
Line hendak mengambil baju mandinya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Matilda?" gadis itu memiringkan kepalanya.
"Halo sayang ... apa kau tak datang hari ini? Aku sedikit kerepotan!" ujar suara wanita bernada bass di seberang telepon.
"Baiklah!" jawab Line yang lagi-lagi mengejutkan jiwa Mark.
Gadis itu mandi dan berpakaian dress selutut warna coklat tanah dengan lengan sepotong.
"Mark ... aku pergi dulu ya!" ujarnya mengelus kucing orange.
"Meong!" kucing itu pun mengijinkan pemiliknya pergi.
Gadis itu melihat makanan dan tempat pasir sudah siap, ia tak perlu khawatir lagi.
Setelah memesan taksi online gadis itu berangkat ke sebuah kios yang berjarak 2km dari tempatnya.
"Line ... kau menggunakan taksi?" Matilda menatap aneh kedatangan gadis pekerjanya.
"Kau cantik sekali!" pujinya sambil menutup mulut dengan dua tangannya.
"Ayo, Matilda ... jangan buat pelangganmu menunggu lama," ajak Line tersenyum.
Jiwa Mark hanya mengikuti otak yang memerintah tubuh sang gadis. Jiwa pria itu tak mampu menguasai otak Line yang memang terkenal lurus itu.
Sementara di tempat lain. Jiwa Line yang berada di tubuh Mark mampu menguasai otak dari pria itu.
"Kau sebenernya pintar Mark. Tapi kau terlalu manja," keluh Line.
Jiwa sang gadis menatap satu-satunya bisnis Mark yang sukses. Sebuah klub malam yang di dalamnya ada tempat perjudian. Penari-penari telanjang dan penyediaan segala macam kenikmatan dunia.
"Jadi tempat ini satu-satunya tempat dilegalkan penjualan bir dengan kadar alkohol tinggi?"
Mark membaca "Legal Drunk!". Paul menatap atasannya tak percaya.
"Jangan bilang anda tidak tau jika itu hanya tulisan lelucon Tuan," ujarny sedikit berteriak karena suasana memang sangat ramai.
Mark berdecak, jiwa Line yang belum terkontaminasi hal-hal buruk kecuali pengkhianatan memilih diam.
Ia menatap jam limited edition di lengan kirinya. Jiwa Line mengira jika tubuhnya tengah bekerja di tempat kios kue.
"Kau urus semuanya Paul. Aku ingin pergi ke suatu tempat!" ujar Mark.
Tubuh yang tingginya sama dengan Mark tiba-tiba menghalangi jalan pria itu.
"Paul ...."
"Maaf Tuan, nyonya meminta saya untuk tak meninggalkan anda!" ujar pria itu menjelaskan.
"Kau bisa berbohong seperti biasa Paul!" ujar Mark kesal.
"Ponsel saya diberi chip pelacak dan harus mengikuti chip yang ada di ponsel anda Tuan!" jawab lemah Paul menurunkan bahu Mark.
__ADS_1
"Mana ponselmu?" pinta Mark.
Pria itu masuk ke ruangan kerjanya diikuti Paul. Angela tak lagi bisa masuk ke bangunan itu. Utangnya melebihi satu juta dolar. Ayahnya Richard Broks pasti menahan putrinya berkeliaran di jalan lagi.
"Tuan?" Paul tak mengerti maksud atasannya itu.
"Cepat ... sini ponselmu!" pinta Mark lagi.
Jiwa Line yang kuat menggunakan otak Mark. Jiwa gadis itu sama genius dengan otak Line yang digunakan Mark sekarang.
Paul menyerahkan ponselnya. Mark juga mengeluarkan benda pipih pintarnya itu.
"Kita tinggal membuka chip dan ... menjadikannya satu!" ujar Mark dengan seringai pintarnya.
Paul menganga, ia tak pernah menghadapi tuan mudanya sebegini cerdas. Walau ia mengakui jika atasannya itu sangat cerdas walau tak pernah mau menggunakan kepintarannya itu.
"Selesai!" seru Mark tersenyum puas.
"Ini ponselmu Paul!" Mark menggeser benda pipih milik bawahannya.
"Chipku itu berada bersamamu. Jadi Mommy akan mengira aku bersamamu Paul!' jelas Mark tersenyum.
Paul menatap bingung tuannya. Mark berlalu dari hadapan Paul yang terbengong.
"Mark!"
"Ck ... anak itu!" dumal Mark pelan melirik Angela yang ternyata masih berani datang ke tempatnya.
Karena kecepatan mobil, Mark hanya butuh waktu dua puluh menit, lebih cepat satu jam dibanding dengan mobil biasa.
Kios kue itu sangat ramai pembeli. Tentu saja, kue-kue buatan tangan Matilda dan Line menjadi favorit semua orang.
Mark turun dengan gagahnya. Banyak gadis langsung histeris ketika pria itu masuk kios. Bahkan Matilda terpana melihatnya.
"Astaga apa dewa ketampanan datang ke tempat kecil ini?" bisik-bisik para pelanggan yang hadir.
Line tengah mengolah kue di dapur. Mark mendekati Matilda.
"Nyonya, bisa panggilkan Line," pinta Mark dengan sopan.
"Oh tentu saja tuan. Tapi apa kau pacarnya?" tanya Matilda menyelidik.
"Bisa dibilang begitu Nyonya," jawab Mark tersenyum.
Jiwa Line tentu berdecih melihat kelakuan tubuhnya itu. Jiwa Line memang menguasai otak dan nyaris semua perilaku Mark. Tapi pria itu tentu memiliki khas yang tak bisa diubah Line. Gaya casanova pria itu yang tak bisa dihilangkan Line.
Kini keduanya duduk di meja, Matilda mengeluarkan semua pelanggan dan membiarkan sepasang manusia itu berbicara.
"Apa yang kau lakukan pada tubuhku?" desis Mark yang tentu itu adalah Line.
"Aku hanya memperlihatkan kecantikan mu sayang," jawab Line yang tentu itu adalah Mark.
"Kau membuatku seperti wanita murahan!" desis Mark tak menyukai cara berpakaian Line sekarang.
__ADS_1
"Hei ... jangan bodoh sayang! Pakaian ini bukan milik pelacur!" sanggah Line tentunya membela diri.
"Kalian laki-laki memang hanya bisa merusak tatanan hidup perempuan!" desis Mark lagi.
"Aku memperlihatkan kelebihan mu Nona!" sungut Line tak terima.
"Kau akan makin dianggap berkelas jika menunjukkan dirimu!" lanjutnya.
"Apa kau mau semua hartamu itu ibu tirimu yang menikmatinya?" tanya Line menatap tajam pria di depannya.
"Aku punya cara sendiri yang tak kau ketahui!" tekan Mark pada gadis itu marah.
"Aku sengaja tak mengambil satu sen uang pria sialan itu ...."
"Dia ayahmu, kau harus terima itu!' sahut Line lagi membungkam Mark.
"Aku tak mau jadi bagian seorang pengkhianat!' desis Mark marah.
"Maka kau harus singkirkan pengkhianat itu dengan mengambil alih semuanya!' sahut Line menatap pria di depannya.
"Belum saatnya Mark ... bukan saat ini!" desis Mark lagi pada gadis di depannya.
"Aku punya rencana dan kau malah menghancurkan rencanaku!" lanjutnya kecewa.
Line terdiam, Mark berdiri dan membenahi pakaiannya. Diakui jiwa Mark yang ada di tubuh sang gadis jika dirinya jauh berubah lebih baik.
"Sepertinya kita harus ke tempat situs kuno lagi Line!' ujar Mark pada sang gadis.
"Kampusmu padat," sahut Line.
"Aku mengirimkan Erick ke perusahaanmu," lanjutnya.
Mark menatap gadis yang memainkan straw yang bisa dimakan itu.
Jiwa Line tentu tak bisa menguasai yang sudah menjadi kebiasaan Mark. Dengan tiba-tiba, pria itu mencium bibir sang gadis.
"Kau?" desis Line tak percaya lalu tiba-tiba tersungging senyum sinis.
"Kau liar juga ternyata?" ledeknya.
"Cis ... tabiatmu ini tak bisa kuubah. Awas kau jika membawa tubuhku ke klub milikmu!" desis Mark pada Line yang ada di depannya.
"Oh ... kau sekarang adalah pacarku!" tekan Mark.
"Kau!"
Cup!
Bersambung.
Weh ...
next?
__ADS_1