When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 34. Bukan Ngajak pacaran tapi...


__ADS_3

Mau tidak mau Aisha pun pergi dari acara kelulusan yang belum selesai itu, bersama ayah dan juga adiknya. Aisha tidak mau menjadi anak pembangkang, meski sebenarnya Aisha belum mau pergi dari sana. Aisha belum menjawab pernyataan cinta Sadam yang membuatnya berdebar.


Pak Asep terlihat marah, mukanya merah padam dan mendengus kesal karena Sadam berani mengatakan cinta pada putrinya didepan semua orang. Bagi pak Asep, tindakan Sadam itu memalukan.


Sementara itu, keluarga dan teman-teman Sadam menghampiri Sadam dengan cemas. Mereka melihat wajah Sadam yang pucat saat ini.


Pria itu memegang bunga primrose ditangannya, dia membeku melihat raut wajah pak Asep tadi yang menusuk ke dalam hatinya. Padahal dulu pak Asep tidak seperti itu dan masih ada respect padanya. Mungkin sejak kejadian penculikan itu, pak Asep jadi tidak suka kepada Sadam.


"Dam, kayaknya si Pak Asep nolak Lo!" celetuk Genan seraya menepuk bahu Sadam. Matanya menyiratkan iba pada sahabatnya itu


Arga dan Danny juga ikut merasakan sedihnya Sadam, ini sih rasanya seperti ditolak sebelum berperang.


"Nak, kamu harus semangat! Mama yakin, kalau kemarahan pak Asep cuma sementara. Kamu harus berusaha meluluhkan hatinya, karena Mama yakin bahwa Aisha memiliki rasa yang sama dengan kamu." kata Arina berusaha menyemangati putranya.

__ADS_1


"Iya, Oma juga setuju sama Mama kamu." Bu Rianti menganggukkan kepalanya, ia juga setuju dengan Arina, mantan menantunya itu. Dia juga berpikir, bahwa pak Asep hanya marah sesaat saja karena kejadian waktu itu. Atau karena Pak Asep cemas hal buruk terjadi lagi pada Aisha.


"Dam, ayo kejar!" ujar Arga pada sahabatnya itu, lalu Sadam yang sedari tadi diam pun akhirnya tancap gas pergi dari sana untuk menyusul pak Asep.


****


Pak Asep, Aisha dan Riki sedang berjalan menuju ke parkiran. Tempat dimana mobil pak Asep berada. Mereka akan pulang, ya itulah tujuan pak Asep.


"Pak! Kenapa bapak teh seperti ini? Acaranya belum selesai pak," ujar Aisha yang akhirnya menghentikan langkah Pak Asep. Sontak saja pria paruh baya itu menoleh ke arah Aisha.


"Pak...maafin Aisha, lagian tadi bapak tau sendiri kan? Aku sama kang Sadam nggak berduaan, di sana banyak orang." jelas Aisha dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mendengar suara ayahnya yang keras, membuat hati Aisha terhenyak.


"Pokoknya bapak gak suka ya, kalau kamu dekat-dekat dengan anak kota itu lagi!" ujar Pak Asep yang lalu membukakan pintu mobil untuk Aisha. "Masuk Aisha, Riki! Jangan bantah bapak!"

__ADS_1


Mau tidak mau Aisha dan Riki pun menurut perintah ayahnya. Namun saat mereka akan masuk ke dalam mobil, Sadam sudah ada di sana.


"Mau apa lagi kamu teh?" tanya Pak Asep sinis.


"Pak tolong! Berikan saya kesempatan pak, saya serius sama Aisha." mohon Sadam dengan begitu lirih.


"Saya tidak melihat ada jaminan dari kamu, untuk memberikan kamu kesempatan. Dan kamu juga harusnya teh mikir, kalau anak saya baru lulus SMA dan cita-citanya masih panjang! Saya nggak izinin anak saya buat pacaran, pacaran itu dosa!" tegas pak Asep dengan keras.


"Pak, sepertinya bapak salah paham. Saya bukan ngajak Aisha buat pacaran, tapi ngajak dia nikah! Tentu saja atas seizin bapak!" tukas Sadam menyelesaikan kesalahpahaman Pak Asep yang dipikirnya akan menyakiti Aisha. Padahal niatnya serius.


Pak Asep, Aisha dan Riki langsung terkejut mendengar ucapan Sadam yang sama sekali tidak main-main dengan ucapannya.


'Kang Sadam mau nikah sama aku?'

__ADS_1


...****...


__ADS_2