When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 12. Gelang pemberian Aisha


__ADS_3

Dengan berat hati, Sadam memutuskan pergi dari rumah yang memberikannya kenyamanan juga kehangatan keluarga selama 1 bulan terakhir ini. Bersama dengan pak Asep, Riki dan Aisha, ia merasakan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan. Sadam harus benar-benar pergi saat ini juga, lalu sekarang dia pun berpamitan pada Aisha dan keluarganya.


"Sekali lagi, terimakasih banyak karena bapak dan keluarga bapak sudah mau menerima saya disini. Apalagi Sholehah, dia yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Rasanya ucapan terimakasih saja tidak cukup. Dan saya juga minta maaf karena selama berada disini saya merepotkan kalian," tutur Sadam panjang lebar dan sopan. Berbeda ketika Sadam masih hilang ingatan, rasanya sekarang Sadam menjadi sopan. Begitulah yang dipikirkan oleh Riki dalam hatinya. Aslinya Sadam juga dewasa, dan usianya sudah menginjak 21 tahun.


"Tidak kok. Sudahlah kamu jangan terus meminta maaf dan mengucapkan terimakasih. Kami ikhlas dan dengan senang hati, kami menerima kamu di sini," ucap pak Asep benar-benar merasa senang karena Sadam sudah pulih.


Bibir pria itu menyunggingkan senyum yang tulus, tapi tatapannya seperti berat meninggalkan rumah ini. Atau karena Aisha? Gadis yang mengajarkannya banyak hal.


"Akang, hati-hati ya." Akhirnya Aisha berucap setelah sedari tadi dia diam saja. Bahkan Aisha memberikan gelang untuk Sadam yang berasal dari rajutannya.


"Ini buat gue?"


"Iya kang. Waktu itu ada praktek kerajinan di sekolah. Aku buat ini, gelang ini...buat akang. Kalau akang mau," ucap Aisha malu-malu.

__ADS_1


"Nggak usah kasih buat dia teh, kasih buat Iki aja!" celetuk Riki yang cemburu karena kakaknya memberikan gelang untuk Sadam.


"Enak aja, ini Sholehah kasih buat saya!" Sadam tak mau kalah, dia bahkan berani menentang Riki demi gelang dari Aisha. Pak Asep dan Aisha tersenyum mendengarkan perdebatan mereka berdua yang diselingi candaan.


Sadam pun menyodorkan tangannya, ia ingin Aisha memakaikan gelang itu katanya. Gelang itu memang tidak seberapa, tapi gelang itu adalah gelang yang pertama dibuat Aisha.


"Jaga kalungku baik-baik, aku juga bakal jaga gelang ini. Aku pergi dulu ya," ucap Sadam berbisik pada Aisha. Sadam bicara lembut pada Aisha.


"Hati-hati ya Kang Sadam." Aisha tersenyum.


"Idih! Siapa yang bakal kangen kamu? Huh! Siapa yang kamu panggil adek? Saya teh bukan adik kamu!" gerutu Riki dengan bibir yang mencebik. Selama satu bulan itu, Sadam dan Riki banyak berinteraksi. Mereka bertengkar kayaknya saudara laki-laki.


"Pokoknya saat saya balik lagi, saya bakal bawain kamu seblak level 10. Oh ya, saya bawa mie gacoan aja...level ekstra pedas," ucap Sadam sambil tersenyum lebar menunjukkan gigi giginya yang rapi.

__ADS_1


"Apa? Huh, awas ya nanti aku bakal balas akang!" geram Riki yang ingat saat beberapa kali Sadam menjahilinya.


Akhirnya Sadam benar-benar pergi dari sana, ia pergi naik ojeg menuju ke jalan raya. Hatinya terasa berat, meninggalkan rumah pak Asep. "Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Sholehah? Makanya aku berat meninggalkan rumah itu?" gumam Sadam bingung.


Sesampainya di jalan raya, Sadam melihat Evita masih ada disana sambil bersandar di mobilnya. Sepatu heels Vita terkena lumpur dan ia hanya memakai alas kaki sendal jepit saat ini. "Kenapa Lo masih ada disini?" tanya Sadam sinis.


"Aku nunggu kamu Dam, aku tau kamu pasti bakal pulang sekarang juga. Jadi-"


"Mana kunci mobil Lo? Biar gue yang nyetir,"ketus Sadam. Vita malah tersenyum lebar saat Sadam mengatakan akan menyetir untuknya. Padahal Sadam ikut dengan Vita karena ingin cepat sampai ke Bandung kota.


Lalu mereka berdua pun berangkat bersama menuju ke Bandung kota. Saat mobil mereka meninggalkan desa itu, beberapa orang yang memakai sepeda motor sport dengan penampilan bak preman, melajukan motornya kencang menuju ke daerah rumah Aisha berada.


Mereka bahkan menanyakan tentang Sadam pada warga sekitar. Warga menunjukkan rumah pak Asep sebagai tempat tinggal Sadam.

__ADS_1


"Lihat aja Lo Sadam! Lo bakal mati ditangan gue!" geram Tristan sambil tersenyum menyeringai.


****


__ADS_2