WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
KEJADIAN


__ADS_3

Jiwa yang tertukar sudah menyatu pada jiwanya masing-masing. Andi menggeser batu pada zodiak milik Lock palsu.


"Beres!"


Tiba-tiba sinar yang menyala pada garis-garis padam dan bulatan lain pada posisi semula.


Di pesta baik Line dan Mark saling tatap. Jiwa mereka tadi kembali ke tubuh mereka tapi entah kenapa tiba-tiba jiwa mereka kembali tertukar.


"Ada apa ini?" tanya Line tiba-tiba limbung.


"Sayang," Mark memegangi gadisnya.


Perbuatannya itu menjadi foto terbaik. Tatapan Mark pada Line jadi sorotan. Banyak yang berdecak iri pada pasangan itu.


"Sial! Mereka serasi sekali!" umpat salah satu gadis.


Cincin tersemat, Mark mengecup ringan bibir gadis di dekapannya. Tapi jiwa Mark yang berada dalam tubuh sang gadis menaut dalam mulut yang menciumnya.


Semua bersorak dan bertepuk tangan dengan ciuman itu. Sementara di sebuah ruangan Angela menjerit dan melempar ponsel mahalnya begitu saja hingga hancur.


"Bodoh! Bodoh!" teriaknya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Perempuan itu harus mati di tanganku!" lanjutnya lalu berteriak seperti orang kurang waras.


Pesta berakhir sempurna. Rodrigo mengucap selamat pada keponakan kesayangannya.


"Aku yakin kau pasti bisa menjadi istri yang baik!" ujarnya penuh haru.


Samantha memeluk Line dengan penuh kasih sayang. Setelah meninggal sang ibu. Line memang banyak diam dan tak ceria.


"Aku tau kau bisa melalui ini semua," pujinya bangga.


Samuel dan Simon memeluk sepupu mereka.


"Jangan bermalam dengan tunanganmu. Kalian belum menikah!" larang Samuel tegas.


"Hei ... Ini bukan jaman kuno yang harus perawan di malam pertama!" sungut Line dan hal itu membuat Samantha marah.


"Apa katamu!"


Mark menghela nafas panjang. Jiwa sang pria yang berada dalam tubuhnya tentu memiliki pemikiran modern. Walau melepas keperawanan sebelum menikah atau istilah hidup bebas bisa dikaitkan dengan jaman.


"Jangan khawatir nyonya Ortega, Rose aman bersamaku. Aku akan mengikat putraku agar dia tak macam-macam!" ujar Maria berjanji.


Samantha tersenyum, lalu melirik kesal pada keponakannya yang selalu berhasil mengerjainya.


"Jika kau memiliki anak sebelum menikah. Aku pastikan akan mengambil anakmu!" lanjutnya mengancam.


"Bibi!' rengek Mark.


Tentu jiwa Line keberatan tentang itu. Hal itu malah membuat Samantha makin memarahi Line.


"Sudah ... Sudah!" putus Rodrigo.


"Kau malah membuat telinganya melepuh dengan ocehanmu!" lanjutnya lalu menarik istrinya agar tak lagi mengoceh.


"Hei ... aku belum beri dia pelajaran!" teriak Samantha.


"Maafkan ibuku, Tante!" ujar Samuel meminta maaf.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku lebih cerewet dari ibumu. Jika Line putriku, aku pastikan me gembok celananya agar tak dibuka sembarangan!" ujarnya sarkasme.


Line berdecak, jiwa Mark tentu kesal mendengar perkataan ibunya. Maria menggandeng Line.


"Mom, aku loh yang anak kandungmu!" sengit Mark.


"Ya justru itu!" sungut Maria.


Marcus menepuk bahu putranya. Pria itu mengikuti sang istri yang membawa calon menantu mereka. Paul mendekat.


"Tuan,"


"Kau pulanglah Paul. Besok bawa Erick pergi bersamamu. Aku dengar kalian kemarin berhasil meyakinkan perusahaan xx untuk bekerja sama?"


"Benar Tuan. Erick cepat sekali belajar dan sangat luar biasa!" jawab Paul sekaligus memuji rekan barunya.


"Aku tak meragukannya. Justru pemain baseball handal itu dia bukan Bastian," sahut Mark.


Mereka pun pergi menuju hunian masing-masing.


Pagi menjelang, Line bangun dengan tubuh segar. Gadis itu sudah mandi dan memakai dress pendek warna biru pucat.


Potongan dada V dengan kalung berlian yang dibelikan Maria. Gadis itu mengikat asal rambutnya dengan saputangan warna senada dengan sepatunya yang perak.


"Kenapa kau pakai celana pendek!" keluh jiwa Mark yang memegang bawahannya.


Tubuh sang gadis yang terbiasa dan mengikuti naluri menjaga diri. Line memang selalu memakai celana dobel.


"Kau payah!" ledek jiwa Mark.


Tapi jiwa sang pria pasrah. Ia tak bisa mengganti atau melepas karena membuat ia juga nyaman.


"Kau cantik sekali sayang!" puji Maria.


"Morning sayang," ujar Maria senang.


"Daddy belum turun?" tanya Line lalu duduk.


"Sebentar lagi sayang. Kau mau sarapan apa?" tawar Maria sekaligus menjawab.


"Nanti biar aku ambil sendiri mom," jawab Line tersenyum.


Mark dan ayahnya datang. Dua pria tampan menawan, Maria tersenyum tapi jiwa Mark berdecih.


'Gadis itu!' umpatnya kesal dalam hati.


"Kalian tampan sekali!" puji Maria.


"Bukan begitu sayang?" lanjutnya pada Line.


"Uhuk!" Line tersedak karena tadi tengah minum.


"Mom!" rengek Line.


"Oh sayang ... Maafkan aku. Mommy tak tau kau sedang minum!" ujar Maria khawatir.


Mark terkekeh, jiwa Line tentu senang melihat penderitaan Mark. Walau ia juga merasakan sakit karena itu adalah tubuhnya.


Mereka pun sarapan dengan tenang. Usai sarapan Paul datang bersama Erick.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya selamat pagi!" ujar dua pria itu membungkuk hormat pada Maria dan Marcus.


"Pagi Paul. Kau bawa siapa? kenapa dia lebih tampan darimu?" tanya Maria meledek Paul.


Eric yang baru datang tentu tak enak. Marcus menghela nafas panjang. Lalu ia mendekati Erick yang berdiri canggung.


"Jangan dengarkan istriku. Dia memang suka menggoda Paul!" ujarnya.


"Siapa namamu nak?" lanjutnya bertanya ramah.


"Erick ... Erick Boston!" jawab pria berkulit hitam itu.


"Baiklah Tuan Boston. Selamat bergabung di perusahaan Ortega!" sambut Marcus menjabat tangan Erick.


Pria itu tersenyum lebar. Giginya putih bersih, wangi tubuhnya juga menenangkan. Tinggi Erick yang nyaris 190cm itu tentu membuat Marcus harus mendongak.


"Kau seperti pemain baseball pro tingkat internasional?" sahut Maria menatap pria tampan di depannya.


"Jangan lama-lama menatapnya sayang!" peringat Marcus cemburu.


Mark akhirnya pergi bersama Line, Paul dan Erick. Mereka berempat harus melakukan satu rapat di divisi perusahaan Mark.


Sementara, seorang wanita berhasil masuk dalam pantry setelah menyogok beberapa staf.


Gadis itu menatap Line yang digandeng mesra oleh pria idamannya.


"Kau harus mati!" gumamnya lalu mengeluarkan pisau berukuran kecil.


Angela Broks tentu sedikit kesulitan. Ia sedikit banyak yang mengenal, uangnya sudah menipis.


"Nona ... Mau apa anda di sini?" tanya seorang office boy menatap wanita itu.


"Diam atau kau kubunuh!" ancam Angela mengeluarkan pisau dari tas limited editionnya.


Perempuan berkulit hitam itu sedikit terkejut. Ia mengangkat tangan ketika Angela menodong pisau ke arahnya.


Ia berjalan mundur hingga keluar pantry. Beberapa orang menatapnya.


"Beth kau kena ...."


Pria rekan seprofesi Beth terkejut ketika Angela keluar menodongkan pisau.


"Jangan berteriak, aku bisa menusuk kalian dengan ini!" ancam Angela.


Dua orang berseragam ob tengah jalan mundur. Mark, Line, Paul dan Erick baru saja keluar dari ruang divisi.


"Eh ... ada apa itu?" tunjuk Erick.


Line menoleh begitu juga Mark. Jiwa Mark tentu marah luar biasa terlebih jiwa Line.


"Angela!" teriak Mark memanggilnya.


Angela menatap pria pujaannya. Tetapi ketika melihat Line yang ada di sisi Mark. Membuat ia gelap mata.


"Kubunuh kau bangsat!" teriaknya lalu menerjang Line dengan pisaunya.


Jleb! Aarrggh!


Bersambung

__ADS_1


Eh?


Next?


__ADS_2