
Mark telah membagi tugas bersama Line. Jika jiwa gadis itu ingin menggunakan kekuasaan Mark untuk memberi pelajaran pada ayah dan ibu tirinya.
Sedang jiwa Mark yang ada pada tubuh Line harus menjaga diri dan tidak berbuat macam-macam. Jiwa Mark cukup kesulitan karena tubuh dan respon juga otak sang gadis mampu mengendalikan jiwanya. Hanya gaya Mark yang tidak bisa dikendalikan tubuh sang gadis.
Jiwa Mark sedikit rasa gelisah. Punggung dan beberapa tubuh bagian bawah terasa nyeri terlebih tempat buang air kecilnya terasa sakit.
"Uh ... Aku kenapa?" keluh jiwa itu.
"Line ... Kau kenapa?" tanya salah satu gadis.
"Entahlah ... kenapa aku rasa nyeri di sini?" jawab Line lalu menekan bagian perut bawah.
"Apa kau tak periksa tanggalmu?" tanya gadis itu lalu duduk di sisi Line.
"Tanggal?" jiwa Mark tentu tak mengerti.
"Oh ayolah!" seru sang gadis tak percaya.
"Ini bukan menstruasi pertamamu kan?" lanjutnya.
"Ah ... Apa iya sekarang tanggalnya?" Line meringis menahan sakit.
"Aku bawa pembalut. Kau gantilah di toilet, jangan sampai kau malu!" ujar gadis itu lalu menyerahkan satu pack pembalut.
"Ah ... Thanks! Tolong absenkan aku ya!' ujar Line.
Jiwa Mark mengikuti respon tubuhnya. Ia masuk kamar mandi dan memakai pembalut. Jiwa Mark tertegun melihat setitik darah yang menetes di celananya.
"Ah ... Keluar juga?"
Buru-buru Line membuka pack pembalut dan memasangnya. Setelah memakainya. Ia pun berjalan dan merasakan ada yang keluar dari sana. Mark merasakan betapa perih ketika cairan sedikit kental itu keluar.
"Ah ... sakit sekali!" keluhnya menekan perutnya lagi.
Line tak fokus, jiwa Mark benar-benar tak nyaman dengan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini.
"Line ... Kau kenapa?" tanya Miss Downson dosen ekonominya.
"Kau pucat sekali?" lanjutnya khawatir.
"Dia baru mendapat menstruasinya Miss!" jawab Alyssa.
"Ah ... Kau pasti tak nyaman ya?" Line mengangguk.
"Tapi kau biasanya tak seperti ini?" sahut Miss Downson bingung.
"Aku tak tau Miss," jawab Line lemah.
"Ah ... Memang kadang-kadang hal itu membuat Miss juga tak nyaman. Baiklah, kau boleh beristirahat di ruang perawatan Line!" suruh Miss Downson.
"Tapi mata kuliahnya gimana?" tanya Line yang membuat jiwa Mark kesal bukan main.
"Sudah ... Tidak apa-apa. Nanti Miss berikan modul untukmu via seruel ya!' jawab Miss Downson.
__ADS_1
Line pun diantar oleh Alyssa ke ruang perawatan. Di sana ada beberapa dokter muda dan langsung memberi penanganan.
"Dia kenapa?" tanya salah satu mahasiswa memakai jas snelinya.
"Dia sedang datang bulan," jawab Alyssa.
"Oh ... kau sudah sarapan?" Line menggeleng.
"Makanlah dulu ini. Lalu minum obat pereda nyeri ini!" ujar mahasiswa itu.
Line memakan roti yang diberikan lalu setelah habis, ia meminum obatnya dengan air satu gelas.
"Istirahatlah Line. Aku kembali ke kelas ya," ujar Alyssa.
"Thanks Lys!" ujar Line.
Alyssa mengangguk, gadis itu berlalu. Sungguh Alyssa berusaha melakukan berbagai cara agar Line mau jadi sahabatnya. Tetapi gadis itu enggan membuka hati untuk persahabatan.
"Kau masih tak percaya ada yang tulus ingin jadi sahabatmu Line," Alyssa menatap Line dari pintu ketika keluar ruang perawatan.
"Apa yang membuatmu begitu anti dengan namanya sahabat Line?" tanyanya sedih walau bisa dalam hati.
Alyssa beranjak masuk kelas. Ia tetap menghargai Line yang menutup hati dari yang namanya sahabat.
Sementara itu, Mark menatap sinis laporan yang diberikan ajudannya. Empat pria sudah dihukum berat menjadi pelayan masyarakat.
Harta ke empat pria itu disita oleh Mark sebagai ganti rugi perusahaannya yang bangkrut.
"Berapa lama tengat waktunya?" tanya Mark.
"Enam bulan," jawab Paul.
"Oh ya Tuan, Mark orange dibawa oleh Tuan besar ke perusahaannya," Mark menutup mata sambil menghela nafas panjang.
"Jaga kucing itu Paul. Mark adalah satu-satunya penghibur ku di rumah," ujar Mark meminta.
Paul sadar jika yang bicara bukanlah tuannya, melainkan jiwa yang ada di dalam tubuh Mark.
"Nona ...."
"Jaga bicaramu, Paul!" tekan Mark menatap tajam ajudannya.
Paul membungkuk hormat sebagai permintaan maaf. Pria itu tentu harus menjaga ucapannya.
"Kau akan dianggap gila jika ada yang tau semua dan aku tinggal memecatmu jika semua berantakan!" ancam Mark sungguh-sungguh.
"Maaf Tuan, saya akan lebih berhati-hati lagi!" ujar Paul.
Mark menatap malas semua berkas yang telah selesai. Erick belum mendatanginya. Ia yakin jika Bastian pasti berbuat ulah lagi.
"Apa masih ada pekerjaan lain?" tanya Mark malas.
"Tuan, ada pertemuan di gala dinner. Tuan Broks mengadakan jamuan pada perusahaan dari Jepang," jawab Paul.
__ADS_1
"Baiklah, kita pergi. Oh ya, suruh Roy pergi ke kampus dan bawa nonamu ke salon kecantikan!" perintah Mark.
Paul menatap atasannya, ia masih bingung. Jiwa Mark terkadang menjadi pengendali tubuhnya sendiri.
"Apa yang kau lihat Paul?" tanya Mark tak suka.
"Baik Tuan! Maaf!" ujar Paul lalu menjalankan perintah tuannya.
Roy adalah supir perusahaan, ia diberi foto nona mudanya yang harus ia jemput.
"Gadis ini beruntung sekali!' cebik Roy menatap foto gadis di ponselnya.
"Pasti gold digger!" tuduhnya tanpa alasan.
Pria berusia tiga puluhan itu menaiki taksi dan menuju kampus. Hanya butuh waktu dua puluh menit ia mencari keberadaan nona yang diminta oleh tuannya itu.
"Kau cari siapa?" tanya Gladys.
"Mencari Nona Roseline Elizabeth Robertson!" jawab Roy.
"Ah ... katakan apa dia sudah menjual keperawanannya?" tanya Gladys ingin tau.
"Apa?" Roy tentu tak mengerti.
"Oh ... Ayolah, kau pasti suruhan gigolo yang membeli keperawanan Line kan?" ujar Gladys lagi, sedang dua sahabatnya mengangguk setuju.
"Jaga bicara anda Nona. Tuan muda Ortega adalah orang terhormat!' ujarnya membela majikannya.
"Siapa, Ortega?" Gladys, Angela dan Rihana menggeleng tak percaya.
Roy kesal lalu bertanya pada mahasiswa lain. Pria itu pergi ke sebuah tempat diantar oleh pemuda yang tau di mana nona yang ia cari.
"Apa kau dengar tadi. Line dijemput oleh supir dari Ortega!?" ujar Rihana tak percaya.
"Berapa banyak marga Ortega di negara ini, pasti banyak kan?" sahut Angela bertanya.
Line tampak berjalan bersama pria yang menjemputnya. Keduanya naik mobil sport mewah itu.
Kendaraan itu pun bergerak meninggalkan halaman universitas. Tiga gadis dengan dada palsu itu menatap tak percaya.
"Plat mobilnya bertuliskan ORT 3 GA!" pekik Angela.
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" jerit Gladys menolak percaya.
Kendaraan mewah itu berhenti di sebuah spa ternama. Line turun dari mobil ketika Roy membuka pintu untuk gadis itu.
Roy masih menatap kesal Line yang dianggapnya penikmat harta itu.
"Mestinya Tuan muda memiliki kekasih seorang artis atau seorang pengusaha kaya raya. Bukan gadis miskin penikmat harta!' ketusnya.
bersambung.
Next?
__ADS_1