WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
THE CEO 2


__ADS_3

Kedatangan Mark Philip Ortega membuat banyak wartawan mendatangi mansion keluarga Smith.


Kepiawaian pria itu selama ini memang jadi buruan para pembuat berita. Terlebih sepak terjangnya dalam mendapatkan beberapa tandatangan kontrak proyek dengan nilai profit miliaran dolar.


Keberadaanya di mansion keluarga Smith juga jadi sorotan semua media.


"Apa yang dilakukan oleh ahli waris tahta kerajaan di negara ini?" tanya para wartawan gusar.


"Ia sering kali kedapatan berduaan dengan seorang gadis cantik, tapi kini ia ada di sini?"


"Apa gadis itu putri tunggal dari Tuan Edrick Smith?" tanya wartawan yang lain.


"Tapi bukankah putri dari Tuan Smith sudah menghilang satu tahun lalu?"


Memang kedatangan Roseline tak diketahui banyak wartawan. Gadis itu belum mulai apa-apa karena memang belum banyak berkiprah di dunia bisnis.


Mereka tak tau jika jiwa sang gadis lah yang membuat Mark sehebat ini sekarang. Jiwa Mark memang belum berkontribusi banyak pada tubuh yang ditumpanginya itu.


"Mark buatlah sesuatu,' bisik Mark pada jiwa yang ada di tubuh sang gadis.


"Memang apa yang bisa kulakukan?" jawab Line yang juga berbisik.


"Aku hanya mengandalkan otakmu yang pintar ini," kekeh Line begitu menyebalkan.


"Astaga lama-lama aku jadi terlihat bodoh betulan!" keluh Mark.


Line menyeringai, gadis itu jadi sangat menyebalkan di mata jiwa Line.


"Aaah!" keluh Mark cemberut.


Line tertawa, Simon dan Samuel menatap sepupu mereka itu mengernyit heran.


"Kau kenapa?" tanya Simon.


"Nothing, forget it!" ujar Line lalu kembali fokus pada semua bekas yang ada di depan mereka.


"Rose, Daddy bilang jika kau harus menaikkan profit perusahaan dulu baru bisa menaikkan standar," ulas Simon.


"Profit perusahaan nyaris nol. Beberapa bank menolak memberi pinjaman. Aku tak tahu apa yang menyebabkan itu, mereka tak menjelaskan secara rinci," ujar Line.


Jiwa sang gadis yang ada di tubuh Mark tentu sangat tau. Elena penyebab semua bank memblack-list perusahaan Edrick akibat pinjaman over limit itu.


"Apa kau tidak memeriksa semuanya Line? Maksudku kenapa mereka tak mau memberikan pinjaman sama sekali?" ujar Mark.


"Jawaban mereka ada utang yang masih belum dibayarkan. Aku minta beberapa staf manager untuk memeriksa apa yang jadi kredit macet hingga nyaris semua bank tak mau beri pinjaman," jawab Line.


"Bagaimana dengan surat kuasa Line?" tanya Mark.


"Surat kuasa?"


"Ya, apa ayahmu memberi surat kuasa pada seseorang hingga bisa mendapat tembusan langsung pinjaman dari bank?" tanya Mark lagi.


"Wah benar itu, apa bisa dengan surat kuasa bisa melakukan itu?" tanya Simon.

__ADS_1


"Aku rasa tak semudah itu. Bukankah harus ada tanda tangan penjamin?" jawab Line.


"Atau jangan-jangan, tanda tangan ayahmu dipalsukan?" sangka Samuel.


Semua saling tatap, Line memang tak mempercayai beberapa staf yang bekerja di perusahaan ayahnya. Tapi ia bukan pemegang kekuasaan penuh. Jadi ia tak bisa berbuat banyak.


"Sebagai pemegang 45% saham, mestinya kau punya kendali pada jalannya perusahaan sayang," ujar Mark.


"Oh ... Jangan mesra-mesraan di sini!" sungut Simon keki.


"Hahaha ... Apa kau single Simon?" ledek Mark.


Jiwa Line sangat puas meledek kakak sepupunya itu. Dua pria tampan itu memang suka mengganggu Line. Keduanya memang jahil pada adik sepupu perempuan mereka.


"Ck!" decak Simon kesal.


"Kak Sam juga single," celetuk Line.


"Oh ... Astaga, apa kalian ingin jadi pastur?" ledek Mark lagi.


"Ah ... Aku malas berhubungan dengan lawan jenis! Mereka merepotkan!" sahut Simon beralasan.


"Ya ... Mereka suka sekali memberi kode, kami pria yang tak pandai pakai perasaan mana mengerti kode mereka itu!' dengkus Samuel ikutan kesal.


"Kok dia nggak?" tunjuk Mark pada Line.


"Dia itu punya dua kelamin!" sahut Simon.


"Simon jaga bicaramu!" peringat Samantha.


"Jaga adikmu! Jangan membuatnya kehilangan muka!" hardik Samantha marah.


"Sorry Mom," ujar Simon menunduk.


Jiwa Mark menghangat. Ayah dan ibunya adalah anak tunggal, makanya ia tak banyak saudara.


Sementara di tempat lain, Elene tak berani pulang ke hunian besar itu karena ada pemilik sesungguhnya.


"Kau sudah dua hari di sini!" tegur pria yang disewa untuk membunuh Edrick.


"Lalu aku harus kemana?" decak Elena kesal.


"Bayaranmu tak seberapa. Masa kau mau menumpang hidup denganku?" tanya pria bercodet itu meledek.


"Bayaranmu itu cukup untuk hidupku satu tahun," sahut Elena enteng.


"Terlebih kau baru saja menikmati tubuhku. Kau harus bayar berapa jika ingin dipuaskan wanita?" tanyanya kemudian.


"Cis, tubuhmu sama sekali tak enak Elena!" hina pria itu.


"Bahkan pelayananmu itu sangat payah! Kau baru kumasuki satu detik langsung keluar!" lanjutnya menyindir.


"Kau!"

__ADS_1


"Pergi ... Aku bosan melihatmu!" usir pria itu lagi.


Elena setengah diseret keluar. Wanita itu langsung dicampakkan begitu saja. Ia tentu kesal bukan main.


"Hanya tinggal uang dalam kartu ini!" ujarnya merogoh tas dan mendapatkan kartu debit yang diserahkan oleh Edrick untuk memenuhi kebutuhannya.


Wanita itu memesan taksi daring di sekitar rumah pembunuh bayaran. Hal itu memudahkan penyelidikan detektif yang dibayar Rodrigo.


"Target bergerak, ia menggunakan kartu debitnya untuk membayar taksi!" lapor salah satu petugas yang menyamar.


Taksi yang ditumpangi Elene berhenti di sebuah hotel mewah. Wanita itu turun dengan langkah anggun. Hanya dengan modal kartu hitam itu. Tentu ia bisa dengan mudah mendapat akses mewah di manapun ia berada.


"Ini kunci anda Nyonya!" ujar resepsionis memberikan kunci pada wanita itu.


Elene mengangguk, ia mengikuti seorang bell boy menuju kamarnya.


"Maaf boy, aku tak memiliki uang cash!" ujarnya ketika sampai di unit kamarnya.


"Tidak masalah nyonya!" ujar pemuda itu ramah.


"Kau cukup tampan sebagai bell boy, siapa namamu?" tanya Elene pada pemuda itu.


"Bastian ... namaku Bastian!" jawab pemuda itu.


"Tubuhmu juga bagus," ujar Elene lalu mengusap dada pemuda itu.


"Apa kau punya e-wallet?" tanya sang wanita dengan nafas dan pandangan menggoda.


Bastian, pemain baseball terkenal di kampusnya. Ia tersenyum penuh arti. Setelah empat kekalahan telak, pemuda itu dicopot dari kapten baseball.


"Nyonya mau servis yang berbeda?" tawar pemuda itu lalu membuka kancing seragamnya.


Elene menggosok dada pemuda tampan itu. Lalu keduanya terlibat dalam percintaan panas.


Bastian kini jadi pekerja rendahan. Semua karirnya hancur akibat kekalahan yang ia buat sendiri. Semua fans dan juga pengidolanya tak ada lagi yang mau berurusan dengannya.


"Aaahhh!" Elene melenguh penuh kepuasan.


"Aku belum keluar Nyonya," ujar Bastian meminta perempuan itu memuaskan dirinya.


Elene yang terbakar birahi langsung mengerti apa yang dilakukannya. Kembali dua insan itu merengguk nikmat dunia.


'Ini bayaranku karena sombong padamu Erick,' ujar Bastian.


Setelah kepergian Erick. Bastian banyak kemunduran, semangat dari fans beratnya itu sudah tak didapat lagi.


"Ayo nyonya bergerak lebih cepat!" pintanya dengan menahan erangan.


Tak lama ia melenguh dan memuntahkan semua cairan. Elene terkulai lemas di dada pemuda yang begitu memuaskannya lagi.


Bersambung.


Weh?

__ADS_1


Next?


__ADS_2