
Line mengendarai mobil mewah baru yng dibelikan Mark, kekasihnya. Tadinya jiwa Lime yang ada di dalam tubuh pria itu sedikit tak rela.
“Ayo ... kau belikan aku mobil baru untuk mendatangi perusahaan ayahmu!” pinta Line yang tentunya jiwa Mark yang menginginkan itu.
“Baiklah,” ujar Mark yang sedikit keberatan.
Akhirnya mobil maybac terbaru warna silver kini berada di tangan Line. Mendengar calon menantunya memilih bekerja di tempat yang jauh. Maria Frankfurt membelikan satu unit penthouse di dekat perusahaan.
“Mom ... tidak perlu seperti itu. Line bisa sewa rumah biasa,” tolak Mark mencegah ibu pria yang ia tempati tubuhnya membelikan hunian mewah itu.
“Kenapa kau pelit sekali!” sinis Maria yang diangguki Line dan tentunya jiwa Mark yang menginginkannya.
“Mom ...,” keluh Mark, jiwa Line pasrah.
“Sayang, aku sudah membelikannya di unit 3094. view nya paling bagus di sana. Kau bisa melihat hamparan pantai pink dari balkon mu,” ujar Maria tersenyum.
“Thanks Mom, you’re the best!” ujar Line menyanjung Maria.
“How sweet you are darling,” Maria mengusap pipi Line yang lembut.
“Mom ... kapan Mark kau kembalikan?” tanya Mark.
“Memangnya kau bisa mengurusnya?” tanya Maria menyindir.
Wanita itu tentu tidak tau jika dalam tubuh putranya adalah jiwa sang gadis yang baru ia manjakan. Maria sangat paham ketidak pedulian putranya.
“Kau akan membuat Mark cepat mati jika kau yang mengurusnya,” lanjutnya tenang. “Lagi pula Mark sudah senang dan nyaman bersama kami.”
Mark menghela nafas panjang, jiwa Line yang ada dalam diri pria itu merasa kesepian tanpa dengkuran khas anabul kesayangannya itu.
“Lihat dia, sekarang dia sedang menjalin kasih dengan pasangan barunya,” ujar MAria memperlihatkan kucing orange bersama anabul cantik lainnya.
Mark dan Line melihat video pendek itu, tampak Mark berlarian bermain bersama teman barunya. Jiwa Line akhirnya pasrah jika Mark telah bahagia di tempat barunya.
“Aku merindukannya, tolong jaga untukku ya Mom,” ujar Mark tiba-tiba.
Maria mengernyit, Line menyikut lengan pria itu. Jiwa Line kelepasan bicara dan membuat respon pada tubuhnya mengatakan apa yang diucapkan jiwanya.
“Kau mana pernah sedekat ini dengan binatang Mark?” tanya Maria heran.
“Dia milik pacarku, tentu aku tak mau Line kecewa padaku,” sahut Mark, jiwa Line mendapat jawaban itu cepat.
__ADS_1
“Maaf Line, aku memutuskan sendiri perkara Mark tanpa memberitahumu,” ujar Maria menyesal.
“It’s oke Mom. Mark juga sepertinya sudah bahagia denganmu,” ujar Line santai.
Jiwa Mark berdecak pelan, ia ingin mengganti nama kucing orange itu, ia sedikit risih jika namanya sama dengan binatang berkaki empat itu.
Paul datang, ia sudah pulang dari rumah sakit kemarin sore ketika Line dan Mark menjenguknya. Line meminta maaf jika meninggalkannya terlalu lama di luar.
“Ayo kita keluar bersama!” ajak Maria.
Mereka pun keluar dari unit kondominium itu, kali ini mereka naik lift karena mobil Mark ada di basement. Setelah sampai semua naik kendaraan masing-masing.
Perjalanan dua jam Line menyetir sendiri mobil baru itu. Ia akan pergi ke gedung paling tinggi di kota kecil itu.
Gadis itu turun di lobi, seorang petugas Valet membuka pintu mobil. Line menyerahkan kunci pada petugas dan mendatangi resepsionis.
“Selamat datang Nona, ada yang bisa kami bantu?’ tanya salah satu resepsionis ramah.
Ada dua gadis menunggu di meja bertulis resepsionis. Salah satu pegawai tengah menebalkan lipstiknya hingga bibir itu terlihat merah menantang.
“Saya atas nama Roseline Elizabeth Robertson ingin mengambil kunci di unit 3096,” ujar Line menjelaskan.
“Jangan bicara sembarangan Nona. Unit itu paling mahal di sini. Dan tempat itu sudah dibeli secara tunai. Pemiliknya akan datang sebentar lagi!” sanggah resepsionis yang berdandan tadi.
“Sudah jangan banyak bermimpi Nona. Aku yakin pembeli unit paling mahal ini adalah seorang pebisnis tampan .....”
“Siapa bilang jika yang membeli unit itu adalah pebisnis tampan?” potong rekan semejanya.
Gadis itu melotot pada temannya, ia memang tidak tau untuk siapa unit termahal itu dibeli. Tapi ia sangat yakin jika pembelinya adalah seorang pria kaya raya. Makanya ia berdandan habis-habisan sekarang.
“Tadi kau bilang jika pembelinya ....”
“Aku tidak mengatakan apa-apa Dolores. Aku hanya mengatakan jika unit termahal akhirnya laku juga dan datanya sudah dikirim padaku setengah jam yang lalu!” potong gadis itu.
“Maaf atas kelancangan rekan saya Nona. Apa yang membeli adalah Nyonya Maria Frankfurt?” tanyanya pada Line.
“Benar, ini tanda bukti jika unit itu atas nama saya!’ jawab Line memperlihatkan bukti transfer dan juga serah terima kunci dengan password dan hanya Line yang tau password itu.
“Baik silahkan tekan sandinya di sini, nona!” ujar gadis resepsionis itu ramah.
Dolores berdoa begitu berharap jika sandi yang dipakai salah. Ia ingin menertawakan gadis dan mengusirnya keluar gedung tempatnya bekerja.
__ADS_1
“Klik!” sebuah bunyi yang menggagalkan doa Dolores.
“Selamat datang Nona. Ini kunci anda, bell boy kami akan mengantar anda!” ujar sang resepsionis ramah.
Seorang pemuda kurus datang dan membawa koper milik Line. Mereka masuk lift khusus yang memang diperuntukkan orang-orang kaya.
Cheryl menatap rekannya yang murung, ia menggeleng kecewa pada temannya itu. Dolores tentu malu setengah mati.
“Apa!” sentak nya.
“Andai Mr. Gilbert tau perlakuanmu terhadap customer seperti ini?” geleng Cheryl.
“Just shut up your mouth. Jika Tuan Gilbert tau. Kau memang seorang pengadu!” sungut Dolores,
“Kau lupa ada kamera pengintai yang bisa merekam perlakuan dan perkataanmu tadi Dolores!” ujar Cheryl menyayangkan temannya yang tak berpikir panjang itu.
Tak butuh waktu lama, Line kembali turun dan telah berganti pakaian. Kali ini gadis itu mengenakan setelan formal. Ia harus melapor pada pihak HRD dengan membawa berkas dari kampus.
“Aku yakin dia gadis simpanan!” tuduh Dolores melihat kepergian gadis yang menurutnya tak layak menempati unit paling mahal di sana.
“Jaga mulutmu Dolores!” sentak Cheryl tak suka.
“Jangan kau membuat dirimu gelandangan dan susah mencari pekerjaan jika kau terus begini!” lanjutnya memperingati.
Mobil mewah berhenti di depan lobi, Line masuk setelah petugas valet membukakan pintu dalam kondisi mesin menyala.
“Ini untukmu,” ujar Line memberi tips sepuluh dolar untuk petugas muda itu.
“Terima kasih Nona!” ujar juru valet senang.
Kendaraan mewah itu membelah jalan besar. Sudah satu tahun jiwa tubuh Line meninggalkan kota ini. Tak banyak yang berubah, hanya ada sedikit pembangunan jalan di beberapa ruas.
“Sepertinya kota ini akan berkembang,” gumamnya pada diri sendiri.
Dua pulu menit ia sampai di sebuah gedung bertingkat. Kendaraan mewah itu terparkir tak jauh dari teras lobi. Line membawa berkas di tangannya.
Kembali berhadapan dengan dua resepsionis yang tengah bersolek, Line menghela nafas panjang. Jiwa Mark tertawa melihat betapa kampungannya para resepsionis mengejar mangsanya.
“Murahan!” hinanya pelan.
Bersambung.
__ADS_1
Next?