
...🍁🍁🍁...
Saat Tristan akan menusuk Sadam dan pria itu juga pasrah, sedetik kemudian Genan datang kesana dan malah dirinya yang kena tusuk untuk pisau yang Tristan pegang.
"GENAN!" sontak semua orang disana berteriak saat pisau itu mengenai tangan Genan sampai tembus. Dan seketika, darah pun menetes dari tangan kanannya. Sedangkan Sadam tidak terluka sama sekali. Disisi lain, Aisha memejamkan mata saat Tristan mengarahkan pisau ke perut Sadam.
Gadis itu ketakutan, dia bahkan tak berani membuka mata. Membayangkan Sadam ditusuk oleh pisau Tristan. Danny melihat gadis itu jatuh terduduk sambil menutup mata.
"Hey! Lo nggak apa-apa?" tanya Danny seraya menepuk bahu Aisha. Gadis itu tidak menjawab dan masih menutup mata.
Disisi lain, Genan yang menahan serangan Tristan. Terlihat terluka dan tangannya berlubang karena pisau itu. Bahkan pisau itu masih menancap ditangan Genan
"Genan! Apa yang lo--" Sadam terbelalak melihat Genan yang terluka dan berada ditengah-tengah antara dirinya dan Tristan.
"Kalian berdua bacot tau nggak! Lo Tristan, Lo selalu nyalahin Sadam atas semua yang terjadi sama adik Lo. Lo selalu bilang dia nggak merasa bersalah? Enggak Tan, itu nggak benar! Sadam merasa bersalah, dia bahkan selalu nyempetin diri buat datang ke makam Tania. Dia sampe jauhin semua cewek karena dia merasa bersalah. Sampai Evita datang, dan Sadam buka hati untuk dia. Tan, ini bukan hanya kesalahan Sadam, adik Lo yang udah memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya"
"Gue pengen kita kayak dulu lagi. Kita sahabat! Kalian saling memaafkan, please...lupain hal yang terjadi di masa lalu. Meski gue tau ini sulit, tapi perlahan-lahan waktu akan membuat kalian lupa tentang masa lalu. Intinya, kalian harus berdamai dengan diri kalian sendiri. Please.. gue nggak mau kehilangan dua sahabat gue, gue sayang kalian."
Sadam dan Tristan terdiam saat mendengar ucapan Genan. Mereka merenung tentang apa yang terjadi di masa lalu. Ya, mereka memang belum berdamai dengan hati mereka masing-masing. Tristan dengan dendamnya dan Sadam juga dengan rasa bersalahnya.
Perih hati Genan dan Arga, saat melihat kedua sahabat mereka tercerai-berai karena sebuah dendam yang terjadi bertahun-tahun. Bahkan Tristan memiliki niatan untuk membunuh Sadam. Genan dan Arga tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Kalian bego sumpah. Yang satu rela mati, yang satu pengen jadi pembunuh. Terus gimana endingnya? Kalian sama-sama mati! Apa yang kalian dapatkan? Nggak ada!" ujar Arga tegas. Arga berada disisi Genan saat ini.
Ucapan dari Arga dan Genan membuat Sadam dan Tristan terhenyak, hingga akhirnya buliran air mata jatuh membasahi pipi mereka bersamaan dengan darah mengalir di wajah dari kepala.
"Tan...gue minta maaf," ucap Sadam lirih dengan bibir bergetar. "Ini salah gue," ucapnya lagi.
"Gue juga salah, nggak seharusnya gue nyalahin Lo. Tania bunuh diri karena pilihannya sendiri. Sorry Dam, selama ini gue egois. Maaf!" sesal Tristan.
Mereka berdua pun berpelukan dan berdamai, akhirnya dua orang yang bermusuhan itu, berdamai dan mungkin akan kembali bersahabat seperti dahulu. Semua orang disana senang melihat Sadam dan Tristan berdamai, apalagi Genan dan Arga.
__ADS_1
"Tan, mana Aisha? Lo nggak ngapa-ngapain dia kan?" Tiba-tiba Sadam teringat dengan Aisha.
"Sorry Dam, gue nyuruh anak buah gue buat perkosa dia." ungkap Tristan merasa bersalah.
"APA? LO! GIMANA BISA LO!" sentak Sadam yang hendak kembali memukul Tristan. Namun teriakan Danny membuatnya menghentikan gerakannya.
"DIA BAIK-BAIK AJA!"
Sadam pun menoleh ke arah Danny yang berdiri tak jauh dari sana. Sadam melihat Aisha disamping Danny. "Aisha?"
Pria itu lantas berlari ke arah Aisha. Genan, Arga dan Tristan dapat melihat betapa Sadam sangat mempedulikan Aisha, sampai mempertaruhkan nyawa.
"Kayaknya si Vita udah tergantikan," ujar Arga lega.
"Baguslah, dia cewek baik-baik."
"Eh btw tangan Lo..." Tristan menoleh ke arah Genan dan melihat pisau itu masih menancap disana. Perdamaian itu membuat mereka lupa akan luka Genan.
"Its okay, ini sakit tapi gue gak mati!" kekeh Genan.
Disisi lain, Sadam sudah berdiri dihadapan Aisha. Sadam melihat ada beberapa luka di wajah cantik gadis itu. Bahkan baju depannya robek.
"Sholehah kamu luka! Astaga," ucap Sadam cemas melihat wajah Aisha yang merah.
"Ini cuma luka kecil, aku nggak apa-apa kok kang. Akang lukanya yang banyak," ucap Aisha cemas melihat wajah dan kepala Sadam dipenuhi darah.
"Aku nggak apa-apa, tapi kamu...mereka nggak ngapa-ngapain kamu kan?"
"Alhamdulillah enggak, ada akang ini yang nyelematin aku." Aisha menoleh ke arah Danny sekilas.
"Thanks Dan," ucap Sadam. Tak lama kemudian, ia merasa kepalanya pusing dan berputar-putar. Lalu dia pun jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Semua orang jadi panik saat melihat Sadam tak sadarkan diri, tak hanya itu. Tristan juga tidak sadarkan diri.
****
Waktu pun berlalu, anak-anak geng Thanos dan geng Black Phantom telah kembali ke tempat mereka masing-masing. Sebelum polisi berpikiran yang bukan-bukan tentang mereka.Ditempat itu kini sudah kosong dan tak ada siapapun disana, saat Pak Asep dan Riki datang.
Mereka tidak menemukan Aisha disana dan pada akhirnya, mereka bertemu di rumah sakit. Keluarga Sadam juga ada disana untuk melihat kondisi Sadam.
Sadam, Genan, Aisha dan Tristan berada di ruangan yang sama. Hanya dihalangi tirai saja. Disana mereka ditangani oleh dokter dan diobati luka-lukanya.
"Teh, teteh nggak apa-apa?" tanya Riki cemas melihat tetehnya sedang diperiksa dokter.
"Teteh cuma luka kecil aja kok," jawab Aisha sambil tersenyum.
"Terus dia siapa?" tanya pak Asep dengan tatapan tajam pada Danny yang ada disana. Danny tersenyum tipis pada Pak Asep.
"Aku juga nggak tau namanya, tapi akang ini udah nyelametin neng pak." Aisha tersenyum pada Danny.
"Nama saya Danny, saya teman Sadam!" Danny memperkenalkan dirinya pada Pak Asep.
"Hem, makasih udah nolongin anak saya." ucap Pak Asep dingin. Melihat putrinya seperti ini, dia jadi berpikir untuk menjauhkan Aisha dari Sadam.
Setelah dokter mengobati luka Aisha dan dokter mengatakan bahwa Aisha baik-baik saja. Pak Asep lantas mengajak putrinya untuk pulang.
"Ayo kita pulang neng," ajak Pak Asep.
"Tapi kang Sadam pak...." lirih Aisha yang melihat Sadam masih diobati dokter dan tidak sadarkan diri.
"Kita pulang!" ujar pak Asep dengan suara meninggi. Aisha dan Riki kaget mendengarnya, tidak biasanya bapaknya begini.
"Pak, maafkan saya. Ini sudah lewat tengah malam, apa gak sebaiknya bapak dan anak-anak bapak menginap dulu di rumah mama saya?" tawar Arina yang tau bahwa Aisha seperti ini karena Sadam. Pak Asep bergeming cukup lama, kemudian dia menjawab.
__ADS_1
"Tidak usah."
...****...