
"Aarrggh!" Erick mengerang kesakitan.
Tangannya mencengkram pisau yang hendak ditusukkan pada Line. Pria itu memang paling dekat dengan Line. Sedang Rahardian langsung memukul tangan Angela. Tapi pisau telah menusuk lengan Erick.
"Berani-beraninya kau ingin menusuk Line!" bentak Erick marah luar biasa.
Pria itu hendak mencengkram leher Angela. Tapi Rahardian telah menarik pria itu dan membawanya.
"Biar kubunuh dia!" teriak Erick.
Angela diamankan, sedang Line dan Mark juga telah dibawa pergi oleh Mike ke tempat lebih aman bersama Paul.
Perbuatan Angela tentu membuat sang ayah harus berhadapan dengan aparat hukum. Marcus tak mau mengampuni pria itu.
"Tuan ... ini hanya masalah sepele. Jangan terlalu dibesar-besarkan," ujar pria itu membujuk Marcus.
"Putrimu hendak membunuh calon menantuku. Kau bilang hanya sepele!" teriak Maria.
"Sayang," peringat Marcus dengan tatapan tajam pada istrinya.
Maria cemberut, ia takut jika suaminya sudah menatapnya seperti itu. Ryn membawa atasannya pergi. Deon bersama atasannya menunggu perintah.
"Kau tau jika berurusan dengan Ortega, Broks?" ujar Marcus dingin.
Samuel mengusap tengkuknya yang tiba-tiba dingin. Pria itu sangat tau apa yang terjadi dengan dirinya.
"Tuan ...."
"Kau tinggal pilih. Perusahaanmu atau putrimu!" potong Marcus lalu berlalu dan menepuk bahu Deon.
Deon membungkuk hormat. Ia sangat tau artinya jika begitu, tak akan ada ampunan bagi siapapun yang mengusik keluarga atasannya.
"Saran saya Tuan Broks. Kau pilihlah perusahaanmu. Kau akan menyelamatkan banyak orang dibanding kau memilih putrimu!" ujar Deon datar.
Samuel menelan saliva kasar. Deon lebih kejam dari tuannya. Pria itu telah diberi mandat penuh untuk membumi ratakan siapapun jika Marcus telah berkehendak.
Samuel mendatangi kantor kepolisian. Angela menangis melihat ayahnya.
"Daddy keluarkan aku dari sini Daddy!" pinta gadis itu memohon.
Samuel hanya menatap anak gadisnya pilu. Ia sangat menyayangi putrinya. Kesalahan terbesar adalah memasukkan sang istri ke bangsal sakit jiwa.
Pria itu hanya ingin anak. Setelah Angela lahir, istrinya yang cantik dan baik hati ia masukkan ke rumah sakit dengan tuduhan berhalusinasi tinggi.
Pria itu mau menikah lagi karena perusahaan sedang mengalami krisis. Ia memang tak pernah mau menyentuh istrinya karena baginya cukup Angela putrinya.
"Nak ... Maaf sayang," ujarnya sedih dalam hati.
"Daddy akan berusaha dulu ya. Kamu baik-baik di sini. Daddy yakin jika kamu pasti bebas kalau kamu baik," pinta pria itu.
Walau bagaimanapun, Angela adalah darah dagingnya. Ia membayar uang cukup banyak untuk menempatkan putrinya di tempat yang layak. Marcus mengetahui itu.
__ADS_1
"Dad," peringat Mark.
Pria itu memang jadi lebih perasa dan lembut. Tentu saja, karena jiwa Line yang ada di sana.
"Baik lah nak. Daddy tidak akan menekannya," ujar Marcus menenangkan putranya.
Line yang berjiwa Mark hanya diam mematung. Erick adalah pria yang baru ia kenal tapi Erick mau melindungi calon istrinya begitu rupa.
"Sayang ... Kau tak apa?" tanya Maria cemas.
"Erick?"
"Erick tak kenapa-kenapa, walau lukanya cukup serius. Tapi pria itu sangat kuat," ujar Marcus menenangkan jiwa Line.
Kini Mark dan Line berada di satu ruangan. Marcus membawa istrinya pergi. Tadinya Maria menolak.
"percayakan pada putramu sayang!"
"Tapi ini semua karena ulah playboy putramu. Andai dia tak mendekati Angela dan memberi harapan pada gadis itu!" sungut Maria kesal pada putranya.
Mark menunduk, tentu ia merasa bersalah. Marcus berhasil membawa istrinya. Mark mendekati Line.
"Kau tak apa-apa?" tanya Mark tentu jiwa Line yang khawatir.
"Menurutmu?" tanya Line sebal.
"Hei ... Kau yang bermain api! Kenapa kau salahkan aku?" sungut Mark tentu jiwa Line tak mau disalahkan.
Line mendekat pada Mark. Tentu jiwa pria itu yang menuntunnya.
"Kita nikah cepat yuk!" ajaknya.
"Eh ... Kenapa?" tanya Mark menyindir, tentu saja jiwa Line yang sinis mengatakan itu.
"Aku lelah jika terus bermain. Takutnya ya ada wanita gila tiba-tiba datang dan mengaku hamil anakku," lanjut Line lemah.
"Ah ... Apa kau selama ini bermain tanpa pengaman?" tanya Mark dengan mata besar.
"Ck ... Mana enak!" jawab Line tentu jiwa Mark yang berkata seperti itu.
"Tapi aku tak pernah memasuki mereka. Karena entah kenapa benda itu tak mau masuk sembarangan tempat," ujarnya menunjuk sesuatu di sela paha Mark.
"Ck ... Kadang aku bingung. Kau suka berdiri ketika melihat wanita seksi?" keluh Mark tentu jiwa Line yang seperti itu.
"Aku pria normal sayang," jawab Line.
"Tuan, Nona?"
Keduanya terkejut, mereka tak menyadari jika Rahardian masuk.
"Kenapa kau tak mengetuk pintu?" tanya Mark tentu kesal sendiri.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya sudah mengetuknya berkali-kali, saya punya info penting ...," jawab Rahardian sambil menatap dua manusia itu dengan penuh selidik.
Tatapan itu membuat keduanya jujur. Rahardian menyimak apa yang diceritakan kliennya itu.
"Jadi karena kalian bersumpah di situs kuno itu?" tanya Rahardian memastikan.
"Ya ... Kami bertukar jiwa. Tapi kadang kami merasa jika jiwa kami suka kembali ke tempatnya di momen-momen tertentu," jawab Mark tentu jiwa Line yang menceritakannya.
Rahardian mengangguk tanda mengerti. Ia pun bercerita jika Lock palsu telah meninggal dunia.
"Apa kau yakin?" tanya Line.
"Benar Nona ... Eum ah ya nona!" angguk Rahardian membenarkan.
"Lock palsu alias Joe tewas akibat penyiksaan berlebihan. Dia juga bertukar jiwa dengan Kirk. Saya tak tau pasti bagaimana ia membuat perjanjian itu," jelas Rahardian.
"Apa nyawa Line masih berbahaya?" tanya Mark.
"Saya tidak tau. Tapi para pengawal akan terus melindungi anda selama lima tahun ke depan," jawab Rahardian.
"Jadi kau mau pulang?" tanya Mark lagi.
"Benar Tuan. Tugas saya selesai untuk mengamankan Nona Line dari Lock yang tertukar jiwanya," jawab Rahardian membenarkan pertanyaan Mark.
Mark dan Line mengangguk. Rahardian menatap dua insan itu bergantian.
"Saya rasa kalian harus kembali ke situs itu dan melihat bagaimana caranya agar jiwa kalian kembali seperti semula," ujarnya memberi saran.
Mark dan Line mengangguk. Rahardian pamit mundur. Ia sudah merindukan semua perusuh yang ada di mansion besarnya.
"Kak!" Rain menjemput kakak sepupunya dengan senyum lebar.
Rahardian merangkul Rain yang begitu mirip Rion, kakek buyut bayi mereka.
"Nanti kita nyekar ke makam Uyut baby ya," ajak pria itu dan diberi anggukan antusias Rain.
Sementara Mark menatap Line. Jiwa gadis itu tentu sangat tahu jika Mark sudah bosan dengan berada di dalam tubuhnya.
"Apa kita ke sana?" tanyanya lirih.
Line menoleh, ia mendekati pria di depannya. Dengan berani gadis itu mengalungkan lengan ke leher pria tampan di depannya.
"Bagaimana kalau setelah menikah?" ujarnya lalu mencium bibir Mark.
Keduanya pun berciuman dengan sangat panas. Sedang di tempat lain. Samuel menatap secarik kertas yang ada di mejanya.
"Kita bercerai!" ujar sang istri lalu pergi begitu saja.
Bersambung.
Next?
__ADS_1