WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
RENCANA 2


__ADS_3

Di sebuah gedung bertingkat, di pelataran depan lobi tergelar karpet merah. Di sana berkerumun berbagai wartawan di seluruh media.


Para pebisnis dan selebriti hadir dalam acara gala dinner international yang diselenggarakan oleh Mr. Samuel Broks. Pria itu menaruh semua uangnya dalam acara itu. Ia sangat yakin jika berhasil memenangkan proyek mega besar yang diusung salah satu perusahaan terpenting di benua Asia itu.


Angela Broks turun dari mobil mewah bersama ibu sambungnya, Patricia Leodore. Wanita itu tak berkutik pada anak gadis suaminya karena memang Angela menekan habis-habisan perempuan itu.


“Ayo bu,” ajak Angela penuh kepura-puraan pada wanita di sebelahnya.


Patricia tersenyum kaku, ia berjalan satu langkah di belakang putri dari suaminya itu. Patricia memang tak pernah berani pada Angela.


Kecantikan Angela memang sangat paripurna, iris hazelnya mampu membius siapapun. Wajahnya sangat mirip dengan sang ibu yang kini dirawat di sebuah bangsal rumah sakit jiwa.


“Jangan mengira bisa membuatku gila seperti yang kau lakukan pada ibuku!” tekan Angela pada Patricia.


Wanita itu hanya diam. Patricia sungguh tak mengetahui apapun perihal istri pertama suaminya itu. Ia dipaksa menikah karena desakan keluarga. Patricia masih memiliki kerabat dengan ayah dari Angela.


“Aku tak tau menau soal ibumu,” cicit Patricia lirih.


Angela menatap nyalang pada wanita di sebelahnya. Kebenciannya menggunung pada Patricia. Makanya sebisa mungkin ia selalu menggagalkan malam pertama ayahnya pada Patricia. Siapa sangka selama lima tahun, Patricia berhasil melewatinya walau tak disentuh sama sekali oleh suaminya.


“Maka mundur lah Pat ... sudah saatnya kau menyerah. Kau tau, aku selalu berusaha menjauhkanmu dari ayahku!” suruh Angela sekaligus menekan Patricia.


Wanita yang masih gadis itu hanya diam, keduanya masuk dalam ruangan yang telah didekorasi mewah dengan ala negara perusahaan yang sedang diincar mega proyeknya.


“Daddy!” panggil Angela manja.


Pria itu menoleh dan langsung tersenyum lebar. Seburuk apapun perlakuan putrinya itu, sebagai ayah ia tetap menyayangi putrinya.


“Sayang,” ujar Samuel lalu mengecup kening Angela.


Patricia menyapa suaminya, pria itu hanya mengangguk dan mengabaikan wanita itu. Hati perempuan mana yang tak hancur. Patricia adalah potret gadis yang dihancurkan hatinya sedemikian rupa oleh keegoisan dua orang sekaligus.


Acara berlangsung meriah, semua pebisnis hadir di sana ikut mencari peruntungan. Begitu juga Edrick Alexander Smith. Pria itu harus memenangkan salah satu proyek jika ingin perusahaannya tetap hidup.


Menjelang puncak acara, ayah Angela sedikit gelisah karena pebisnis dari jepang belum memulai acaranya.


“Tuan Nagata San. Apa ada yang masih anda tunggu?” tanya Samuel Broks.


“Tentu saja, saya masih menunggu salah satu pemasok besar perusahaan kami!” jawab pria yang ditanya dengan bahasa Inggris fasih.


“Tuan Nagata ... pebisnis yang anda tunggu datang!” seru ajudan Nagata dengan bahasa Nipon.

__ADS_1


“Baiklah, mari kita sambut dia!” ujar Nagata semangat.


Samuel Broks hanya mengikuti, ia tak tau jika perusahaan sekelas Nagata masih ada yang berada di atas perusahaan itu.


Pintu terbuka, sosok yang dinanti pebisnis internasional melangkah dengan setelan terbaiknya. Sebuah tuxedo berbahan sutera yang dijahit oleh tangan desainernya sendiri.


“Mark Philip Ortega bersama pasangannya!” seru beberapa pemburu berita.


Angela membelalak, ia tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Pria yang pernah ia puaskan menggandeng sosok yang sangat cantik.


Roseline, tampil dengan gaun warna hitam dengan bahu dan punggung terbuka. Rambutnya yang pendek hanya diberi aksen jepit mutiara. Semua perhiasan yang menempel padanya begitu pas dan tak berlebihan, membuatnya tampak lebih anggun.


“Siapa gadis itu?” sebuah tanya terbit dari bisik-bisik pemburu berita.


Banyak gadis tak terima ketika melihat Line yang bersanding dengan Mark termasuk Angela. Gadis itu menatap tajam sosok yang tak lepas dari lengan pria pujaannya.


Edric menatap putrinya nanar, ia tak percaya tranformasi perubahan anak perempuannya sangat jauh. Rose begitu anggun dan berkelas sesuai statusnya. Edric menatap mendiang istrinya yang berjalan anggun.


"Kau membuatmu hidup kembali Gloria Robertson," gumamnya lirih.


"Tuan Ortega, selamat datang!" sambut Nagata menyalami Mark.


Jiwa Line memang sangat membantu tubuh yang ia tumpangi. Jiwa Mark mengagumi kepintaran sang gadis yang membaca cepat situasi.


"Jadi kau melihat peluang besar untuk memajukan perusahaan dengan mendompleng itu?" tanya Line. Jiwa Mark yang pastinya ingin tau.


"Ya, ayahmu setuju dan menyerahkan semua padaku!" jawab Mark yang tentu jiwa Line yang mengatakan itu.


Line mendekati Mark. Tubuh gadis itu memang tak bisa membendung gaya casanova jiwa yang ada dalam tubuhnya.


"Kau mau apa?" tanya Mark yang tentu jiwa Line yang sinis bertanya.


"Jangan begitu sayang," ujar Line.


"Kau mau menantangku sayang?" tanya Mark.


Tubuh Line membeku saat Mark menyentuh punggung telanjangnya. Ingatannya tentang semalam buyar seketika.


"Perkenalkan ini kekasihku, Roseline Robertson!" ujar Mark memperkenalkan Line.


"Nona!" Nagata menyalami gadis cantik di depannya dengan penghormatan penuh.

__ADS_1


Line duduk mengangkat kakinya dan terpampang lah kaki jenjang yang indah. Sepatu putih setara dengan warna perhiasannya yang memang mutiara.


"Dia modis sekali. Gayanya trend dan berkelas!" puji salah satu pengamat mode.


"Walau terkesan sederhana. Tetapi semua yang gadis itu pakai sangat berkelas dan menunjukkan statusnya!" lanjutnya beropini.


Angela tak menyukai penilaian itu. Gadis itu melangkah dengan gemulai mendekati Line yang duduk dengan gelas wine di tangannya.


Sebuah ide buruk terlintas di otak Angela. Ia hendak menyenggol lengan kecil yang memegang gelas.


"Jangan bertindak gegabah dan membuat ayahmu malu Angela!" larang Patricia.


"Diam!" sentak Angela.


Plak! Bunyi nyaring terdengar, Patricia tertampar. Angela langsung bersandiwara.


"Bu ... Maaf aku tak sengaja!" ujarnya panik.


"Kau mengagetkanku, makanya tanganku reflek melayang. Aku tak pernah disentuh oleh siapapun!' ujarnya penuh nada penyesalan.


Samuel kesal melihat Patricia yang berusaha mengganggu putrinya. Pikiran pria itu telah dicuci oleh sang putri jika perempuan yang menikahinya itu punya niat terselubung.


"Jaga perilakumu Pat!" tekannya ketika sudah dekat dengan keduanya.


"Dad ... aku sungguh tak sengaja. Ibu menyentuh punggungku. Daddy tau kan ... Aku tak pernah disentuh!" ujar Angela tentu berdrama.


Jiwa Mark yang ada di tubuh Line berdecih melihat drama yang disuguhkan Angela.


"Tak pernah disentuh di mananya?" tanyanya meledek yang tentu di dalam hati.


"Bahkan aku tau di mana letak tanda lahirmu yang membuatku tak bernafsu!" lanjutnya mengumpat dan tentu masih dalam hati.


Sedang Mark hanya menatap datar pertunjukan di depannya. Jiwa Line memang tak menggubris siapapun selama itu tak mengganggunya.


"Maafkan aku, ini semua di luar kendali. Silahkan lanjutkan acarnya!' ujar Samuel meminta maaf dengan keributan yang terjadi.


Patricia diminta pulang oleh pria itu. Wanita itu hanya bisa menurut. Angela menatap penuh kemenangan.


'Ah ... Wanita di sisi kekasihku itu!' geramnya dalam hati menatap Line penuh permusuhan.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2