
Pergerakan di situs kuno tak ada yang mengetahui. Penyatuan tubuh dua insan yang telah diberkati Tuhan membuat putaran-putaran rasi menyala.
Sebuah sinar melesat dari pusat altar hingga menembus langit. Lalu ... Blarrr! Ledakan kecil tercipta di langit hingga menciptakan kembang api.
Situs kuno mendadak runtuh perlahan. Batu-batu berjatuhan. Altar terbelah jadi dua bagian. Lalu perlahan, bangunan itu tenggelam di telan bumi. Tanah terbelah menutup kembali. Situs kuno pun hilang dari tempatnya. Yang ada hanya batu-batu tak ada bentuk dan gundukan tanah yang langsung berlumut, menghilangkan semua tanda jika di sana ada tempat di mana penyerahan jiwa berada.
Pagi menjelang, Line merasakan tubuhnya remuk luar biasa. Ia kini telah menjadi wanita seutuhnya setelah menyerahkan kehormatannya pada sang suami.
Line menatap pria yang ada di sampingnya. Wanita itu belum sadar jika jiwanya telah kembali.
Mata Mark mengerjap, netranya langsung memandang iris hijau istrinya.
"Morning wife!" sapanya dengan suara berat.
"Morning hubby!" sahut Line tersenyum.
Mark mengecup bibir istrinya, lalu pagutan mesra terjadi sampai pasokan oksigen keduanya menipis.
"Wait the second!" seru Mark tiba-tiba.
Pria itu menyibak selimut yang mereka pakai. Line tentu terpekik lalu berusaha mengambil kain lebar itu lagi. Mark mencekal lengan istrinya.
"Ah ... Burungku kembali!' pekik Mark kesenangan.
Line tertegun, namun ketika ia hendak berdiri. Ia merasa nyeri dibagikan tempat pipisnya.
"Ugghh!" keluhnya.
Satu titik merah tercetak di sprei. Mark dan Line melihatnya. Pria itu menatap perempuan yang ada di depannya.
"Ah ... sayang ... Kau benar-benar masih perawan!" pekiknya senang lalu kembali bergulat dengan tubuh istrinya.
Dua jam kemudian, keduanya bangun. Line berjalan sedikit tertatih karena masih merasakan perih dan mengganjal di area sensitifnya.
"Astaga yang pengantin baru!" geleng Maria melihat pasangan suami istri itu baru bangun.
"Morning Mom!" sapa Mark dengan senyum lebar.
"Ini sudah jam dua belas siang Mark!' tegur sang ibu cemberut.
"Kalau begitu selamat siang mom!" kekeh Mark menggoda ibunya.
"Kau ...."
"Sayang, sudah lah!" peringat Marcus sang suami.
Maria hanya mencibir. Line langsung mencium pipi mertuanya hingga menguat wanita itu tersenyum lebar.
'Oh sayang, aku harap kalian cepat memberikanku cucu!" ujarnya.
"Mom, mereka baru nikah kemarin!' ujar Marcus kesal.
Maria tak peduli, ia menyuruh semua makan siang. Mark, Line dan Marcus menurut. Semua masih di pulau pribadi milik Marcus.
__ADS_1
Para tamu yang datang baru pulang sore hari. Mereka menikmati pantai indah dan bersih ini. Rodrigo dan Eduardo pun pamit.
'Tidak lebih lama tinggal?" pinta Line memeluk Samantha.
"Maaf sayang," ujar Samantha meminta pengertian.
Edrick juga ikut pulang. Pria itu hanya tersenyum menatap putrinya. Sungguh ia ingin memeluk tubuh sang putri. Edrick juga sangat merindukannya.
"Ayah!" Line memanggil pria itu.
Edrick menoleh, Line pun berlari memeluk ayahnya. Tangisan pun pecah seketika. Edrick cukup menderita ketika ditinggal oleh putrinya begitu saja.
"Maaf nak ... maafkan ayah!" isak Edrick penuh penyesalan.
"Mommy udah tenang di surga Yah. Aku memaafkanmu," ujar Line tulus.
Edrick menciumi wajah putrinya. Setelah itu mereka pun pulang mengunakan pesawat jet pribadi.
Mark merengkuh bahu istrinya. Pria itu pertama kalinya tak bisa berpaling dari tubuh sang istri. Line memang mampu membuatnya mabuk kepayang.
"Ayo sayang, kita juga harus berkemas!" teriak Maria.
"Meong!"
"Hai Mark!" sapa Line dengan senyum indah.
Kucing berbulu orange itu berlari bersama pasangannya. Line menangkap keduanya yang langsung mengelusi wajahnya.
"Mark ... Aku merindukanmu," rengek Line.
"Siapa nama pacarmu ini Mark?" tanya Line.
"Namanya Luly," jawab Maria tersenyum.
Mereka pun masuk villa lagi untuk berkemas. Usai makan siang, barulah mereka pergi dengan yatch mewah mereka.
Line menatap air biru yang membentang. Mereka ada di lautan lepas. Line mengenakan dress putih dengan corak bunga warna-warni.
Rambutnya berkibar diterpa angin. Ia bersandar pada tiang pagar kapal. Beberapa lumba-lumba tampak berenang mengikuti kapal.
Mark menatap wanita yang telah jadi istrinya itu. Sungguh ia sangat kagum luar biasa.
"Kau memang sangat bisa jadi pria Line," gumamnya.
Mark mendekati sang istri dan merengkuh tubuh mungil Line dari belakang. Ia menghirup wangi lime di rambutnya.
"Kenapa kau menggairahkan sekali sayang?" ujarnya memuji lalu memberi kecupan ringan di leher Line yang jenjang.
Wanita itu menikmati sentuhan suaminya. Line sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Mark pada tubuhnya. Kenyamanan langsung ia rasakan ketika Mark memeluknya.
"Bagaimana jika kita bercinta di sini?" ajak Mark.
"Kau gila! Aku tak mau!" tolak Line galak.
__ADS_1
"Oh ... Ayo lah!" ujar pria itu lalu mulai mencumbu sang istri di titik paling sensitif.
"No ... Are you crazy!" tolak Line.
Wanita itu langsung melepaskan pelukan suaminya. Line tentu tak mau berlaku senonoh di atas kapal. Ia takut banyak mata memandang dan memosting tubuh telanjangnya di mana-mana.
"Sayang!' teriak Mark menggoda istrinya.
Line lari menuju dalam yatch. Mark terkekeh, ia pun menyusul istrinya.
Sementara itu, Patricia mengunjungi penjara di mana Angela berada. Gadis itu tadinya menolak.
"Aku membawa seseorang yang pasti kau rindukan!" ujar Patricia meyakinkan Angela.
Angela menatap wanita kurus dengan dress sederhana. Ia membelalak.
"Mommy?"
"Sayang?"
"Mommy!" Angela memeluk ibunya.
Keduanya bertangisan. Patricia tersenyum dengan genangan air mata. Perlahan ia meninggalkan ruang pertemuan. Ia akan menunggu Amela, ibu dari Angela di luar.
Sementara itu Samuel Broks menunduk dengan malu. Pria itu kehilangan segalanya. Bisnisnya hancur. Kepercayaan investor hilang akibat terkuaknya kabar jika dirinya sengaja memasukkan sang istri ke pusat penanganan gangguan kejiwaan.
"Kau benar-benar bukan manusia Sam!' tekan sang ayah kecewa.
"Aku tak mau menolongmu lagi. Sudah cukup malu aku di luar akibat perbuatanmu!" lanjutnya lalu membalikkan tubuh.
Sang ibu Arnetha tak bisa berkata apapun. Wanita tua itu juga nampak kecewa dengan putranya.
"Aku tak pernah mendidikmu sekejam itu!" gelengnya kecewa pada sang putra.
"Kami akan mengambil Angel darimu dan merawat Amela!" tukas sang ibu.
"Kau pergilah, aku tak mau mereka terluka karena melihatmu!" usirnya.
Samuel Broks menunduk, ia kehilangan semuanya. Pria itu pergi dengan seribu luka yang ia ciptakan sendiri.
Angela bisa keluar bersyarat. Marcus benar-benar menekan keluarga Broks ketika ingin mengeluarkan gadis itu.
Pasangan pengantin baru akhirnya tiba. Marcus dan Maria menghadiahkan sebuah mansion mewah untuk tempat tinggal mereka.
"Lahirkan banyak keturunan sayang, Mommy mau punya banyak cucu," pinta Maria memohon.
"Mom!" peringat Marcus.
"Ayo pulang!" ajaknya.
Line tersenyum dan memberi kecupan untuk mertuanya itu. Ia tak bisa menjanjikan punya banyak anak karena ia juga seorang anak tunggal.
Bersambung.
__ADS_1
Akankah Line punya anak sejibun?
next?