
๐๐๐
Hari pernikahan Sadam dan Aisha pun akhirnya tiba. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Sadam dan Aisha. Pagi itu Sadam dan rombongannya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pernikahan yang diadakan di desa Mekarmukti, rumah Aisha. Padahal bisa saja mereka mengadakan pernikahan di gedung mewah ataupun dimanapun mereka inginkan. Namun, Aisha menolak tawaran dari keluarga Sadam itu. Dia ingin pernikahan yang sederhana, asal sah secara hukum negara dan agama.
Didalam mobil pengantin, Sadam terlihat gelisah bahkan tubuhnya berkeringat dingin. Ferdi, Rianti dan Arina melihat calon pengantin itu sedang gugup.
"Kamu keringatan terus Dam, nanti bedak yang dipakaikan sama perias pengantin tadi, bisa luntur!" ujar Arina sambil memberikan sapu tangan pada Sadam untuk mengusap keringat diwajahnya.
"Gak tau kenapa Sadam jadi begini, Ma." ucap Sadam sembari mengusap basah di wajahnya itu.
"Ini hal yang wajar kok, kamu itu lagi gugup karena sebentar lagi kamu akan menikah." celetuk Bu Rianti yang dibenarkan oleh pak Ferdi dan juga supir yang ada di sana.
Tak berselang lama kemudian, rombongan Sadam tiba di dekat rumah Aisha yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Dengan tema berwarna merah muda dan putih yang tampak soft.
Sadam dan keluarga besarnya, dari mulai saudara dari pihak ibunya, ayahnya bahkan saudara dari pihak ayah angkatnya juga datang kesana. Termasuk teman-temannya Sadam, Tristan juga ada di sana. Pria yang sempat menaruh hati pada Aisha itu, datang untuk menghadiri pernikahan Sadam dan Aisha. Ia bahkan ikut sebagai orang yang membawa seserahan.
Pengantin pria dan keluarganya, disambut oleh tim marawis yang menyanyikan sholawat, untuk menambah kemeriahan acara itu. Sadam sendiri, berdiri paling depan bersama dengan Bu Arina dan ayah kandungnya disampingnya yang menemaninya hari ini
Sadam terlihat sangat tampan dengan setelah warna putihnya, melambangkan kesucian, suci dalam pernikahan. Ia berharap pernikahan ini sekali dalam seumur hidupnya.
Di sebrang sana, terlihat seorang pengantin wanita mengenakan kebaya putih, mengenakan hijab putih dan mahkota yang disebut siger berada diatas hijabnya. Gadis itu terlihat cantik dan bercahaya. Bahkan Sadam sampai tidak berkedip melihat kecantikannya.
__ADS_1
"Ma, Pa, buruan jalannya!" ujar Sadam pada kedua orang tuanya.
"Ya ampun anak Mama yang udah nggak sabar," kekeh Arina sambil tersenyum melihat putranya yang sudah tidak sabar ingin mengsahkan Aisha sebagai istrinya.
Kini calon pengantin itu berhadapan didepan penghulu dan juga ayah dari si pengantin wanita. Mereka duduk bersanding dan kepala mereka ditutupi kain putih.
Dan adegan yang paling mendebarkan itu pun tiba, dimana Sadam akan mengucapkan ijab kabul. Janjinya kepada orang tua Aisha, kepada Aisha dan kepada Allah SWT.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Sadam Alvin Moreno bin Alexander Moreno dengan anak saya yang bernama Marwah Aisha dengan mas kawinnya berupa emas 500 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Marwah Aisha binti Asep Saripudin dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.โ jawab Sadam dengan lantang dan dalam satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu kepada orang-orang yang hadir di acara pernikahan itu.
"Alhamdulillahirobilalamin." Semua orang mengucapkan hamdalah dan turut berbahagia dengan pernikahan Aisha Sadam. Aisha menyalami punggung tangan pasangan halalnya itu, lalu tersenyum. Sadam membalas dengan kecupan manis penuh kasih di kening Aisha.
"Jangan senyum-senyum gitu, aku nggak suka orang lain lihat senyum manis kamu." bisik Sadam ketika ia menyudahi ciuman di kening Aisha. Gadis yang sudah menjadi istrinya.
Aisha tersipu malu, hatinya seperti dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran. Rona kebahagiaan terlihat pada pasangan pengantin baru itu.
Para tamu berdatangan untuk memberikan ucapan selamat, berfoto dan memberikan hadiah juga untuk Sadam dan Aisha. Bahkan Vita dan Devan juga datang bersama. Mereka memberikan selamat untuk Sadam dan Aisha.
__ADS_1
****
Hingga acara melelahkan dari pagi sampai sore pun berakhir, dan malam pengantin pun tiba. Aisha dan Sadam masuk ke dalam kamar Aisha yang sudah didekorasi sebagai kamar pengantin mereka malam ini. Keduanya terlihat lelah karna banyaknya tamu yang hadir. Bak hilir mudik, datang silih berganti. Bahkan pasangan pengantin baru itu tidak sempat untuk duduk-duduk karena saking banyaknya tamu yang datang.
"Pegel ya? Mau aku pijitin?" tanya Sadam pada sang istri yang sedang duduk ditepi ranjang sambil memijat mijat kakinya. Sadam baru saja selesai melaksanakan shalat isya di mesjid bersama ayah mertuanya.
"Nggak apa-apa Kang. Cuma pegel dikit, aku kan nggak biasa pakai sepatu tinggi," ucap Aisha.
"Lain kali kalau nggak nyaman, jangan dipakai daripada nyiksa diri. Aku pijat ya." Sadam memijat mijat kaki Aisha. Tiba-tiba saja hasrat dalam dirinya muncul saat melihat wajah cantik Aisha. Bisa ia pastikan malam ini, ia akan menjadikan Aisha miliknya sepenuhnya.
Pria itu berdiri, lalu melangkah pergi menuju ke arah pintu dan menguncinya. Lalu ia kembali lagi menghampiri Aisha dengan tatapan nanar.
"Akang..." lirih Aisha.
Kemudian Sadam membuka hijab Aisha dan memperlihatkan rambut panjang gadis itu, sungguh menambah kecantikannya. "Ternyata rambut kamu panjang."
"Jangan liatin aku kayak gitu kang, aku malu!" Aisha memalingkan wajahnya dari Sadam. Akan tetapi Sadam tidak kehabisan ide, tangannya meraih dagu Aisha dan membuat gadis itu melihatnya. Langsung saja Sadam menyambar bibir ranum milik Aisha yang selama ini ia idamkan itu. Akhirnya keduanya pun berciuman dengan mesra, menyalurkan hasrat terpendam dalam diri mereka, dalam ikatan yang halal tentunya.
Malam itu mereka menyalurkan semua rasa yang ada sebagai pasangan suami-isteri. Diakhiri dengan kata cinta diantara keduanya. Mereka berjanji akan saling mencinta selamanya, sekali seumur hidup.
...Tamat ...
__ADS_1
Hai readers, terimakasih yang sudah mengikuti cerita When Bad Boy Meet Sholehah dari awal sampai akhir โบ๏ธโบ๏ธ๐ฅฐjangan lupa mampir ke novel ku yang lain dong, ada Dihamili Berondong ๐
Mohon maaf bila ending kurang memuaskan tapi author sukanya yang simpel ..