
Line berhasil jadi karyawan magang selama tiga bulan. Gadis itu menjadi sekretaris pribadi ayahnya.
"Tuan, ini sekretaris baru anda," ujar George memperkenalkan Line.
Line menjabat tangan Edrick layaknya profesional pekerja.
"Saya sudah mempelajari semua job desk anda Tuan Smith!' ujar Line begitu percaya diri.
Jiwa Mark mengandalkan kegeniusan otak gadis itu. Walau jiwa Mark juga genius, tetapi memang gaya pria itu yang tak pernah mau mempersulit diri.
"Baiklah, terimakasih George!" ujar Smith pada managernya.
Begitu George keluar, Edrick memeluk putrinya. Ia memang sangat merindukan anak perempuannya itu.
"Kau akhirnya kembali Nak," Line melepas pelukan ayahnya dengan sedikit kasar.
"Nak?"
"Aku datang hanya untuk bekerja dan membereskan masalah yang kau ciptakan ... Tuan!" jelas Line menekan kalimat terakhir.
"Nak, jangan seperti ini!" pinta Edrick memohon.
"Tuan, seperti apa perkataanku terakhir sebelum pergi dari rumahmu!" tandas gadis itu tegas.
"Aku membongkar perselingkuhanmu dan juga kebusukan istri ilegalmu itu!" lanjutnya tenang.
"Aku menikahi Elena setelah ibumu meninggal Rose!'
"Oh ayo lah!' decak Line tak percaya.
"Aku bukan anak kecil yang gampang kau bodohi Tuan Smith!' lanjutnya menatap datar ayah biologisnya itu.
"Nak ... Aku ayahmu!" seru Edrick mengingatkan.
"Hanya karena kau menghamili ibuku!" sahut Line melotot.
"Jaga mulutmu Rose!"
Edrick hendak melayangkan tangan ingin menampar anak gadisnya. Tapi urung dilakukan.
"Ayo tampar aku ... tampar!" bentak Line dengan genangan air di pelupuk matanya.
Line menentang ayahnya, gadis itu mendekat dan menyerahkan pipinya.
"Tampar aku!" bentaknya lagi.
"Aku pastikan kau akan dicopot dari jabatan direksi umum. Aku akan mengatakan pada keluarga Smith!" lanjutnya mengancam.
"Paman Rodrigo belum mengetahui semua ini kan?" Line tersenyum meledek ayahnya.
Line mendorong keras dada pria di depannya hingga terjajar dan jatuh terduduk di sofa. Tatapan sang gadis begitu tajam pada pria itu.
"Kau lupa jika ibuku memiliki saham 45% di sini!" lanjut Line.
Gadis itu menatap deskjob ayahnya. Ia tersenyum sinis. Ia akan memancing keluarga besar Smith datang dan menghukum pria yang kini terduduk dengan kepala tertunduk.
"Kau dibodohi oleh dirimu sendiri Tuan Smith!" hina Line lalu mengangkat telepon yang ada di atas meja kerja ayahnya.
"Ya?"
"Tuan, anda sudah ditunggu oleh pihak perusahaan xxx!" lapor kepala divisi.
"Kami akan ke sana!"
Line menutup telepon dan mendatangi pria yang masih terpuruk dengan perkataannya.
__ADS_1
"Tuan, ada pertemuan dengan perusahaan xxx!" ujar Line begitu profesional.
Edrick berdiri dengan lemah, kepercayaan dirinya sebentar lagi hancur. Ia sangat yakin dengan perkataan putrinya.
Selama satu tahun ia menyembunyikan pernikahan keduanya di depan keluarga besar. Pria itu memang dibutakan oleh istri mudanya.
Elena mampu membuatnya jadi lelaki sejati. Pria itu menjadi sangat gagah jika berada satu selimut dengan Elena.
"Mari Tuan, laporannya sudah saya bawa!" ujar Line membuyarkan lamunan pria itu.
Sementara di tempat lain, Mark yang baru saja keluar dari jebakan Alyssa. Begitu tenang dan lega. Jiwa Line. Bersyukur tak baik pada gadis yang selalu berusaha dekat dengannya.
"Cis ... Perempuan itu!" dengkus Mark kesal.
Pria itu menyetir sendiri ke perusahaan baru miliknya. Ketika sampai ia dikejutkan dengan Erick yang tengah duduk di kubikel kantor bersama karyawan lainnya.
"Erick?" pria berkulit hitam itu menoleh.
"Tuan!"
Erick hendak berdiri, tapi Mark menahan bahu pria manis itu.
"Jangan khawatir Erick!" ujarnya lalu menepuk-nepuk bahu Erick.
"Apa Line ... Maksud saya Nona Robertson ada di sini tuan?" tanya Erick.
"Dia bekerja di perusahaan lain," jawab Mark terkekeh.
"Baiklah, kau bekerja lah secara serius. Aku jaminkan engkau akan jadi pekerja tetap. Kalau kau bisa, aku akan minta Paul merekomendasikan dirimu untuk jadi asisten dibawah Paul!" janji Mark pada pria itu.
Erick tersenyum bahagia. Ia bersyukur menerima saran dari Line. Gadis paling pintar di kampusnya itu.
"Thanks Line ... Kamu buat aku sadar jika selama ini aku bodoh," gumam Erick.
Mark masuk ke ruangan kerjanya. Paul sedang berkutat dengan setumpuk berkas.
"Maaf Paul, baiklah aku membantumu!" ujar Mark terkekeh.
Akhirnya dua pria tampan itu berkutat dengan pekerjaan.
Sementara itu, Line begitu memukau perusahaan yang ingin melakukan kerjasama.
"Jadi kami sepakat menandatangani kerjasama ini!' ujar direktur perusahaan.
Edrick tentu senang, berkat gemilang sang putri. Perusahaan terselamatkan.
Ketika mereka berada di ruang kerja. Rupanya Elena datang berkunjung, ia membawa makan siang untuk suaminya.
"Sayang ...."
Senyum merekah jadi muka datar saat Elena melihat Line ada di belakang pria itu.
"Rose?"
"Lihat sayang, putri kita kembali," ujar Edrick tersenyum bahagia.
"Ah ... Iya, kami telah lama menantimu sayang!' ujar Elena tentu pura-pura.
Wanita itu mengumpat setengah mati dalam hati. Rupanya pembunuhan bayaran belum berhasil membinasakan anak perempuan suaminya itu.
'Sial!' umpatnya dalam hati.
Line tak peduli, ia memilih memeriksa berkas yang ada di mejanya.
"Nak, makan bersama ayah!' ajak Edrick.
__ADS_1
"Tidak!" tolak Line langsung.
Mark sedikit berdecak. Respon tubuhnya itu memang sangat berlebihan terhadap orang yang tidak ia sukai.
"Nak,"
Line berdiri ia melihat makanan yang disajikan untuk ayahnya.
"Sejak kapan kau makan ikan? Bukankah kau alergi dengan ikan?" tanyanya.
Edrick menatap masakan istrinya. Pria itu tak pernah menolak apapun yang dimasakkan untuknya.
"Dia sudah lama sembuh!" sahut Elena cepat.
"Iya kan sayang?"
Edrick mengangguk lemah, ia memang tak mau menyakiti hati istrinya itu. Line berdecak.
"Kalau begitu makanlah. Aku ingin tau!" sahutnya kemudian lalu melipat tangannya di dada.
Edrick hendak mengambil makanan itu. Tentu drama Elena akan terbongkar jika suaminya memakan masakannya.
"Sudah tidak usah!" teriaknya lalu membuang semua makanan.
"Kau memang selalu cari perkara Line!" bentaknya lalu menangis.
"Loh, bukan kah katamu dia sudah sembuh dari alerginya?" tanya Line merasa tak bersalah sama sekali.
"Tapi perkataanmu membuatmu seakan aku meracuni ayahmu!" teriak Elena.
Wanita itu hendak pergi, tapi tangan Line menarik tangan wanita itu dan menyeretnya ke sofa.
"Duduk!" perintahnya dengan tatapan tajam
"Makan itu ... Ayah!" perintahnya.
Edrick menyuap makanan yang ada di sendok. Hanya butuh satu menit. Pria itu langsung tersedak.
"Uhuk!"
"Sayang ... Ini akibatnya kau memaksanya!" teriak Elena tentu cuci tangan.
"Oh ... Kau melempar kesalahanmu padaku?" desis Line tak terima.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Nafas Edrick serasa tercekat, ia memang alergi makanan ikan. Pria itu selalu memakan obat penetral alergi agar bisa memakan makanan istrinya itu.
"Sayang!" teriak Elena ketakutan.
Wanita itu tentu menangis. Ia berusaha menolong suaminya.
Line dengan santai lalu berjalan ke meja sang ayah. Mengambil obat anti alergi. Lalu, gadis itu memberikan obat itu pada sang ayah.
"Hah!"
Edrick membuka dasinya. Elena bercucuran air mata. Ia meminta maaf karena selama ini memaksa pria itu memakan masakannya.
"Ini bukan salahmu sayang," ujar Edrick lembut.
"Cis ... Kau berbaik hati pada pembunuhmu," ledek Line.
"Bodoh!" lanjutnya mengumpat.
bersambung.
__ADS_1
Next?