuh dia," ucap Danny, salah satu teman Tristan juga.


Tristan berjalan mendekati Danny, dia pun menatap Danny tak suka. "Kenapa Dan? Mau sok suci Lo? Kita bukannya kayak nggak pernah bunuh orang. Lo inget kan kejadian di Jakarta?"


Danny terdiam mendengar ucapan Tristan, kejadian di Jakarta saat dulu ia dan Tristan membegal seorang satpam. Tanpa sengaja Danny membunuh satpam itu dengan pisau. Danny benar-benar menyesal kala itu karena sudah membunuh satpam. Tapi dia juga takut masuk penjara dan saat itu Tristan menolongnya.


"Jangan coba ingetin gue Dan! Karena nyawa harus dibayar nyawa. Gue kehilangan adik yang gue sayang, gue juga harus buat Sadam kehilangan orang yang dia sayang!" tunjuk Tristan pada wajah Danny dengan berang. Mata pria itu lebih dendam saat mengingat adiknya. "Jangan lupa Dan, gue yang dulu tolong Lo supaya bisa bebas dari hukum! Jangan macam-macam Lo, sama gue." ancam Tristan marah


Danny tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Tristan sangat keras kepala. Tapi dia tidak bisa membiarkan Tristan menjadi seorang pembunuh. 'Aku harus bisa mencegah Tristan agar dia tidak jadi pembunuh'


****


Malam itu, kediaman Bu Rianti.


Sadam akhirnya sampai ke rumahnya, dia pun masuk ke dalam rumah seorang diri tanpa Vita. Sadam mengusir Vita agar tidak dekat-dekat dengannya. Bu Rianti terbaring diatas ranjang, dia sakit-sakitan sejak Sadam menghilang. Sadam lega karena kembali ke rumah, tapi Omanya sakit dia kembali sedih.

__ADS_1


"Sadam! Cucu Oma!" seru Bu Rianti sambil memeluk Sadam dengan perasaan lega.


"Iya Oma, Sadam disini...maafin Sadam Oma, maaf Sadam baru pulang." Kata Sadam seraya membalas pelukan Omanya. Dia merindukan Bu Rianti, sangat.


Tatapan Sadam tertuju pada sosok wanita yang sudah meninggalkan bertahun-tahun lalu. Dia adalah ibunya, Bu Arina yang juga ada disana bersama suami barunya. Tatapan pria itu begitu tajam pada Arina. Sedangkan wanita paruh baya itu melihat Sadam dengan mata berkaca-kaca dan hatinya lega, karena Sadam kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Oh ya, kenapa dia ada disini Oma?" tanya Sadam sinis, begitu melepas pelukan dari neneknya. Bu Rianti terdiam cukup lama sebab dia bingung mau menjawab apa. Selama dia sakit, Arina yang membantunya di rumah ini.


"Sadam, mama disini untuk bertemu kamu nak. Syukurlah kamu..." saat Arina akan memeluk Sadam, pria itu menghindar.


"Jangan sentuh saya!" tegas Sadam pada Arina dan membuat wanita paruh baya itu sedih karena penolakan Sadam, putranya sendiri.


Tak lama kemudian seorang pembantu rumah tangga masuk ke dalam kamar Bu Rianti. Pembantu itu mengatakan bahwa ada seseorang yang menelpon Sadam ke telpon rumah.


"Siapa yang nelpon saya bi?"


"Namanya pak Asep, den."


"Pak Asep?" Sadam lantas langsung pergi keluar dari kamar Bu Rianti dan bergegas ke ruang tamu, dimana letak telpon rumah berada.


...****...

__ADS_1


__ADS_2