WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
PERSIAPAN PERTUNANGAN


__ADS_3

Mark selalu membawa kemanapun Line. Jiwa Mark yang suka berpetualang dari gadis satu ke gadis lain sedikit jengah.


"Jangan mengekang ku!" sentaknya.


Mark menatap gadis itu. Jiwa Line sedih, ia sangat tau jika Mark tidak menyukai ikatan. Tapi jiwanya ingin menyelamatkan tubuh yang ditumpangi oleh jiwa Mark.


"Kau harus menurut!" tekannya kesal.


"Ketika jiwa kita kembali. Aku ingin segera bercerai!" sungut Line menatap Mark dengan berani.


Mark membalas tatapan gadis itu datar. Jiwa Line tentu tak ingin bersama pria berengsek itu.


"Ya, aku juga tak mau berlama-lama denganmu! Aku begini agar kesucianku tak hilang gara-gara kecerobohanmu!" sungut pria itu marah.


"Jangan sembarangan. Aku tak memilih sembarang pria ...."


"Ck, kau mendekati Tuan Juan Manuel, dia memang tampan. Tapi dia punya penyakit parafilia!" sahut Mark dan membuat Line diam.


"Aku tak tau kalau dia menikahi mobilnya sendiri," sahut Line enteng.


"Ck bukan cuma mobil, tapi juga boneka ...."


Mark tak melanjutkan perkataannya. Info buruk tentang pria bernama Juan Manuel memang telah beredar. Pengoleksi mobil-mobil mewah itu memang memiliki kelainan hubungan intim yang berbeda dari orang normal.


Pria itu pernah mendandani mobil Porsche warna ungu dengan balutan kain putih dan juga layer berikut mahkota bunga. Sedang pria itu memakai tuxedo berwarna hitam tengah menyender dan membelai spion mobilnya dengan penuh kasih sayang.


"Soal mencari pasangan kau memang bodoh ... Mark," bisik Mark pada Line.


"Aku tidak ...."


"Kau lupa Angela Broks," potong Mark.


"Beruntung, aku bisa menyelidiki jauh sepak terjangnya. Makanya Tuan Samuel tak bisa berkutik ketika aku melempar bukti itu!" lanjutnya.


Jiwa Mark tentu bungkam. Ia memang hanya memikirkan kesenangan semata. Selama wanita itu bersih dan memuaskannya. Ia tak keberatan sama sekali.


"Ada apa ini?" Marcus mendekati mereka berdua.


"Pa ... Masa Rose ingin ... bermmppphhhh!"


Line membekap mulut Mark. Gadis itu tentu tak mau jika ayah pria itu mengetahui keinginannya bercerai. Marcus anti pati terhadap perceraian. Ia akan marah besar pada Line jika ingin bercerai.


"Tidak ada Dad," ujar gadis itu.


"Kalau tidak ada, kenapa kau membekap mulut putraku seperti itu?" tanya Marcus.


Line mendengkus kesal. Ia melepas bekapannya. Mark tersenyum sinis pada gadis di depannya yang lebih tepat adalah meledek jiwa yang ada di dalamnya.


"Aku dituduh tidur dengan pria lain Dad," ujar Line kesal.


"Tidak, aku hanya takut kau tidur sembarangan," ledek Mark.

__ADS_1


"Sudah ... Jangan banyak berdebat. Kalian harus mesra sepanjang tiga minggu ini!' perintah Marcus.


"Dad!" keluh Line.


"Kalau tidak aku akan menghentikan bisnis kalian!" ancam Marcus tak main-main.


Line dan Mark diam. Keduanya sangat tau jika Marcus bisa membekukan perusahaan kecil mau pun besar. Pria itu seperti memiliki tombol khusus dan itu akan mematikan pebisnis manapun.


"Cepat pergi bawa tunanganmu berbelanja gaun dan perhiasan!" perintah Marcus tak bisa dibantah.


Line menghela nafas panjang. Jiwa Mark memang harus menurut, jiwa Line hanya santai karena tujuannya satu. Menyelamatkan kesuciannya.


"Lyn, Deon, Paul kalian bisa pulang jika sudah selesai!" perintah Marcus pada dua asisten itu.


Lyn, Paul dan Deon membungkuk hormat. Tiga manusia itu berjalan setelah Mark dan Line pergi.


Sedang di tempat kejauhan. Seseorang pria tengah mengamati situasi. Pria itu memakai teropong khusus yang bisa melihat dari jauh.


"Oh, apa sekarang dia ada di sana?" tanyanya.


Line yang dijaga oleh Mike. Pengawal terlatih yang sudah terasah kepekaannya. Pria itu menoleh tepat pada teropong yang membidik kliennya.


Tatapan tajam Mike membuat pria bercodet buru-buru melepas teropongnya.


Deg! Deg! Deg! Jantungnya seakan mau copot melihat tatapan super tajam itu.


"Apa tadi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Dia tak melihatku kan?" tanyanya lagi.


Sementara di lokasi lain. Mike merapatkan headset yang ada di telinganya. Pria itu melaporkan jika kliennya ada yang membidik.


"Jiwa Nona kembali dalam bahaya!' lapor Mike pada atasannya.


"Target terkunci. Orang itu berjenis kelamin laki-laki, berada di kisaran satu kilometer dari lokasi!" ujar yang ada di seberang sana.


Di sebuah gedung khusus yang tersembunyi letaknya. Banyak pria tengah berlatih fisik dan mental. Latihan yang mampu membuat jiwa melayang.


"Kita kunci pria yang hendak mencelakai Nona Smith!" ujar pria berkulit sawo matang itu.


"Tuan Black Dougher Young, pria itu memiliki kembaran yang ada di tahanan Alaska!' lapor pria yang berhadapan dengan komputer.


Rahardian Putra Black Dougher Young, keturunan ke lima dari Virgou Black Dougher Young, cicit dari Affhan Black Dougher Young.


Pria beriris hitam pekat itu menatap layar dan mengangguk.


"Tunggu aksinya. Minta kerjasama dengan Nona Smith untuk segera menangkap pelaku!" perintah pria itu.


"Baik Ketua!" seru anak buahnya.


Rahardian menatap warna yang bergerak. Sosok Line dan Mark yang terkunci. Rahardian memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa aura mereka seperti tertukar?" tanyanya dalam hati.


Sementara di lokasi Line dan Mark. Mereka kini ada di sebuah butik mewah. Line layaknya ratu dilayani para pramuniaga.


"Nona, aku ingin lihat ini?" ujar salah satu pelanggan yang juga ada di sana.


Tapi, nampaknya semua pramuniaga tak menggubris wanita itu. Mereka berebut mencari perhatian Line.


Mark yang jiwanya adalah Line sangat tidak menyukai hal itu. Tentu ia menegur semua pramuniaga.


"Hei ... Apa pembeli di butik ini hanya tunanganku saja?"


"Ah ... Apa tuan?" tanya salah satu pramuniaga sok perhatian.


"Nona ini juga pelanggan bukan?" ujar Mark lalu menunjuk wanita yang tengah memegang gaun.


"Nona gaun itu harganya mahal ... Jangan pegang sembarangan!' hardik pramuniaga itu.


Jiwa Line sangat membenci perkataan itu. Berbeda dengan jiwa Mark. Pria itu tentu sangat arogan dan memang tak peduli apapun.


"Jika memang dia tak mampu. Nona ini tidak mungkin masuk ke butik ini!' senggrang Mark.


"Tuan, anda tidak tau orang-orang miskin ... Mereka kadang berlaga hanya ingin mencoba gaun mahal secara percuma ...."


"Berarti itu termasuk dirimu!" potong Line yang duduk layaknya ratu dikelilingi para datang.


Line berdiri dan membersihkan dressnya. Ia melingkarkan lengannya di lengan Mark.


"Kita pergi dari sini sayang. Aku tidak suka pelayan sombong seperti dia!" ajak Line sambil menunjuk pramuniaga tadi.


"Nona, sebaiknya anda juga pindah dan cari butik lain!" suruh Mark pada wanita yang masih setia memegang gaun.


"Ah ... Baik lah!" ujarnya lalu mengembalikan gaun itu pada tempatnya.


"Kau tak boleh pergi. Kau sudah memegangnya, pasti gaun itu sudah jatuh nilainya!" hardik pelayan itu tak ingin bonus hilang percuma.


"Tapi rekan-rekanmu juga memegangi gaun lain dan pasti sudah jatuh harganya karena kalian miskin!" sahut Line pedas.


Pramuniaga itu terdiam, Mark mengambil ponsel dari saku celananya. Pria itu menelepon Paul.


"Paul, buat ratting buruk untuk Victory's Butique dan jatuhkan pasarnya hingga memecat semua karyawannya!' perintah pria itu.


"Tuan, jangan bawa-bawa kami. Biar dia saja yang dipecat!' pinta beberapa pramuniaga lainnya.


"Kalian tak berperikemanusiaan!" teriak pramuniaga sombong itu.


Mark membawa kekasihnya pergi, begitu juga wanita tadi.


Bersambung.


Lock ... Jangan ngadi-ngadi sama pengawal dari SavedLived ya apalagi ditangani langsung sama keturunan Black Dougher Young!

__ADS_1


Next?


__ADS_2