WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
TARGET 2


__ADS_3

Mark tetap setia mendampingi kekasihnya. Tentu saja, jiwa Line tak ingin jiwa pria yang bersemayam di tubuhnya itu mengacaukan semua.


"Apa kau tak percaya padaku?" decak Line yang tentu jiwa Mark kesal pada jiwa sang gadis.


"Setelah kau tujuh kali membuat perusahaan bangkrut?" jiwa Line sangat sinis mempertanyakan itu.


"Oh ... Ayolah ... Waktu itu aku memang malas belajar!' sahut Line tentu jiwa Mark membela diri.


Mark berdecak mendengar alasan Line. Keduanya sudah seperti Tom and Jerry. Kucing dan tikus yang sering berseteru dan kadang akur itu.


Samuel dan Simon hanya menggeleng saja. Hari ini Rodrigo telah membawa pengacara dan mengesahkan Roseline Elizabeth Smith menjadi ahli waris setengah dari saham yang dimiliki mendiang ibunya. Pria itu juga mengukuhkan jika saham yang dimiliki ayah gadis itu jatuh pada Line.


"Tuan, apa benar jika tuan Smith memiliki istri simpanan?" tanya berapa wartawan.


"Kami tidak tau, kalaupun ada. Itu tidak sah karena tidak tercatat secara hukum!" jawab Rodrigo tegas.


"Itu tidak benar!" teriak Elena.


Wanita itu datang dengan baju sederhana. Elene memang memposisikan dirinya sebagai korban di sana. Semua kamera tentu mengarah pada wanita itu.


Kilatan blitz menyala tanda Elene jadi pusat perhatian di sana.


"Saya adalah istri sah setelah kematian istri pertama dari Tuan Edrick Smith!" ujarnya.


"Hanya saja semua surat ada di rumah mereka. Tentu saja sudah dihancurkan oleh keluarga itu!" tuduhnya langsung menunjuk.


"Tuan ... Tuan ... Apa benar begitu?" tanya beberapa wartawan.


"Kalau begitu di mana kalian menikah?" tanya Simon.


Elene tentu tak bisa menjawab, semua gereja menolak pria yang masih berstatus suami dari seorang wanita.


"Di gereja Xx di kota B. Kami menikah memang tidak di kota ini!' jawab Elene mengarang.


"Gereja itu tidak ada di kota B!" sahut Line tersenyum sinis.


Keberadaan satu smartpone canggih ada di tangan gadis itu. Ia meminjamnya dari pengawal yang menjaganya.


"Kalian bisa cari di internet!' lanjutnya memberitahu.


"Itu gereja kecil, tentu tak ada di internet!" teriak Elena berani.


"Nona, semua gereja tentu ada datanya. Sekecil apapun itu. Para pendiri tentu melaporkan jika mereka membangun rumah ibadah mereka di semua negara di dunia!" ujar Samuel.


"Aku mengandung anaknya!" teriak Elene berlinang airmata.

__ADS_1


"Aku sekarang mengandung anak dari Tuan Edrick Smith!" lanjutnya terisak.


Semua tentu heboh, Elene menyeringai dalam hati. Ia memang ingin memperlihatkan betapa kejamnya keluarga suaminya itu.


"Aku terusir dari rumah suamiku sendiri, aku seperti sampah ...."


"Kau memang sampah Elene!" teriak Mark.


Line menyenggol pria di sisinya. Mark memerah mukanya. Semua tentu heran dengan sikap dari penerus Kerajaan bisnis itu.


Elene tentu tak mengenal Mark. Tapi ketampanan pria itu menjadi magnet semua wanita termasuk dirinya.


"Bagaimana jika kita tes DNA?" sahut Mark dengan seringai menakutkan.


"Wah ... Benar-benar!" sahut para wartawan setuju.


Elene langsung bermuka pias. Tapi ia punya seribu satu wajah.


"Aku sangat setuju!" ujarnya menantang.


Line menatap pria di depannya. Mark menoleh, ia mengelus pipi kekasihnya.


"Jangan khawatir, semua kebenaran akan terungkap!" ujar pria itu menenangkan Line.


"Jadi kami harus menunggu sampai bayi ini lahir?" tanya Rodrigo.


Elene tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu punya banyak cara untuk melakukan aksinya nanti.


"Aku ingin semua fasilitasku dikembalikan!" pinta wanita itu.


"Jangan bermimpi Elene," sahut Line santai.


"Kita belum tau itu anak siapa kan?" lanjutnya menyeringai.


Gadis itu teringat dengan foto-foto mesum istri muda ayahnya itu.


"Tapi ini anak dari Edrick. Aku berani sumpah!" teriak Elene.


"Maaf jangan buat keributan!" pinta dokter pada orang-orang di depannya.


"Maaf dok!" ujar Rodrigo.


Pria itu tentu membawa keponakannya pergi dari sana. Tak ada yang peduli dengan Elene.


Wanita itu tentu mendatangi wartawan. Ia lalu ditanyai macam-macam.

__ADS_1


"Mereka menolak anak ini. Mereka benar-benar kejam!" ujarnya tentu berbohong.


"Apa karena pernikahan kamu tak disetujui? Jujur aku mencintai Edrick tulus. Aku tak peduli akan hartanya!" lanjutnya terisak.


Tayangan dan headline kekejaman keluarga Smith tentu menjadi trending.


"Penolakan keluarga pada calon ahli waris perusahaan Smith brothers!"


Line tertawa membacanya. Rodrigo sangat marah. Status bayi itu belum diketahui anak dari adiknya atau bukan. Terlebih status pernikahan Edrick dan Elene tak diketahui keabsahannya.


"Cari tau siapa yang menyiarkan berita bohong ini!" perintahnya pada ajudan yang ada di perusahaan pusat.


"Baik Tuan!" sahut di seberang telepon.


Rodrigo menghela nafas gusar. Para pengawal beberapa hari ini mendapat teror entah siapa pengirimnya.


"Kami akan melacaknya Tuan!" ujar Mike.


"Aku serahkan semua keamanan padamu!" ujar Rodrigo.


Mike membungkuk hormat. Timnya telah menerima titik pengirim. Ada satu tempat yang cukup jauh.


"Jika dilihat dari ciri-cirinya pengirim itu adalah seorang laki-laki," jelas Adrico salah satu anak buah Mike.


"Kita beri laporan pada kepolisian jika keamanan dari Nona Smith tengah diteror oleh orang tak dikenal!" perintah Mike.


Semua tentu menargetkan Line untuk dihabisi. Gadis itu adalah pemilik tunggal pewaris omset miliaran dolar.


Line merasa jengah, jiwa Mark sedikit tertekan dengan semuanya.


"Line ... Apa kau berpikir selamanya dalam tubuhku?" tanyanya.


Gadis itu menoleh, ia sedikit tercenung. Perlahan ia pun menggeleng.


"Kita ke situs itu yuk!" ajak Line tiba-tiba.


"Kau serius?" tanya Mark.


Kedua jiwa tentu sudah merasa tak nyaman. Mereka ingin mengakhiri semuanya. Jiwa Line menatap gadis di depannya.


Ia tau jika Mark bukan penyuka hubungan yang lama.


"Baik, besok kita ke sana," ujar Mark lirih.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2