
...🍁🍁🍁...
Sebenarnya Arina sedih dengan sikap Sadam kepadanya, tapi ini juga salahnya sendiri yang sudah mengabaikan Sadam selama ini. Sadam sendiri, begitu dia siuman ia langsung menanyakan Aisha.
"Dimana Aisha? Apa dia baik-baik aja?"
"Aisha ada di rumah nenek, sama pak Asep dan adiknya. Dia baik-baik aja, nak." Arina menjelaskannya pada Sadam, tentang Aisha.
Pria itu pun menghela nafas lega setelah dia mendengar bahwa Aisha baik-baik saja. Lalu ia pun mengatakan pada Arina untuk membawanya pulang karena dia tidak sabar untuk bertemu dengan Aisha dan juga keluarganya. Sadam akan meminta maaf pada Aisha dan keluarganya.
"Mama akan bicara dulu sama dokter, apa kamu udah boleh pulang atau enggak, ya nak?" ucap Arina perhatian, ia pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan putranya, Sadam.
Tak berselang lama kemudian, dokter datang bersama dengan Arina dan langsung memeriksa kondisi Sadam. Dokter tersenyum setelah memeriksa kondisi Sadam.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Arina seraya menatap sang dokter dengan wajah yang masih diliputi rasa khawatir.
Terdengar suara dokter menghela nafas, dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, dan dapat menenangkan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Alhamdulillah anak ibu baik-baik saja dan hanya mengalami luka luar. Sejauh ini tidak ada luka dalam dan anak ibu, selain tulang tangan kiri yang retak.Tapi anak ibu sudah boleh pulang kok." Arina menghela nafas lega setelah ia mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi Sadam.
Sadam juga tersenyum lega, dia ingin segera pulang untuk menemui Aisha, pak Asep dan Riki. Dia ingin mengutarakan niatnya untuk meminta maaf karena sudah membuat Aisha berada dalam bahaya sebelumnya.
Selagi Arina mengurus masalah administrasi, Sadam sudah bersiap untuk pulang dengan tangan yang gips karena ternyata ada tulangnya yang retak karena ulah Tristan.
"Sorry, gue nggak bermaksud buat ngelukain loh!" kata Tristan yang berada di ranjang tepat disamping Sadam.
"Nggak apa-apa, yang penting masalah kita udah selesai. Kita udah jadi teman lagi kan?" tanya Sadam pada Tristan dengan mata berbinar penuh harapan. Harapan untuk kembali berteman dengan Tristan.
__ADS_1
"Harus! Karena gue udah ngorbanin tangan kanan gue buat kalian berdua. Kalau kalian berdua gak baikan, gue bakal bunuh kalian berdua hah!" celetuk Genan yang bernada ancaman pada kedua temannya. Genan berada di ranjang ujung dekat Sadam. Kedua temannya itu melirik ke arah Genan yang tangan kanannya diperban.
"Makasih dan maaf nan!" ujar Sadam dan Tristan bersamaan. Mereka menyesal karena sudah membuat Genan terluka.
"Kita janji bakal selalu damai sekarang," ucap Sadam sambil tersenyum dan atensinya tertuju pada Genan. Tristan menganggukkan kepalanya, ia setuju dengan ucapan Sadam. Mereka berjanji tak akan bertengkar lagi dan selalu damai.
"Oh ya Dam, Lo mau pulang sekarang?" tanya Genan yang mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Saddam.
"By the way, cewek yang namanya Aisha itu. Apa dia udah pulang ke kampungnya? Gue sama anak buah gue, berhutang maaf sama dia. Sama bapak dan adiknya juga," sesal Tristan yang sudah melibatkan Aisha dengan urusannya bersama Sadam. Dia berhutang maaf pada gadis itu.
"Dia masih ada di rumah gue. Kalau Lo mau minta maaf, nanti aja kalau lo ke rumah gue. Gue harap sih, Aisha sama keluarganya masih lama di rumah gue." Kata Sadam berharap.
"Oke, gue harus minta maaf. Tapi kata dokter gue harus di Rontgen dulu," ucap Tristan dengan bibir mencebik.
"Its okay, nanti aja lo ke rumah gue."
"Dam beneran dia cewek Lo? Jadi selera loh udah ganti nih sama yang hijaban?" tanya Tristan seraya menggoda Sadam yang wajahnya terlihat malu-malu saat ini.
"Cari calon istri ya harus yang bener dong. Yang sholehah, calon ibu yang baik juga," ucap Sadam yang membuat kedua temannya terperangah bukan main.
"Shiit! Lo serius sama dia friend?" tanya Genan dengan mulut yang menganga seakan tak percaya. Tristan juga menatap Sadam dengan penuh pertanyaan. Sadam hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.
"Woy Dam! Jawab dong, ah Lo!" desis Genan yang kesal karena tak mendapatkan jawaban dari Sadam. Lain halnya dengan Tristan, sepertinya pria itu menyadari bahwa Sadam telah menjatuhkan pilihan pada Aisha.
"Dam, ayo kita pulang nak!" ajak Arina pada putranya itu. Sadam menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan bersama ibunya meninggalkan rumah sakit.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah, Sadam dan Arina melihat Aisha dan keluarganya sedang berjalan ke pintu depan rumah. Tepat saat itu mereka berpapasan dengan Sadam dan Arina.
"Pak, biar supir saya yang akan mengantar--"
"Tidak usah Bu, saya bawa mobil colbak. Terimakasih Bu," ucap Pak Asep menolak Bu Rianti.
"Pak Asep, Riki, Aisha, kok kalian udah mau pulang lagi sih? Aku mau bicara sama kalian," ucap Sadam bingung melihat raut wajah pak Asep yang terlihat marah.
Tanpa memedulikan Sadam dan Arina, Pak Asep menggandeng tangan Aisha dan membawanya pergi dari sana, tubuh gadis itu terlihat gemetar. Riki menyusulnya dari belakang.
"Pak, apa nggak sebaiknya teteh disini dulu. Teteh lagi sakit pa," ucap Riki menyarankan.
"Kita rawat teteh kamu di rumah aja," jawab Pak Asep yang lalu membuka pintu mobil colbak didepan halaman rumah Sadam.
"Pak..."
Sadam dan Arina berjalan menghampiri Pak Asep dan keluarganya, mereka merasa ada yang aneh disini. Aisha tidak bicara sepatah katapun, ia hanya melirik Sadam sekilas. Semalam bapaknya sudah menegaskan, bahwa ia tak boleh dekat-dekat dengan Sadam lagi.
"Pak Asep, ini sebenarnya ada apa--"
BRUGH!
"Aisha!!"
"Teteh!"
Semua orang terkejut melihat Aisha tiba-tiba jatuh pingsan, beruntung Sadam menangkap tubuh Aisha dengan satu tangannya.
__ADS_1
****