When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 8. Salah paham berujung...


__ADS_3

Sambil menikmati pemandangan indah dan udara di sekitar sungai itu, Aisha menceritakan pada Sadam tentang bagaimana ia menemukan pria itu hanyut di sungai. Sebenarnya, Sadam sudah tau ceritanya dari Bu Titin yang saat itu melihat langsung bagaimana Aisha menyelamatkan Sadam. Tapi Sadam ingin mencocokan cerita Bu Titin dengan Aisha. Benarkah Aisha sampai mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya.


"Jadi gitu ceritanya kang!" kata Aisha selepas bercerita pada Sadam. Pria itu hanya manggut-manggut saja, tapi dia senang bicara dengan gadis itu. Ya, karena Aisha cerewet, lembut, namun membuatnya nyaman. Serasa familiar dengan gadis itu, padahal mereka belum saling kenal. Tentang ingatan Sadam, dia masih belum ingat masa lalunya.


"Terus--lo ada luka gak pas nolong gue?" tanya Sadam seraya menatap Aisha dengan intens.


"Ada, ditangan."


"Apa berbekas?" tanya Sadam cemas.


"Heem, tapi tau nggak...ini tuh luka kehormatan hehe." kekeh Aisha sambil tersenyum lebar. Namun Sadam malah menatapnya dengan cemas.


"Boleh gue lihat lukanya?" tanya Sadam lagi penasaran dengan bekas luka itu.


Aisha menganggukkan kepalanya, lalu ia menaikkan lengan kanan seragam sekolahnya sampai ke siku. Lalu ia pun memperlihatkan luka bekas tergores bebatuan saat menolong Sadam.


"Lukanya dalam juga. Kenapa nggak Lo jahit waktu itu?" Sadam memandangi luka itu dengan perasaan bersalah.


"Udah kok, cuma kata dokter klinik emang bakal ada bekasnya. Aku juga nggak sadar kalau lukanya besar, padahal nggak kerasa sakit Kang," ucap Aisha jujur.


"Ya udah nanti bisa di operasi plastik biar bekas lukanya ilang."


"Hah? Operasi plastik? Buahahha..." Aisha tertawa terbahak-bahak saat mendengar Sadam mengatakan tentang operasi plastik dengan mudahnya dan wajah Sadam juga tampak serius.


"Kenapa ketawa? Apa ada yang lucu?"tanya Sadam lagi dengan raut wajah flatnya dan membuat Aisha tersenyum.


"Ya ampun akang, masa iya aku operasi plastik cuma karena luka kayak gini aja? Uang darimana atuh akang? Lagian luka ini juga nggak ganggu kok," tutur gadis itu yang masih terkekeh dengan ucapan Sadam. Masa iya luka seperti ini saja harus operasi plastik. Memangnya dia idol K-Pop atau model yang harus mulus tanpa bekas luka dan kebanyakan oplas


"Gue bakal biayain. Gue yakin gue orang kaya, meski gue belum inget sepenuhnya tentang siapa gue sebenernya," cetus Sadam yakin.

__ADS_1


"Hehe, gak usah kang. Lagian ini tuh luka kehormatan tau. Biarin aja kayak gini. Dan luka ini nggak bakal menghalangi aku untuk menikah nanti," jelas Aisha yang lalu menutup kembali bekas luka di tangannya dengan kain baju seragam.


"Lo mau nikah? Sama siapa?" tanya Sadam tergelak mendengar kata menikah itu. Aisha mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Sadam.


"Nikah? Ya iyalah, nanti aku pasti nikah kang!"


"Apa Lo mau nikah sama si Yusuf?" Sadam terlihat kesal saat mengucapkan nama Yusuf, sebab Yusuf adalah pria yang cukup dengan Aisha. Berulang kali pria bernama Yusuf ini datang ke rumah dan membawakan makanan untuk Aisha dan keluarganya. Meski Aisha bilang mereka hanya tetangga dan teman sekelas, tapi Sadam tidak yakin dengan perasaan Yusuf pada Aisha.


"Hah? Kok sama Yusuf sih kang? Yusuf itu cuma teman aja. Lagian aku juga belum mau nikah cepat, aku pengen kuliah dulu. Tapi sih kalau ada rezekinya," tutur Aisha panjang lebar. Sama sekali ia belum memikirkan tentang pernikahan.


Sadam bergeming, tapi ia menyimak dan mendengarkan isi hati Aisha. Sadam jadi berpikir untuk membantu Aisha kuliah. Jika benar dia orang kaya, dia akan membantu Aisha dan keluarganya yang bisa dibilang kurang dalam hal finansial.


"Eh, kok aku malah curhat sih. Maaf ya kang hehe," Aisha menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Nggak apa-apa udah biasa kok denger bibir kereta nyerocos," ucap Sadam dengan wajah flatnya yang amat menyebalkan untuk Aisha.


"Bibir kereta nyerocos," jawab Sadam sambil tertawa. Lalu ia menepuk kepala Aisha dengan perasaan sayang. "Yuk kita balik. Riki pasti nyariin. Gue juga mau ke sawah bantu pak Asep," timpalnya lagi.


"Iya, ayo kita pulang kang."


Sadam berdiri lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Aisha. Gadis itu berdiri dan membalas uluran tangan Sadam, namun tanpa sengaja kaki Aisha tergelincir batu.


"Ah! Akang!" teriak Aisha kaget saat tubuhnya oleng ke belakang. Ia menarik tangan Sadam dengan erat.


"Woah!" Sadam terkejut bukan main saat tubuhnya juga terhitung ke depan bersama dengan Aisha. Dengan cepat Sadam mengubah posisi agar Aisha tidak basah karena air sungai karena mereka akan jatuh ke sungai.


Byur!


BRUGH!

__ADS_1


Sadam jatuh terduduk dan tubuhnya basah oleh air sungai, sedangkan Aisha berada diatas pangkuannya. Jarak mereka begitu dekat, mungkin jika ada orang lain disana melihat ini. Bisa menjadi kesalahpahaman. Kedua tangan Aisha memegang pundak Sadam dan bertengger disana.


Kedua netra mereka saling beradu, menatap dalam. Netra coklat muda milik Aisha seakan menghipnotis Sadam untuk menatapnya. Aisha pun merasa sama, mata indah Sadam yang berwarna abu-abu itu membuat Aisha terpesona.


Jantungnya berdebar kencang saat ia berada di jarak sedekat ini dengan Sadam. Wajahnya sontak memerah karena rasa panas yang tiba-tiba muncul pada dirinya.


'Masya Allah, kang Hilman teh ganteng banget. Ini juga kenapa jantungku dag Dig dug kenceng banget' batin Aisha bingung.


'Gadis ini gak terlalu cantik, tapi tidak jelek. Mungkin orang-orang kota jauh lebih cantik dan seksi dari dia. Tapi buat gue dia cantik banget, apalagi wajahnya yang merah kayak gini. Dan gue nyaman sama dia.' batin Sadam seraya memandang wajah cantik Aisha yang sederhana tanpa polesan make up, bibirnya pun merah alami semerah Cherry.


"Ma-maaf...aku..."


Saat Aisha akan menjauhkan dirinya dari Sadam, tiba-tiba dia kembali jatuh ke pangkuannya. Ternyata bros yang ia pakai di kerudungnya tersangkut di rambut Sadam.


"Aduh kang ini nyangkut, bentar ya..."


"Apaan sih yang nyangkut?" ringis Sadam saat merasakan rambutnya tertarik sesuatu.


"Bross aku kang," jawab Aisha sambil berusaha melepaskan Bros dari kerudungnya.


"ASTAGFIRULLAHALADZIM! KALIAN!"


"Beraninya kalian berbuat mesum di tempat terbuka begini!"


Suara-suara itu membuat Aisha dan Sadam terkejut, padahal mereka masih berada dalam posisi tidak menyenangkan.


Aisha dan Sadam melihat ke arah 5 orang wanita paruh baya yang saat ini menatap mereka dengan marah.


...****...

__ADS_1


__ADS_2