WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
SEBUAH FAKTA


__ADS_3

"Berengsek kau!' sentak Line lalu menampar pipi Mark.


Jiwa Mark tentu terkejut sedang jiwa Line biasa saja. Jiwa sang gadis itu adalah respon spontanitas tubuhnya karena tindakan mesum pria yang raganya ia tempati itu.


"Ayo kita pacaran Line ... Tidak ... Rose!" ajak Mark tanpa basa-basi.


"In your dream!" desis Line lalu berdiri.


Tubuh Line tiba-tiba terangkat. Ia digendong seperti karung di bahu Mark..Matilda membuka pintu untuk mereka.


"Thanks Miss i owe you!" ujar Mark mengedipkan mata pada Matilda.


"Kau bisa bayar kapanpun Tuan!" ujar wanita itu memberikan tas milik sang gadis.


"Ma'am!" pekik Line frustrasi.


Mark membuka pintu dan meletakan tubuh ringan Line di sana. Ia langsung memasang sabuk pengaman.


"Let me go!' pekik Line mau menangis.


"Hei ... sayang!'


Mark kembali mengecup bibir sang gadis bahkan berani mengulumnya. Line menangis, ciuman pertamanya dicuri paksa oleh pria menyebalkan di depannya.


"Kau kekasihku sekarang dan selamanya. Apa kau mengerti!"


"Tapi Mark ...."


"Jangan khawatirkan tentang kucingmu sayang!" ujar Mark lalu menutup pintu.


Line tadinya ingin melarikan diri dengan membuka pintu itu. Tapi Mark telah menguncinya otomatis.


"Aaaahhh ... Ini penculikan!" teriak Line kesal.


"Diamlah sayang ... Kau ingin balas dendam dengan ibu tirimu kan!" ujar Mark yang membungkam sang gadis.


Jiwa Line tiba-tiba memiliki ide dengan tubuh yang ia kendalikan tapi tidak dengan sifatnya.


Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang. Hanya butuh dua puluh lima menit untuk sampai bangunan bertingkat.


Kendaraan roda empat itu melaju dan berhenti di pos keamanan.


"Selamat malam Douglas!" sapa Mark ketika memberikan kartu aksesnya.


"Selamat malam Tuan Ortega. Ah ... Anda bawa gadis lagi malam ini?" ujar pria berseragam itu melihat sosok cantik di sebelah sang tuan muda.


"Aku diculik Tuan. Tolong laporkan pada polisi!" seru Line yang hanya ditanggapi senyum lebar petugas keamanan itu.


"Sepertinya anda harus bersusah payah mengambil hatinya Tuan," ujarnya memberi semangat pada Mark.


"Wish me luck!' kekeh Mark tersenyum jahil.


Line sangat kesal sampai berdecih. Petugas keamanan malah tertawa. Mark hanya santai menanggapi kekesalan gadis di sebelahnya itu.


Kendaraan itu turun ke basemen. Ketika hendak membelokkan mobil.


"Bukan di sini tapi luruslah!" ujar Line memberitahu.

__ADS_1


Mark tentu menoleh, ia paham jika jiwa yang ada dalam tubuh gadis itu adalah pemilik raga yang ia tempati sekarang.


"Tunjukkan jalannya nona!" ujar Mark tersenyum.


Line memberi arah, mereka sampai di sebuah tempat khusus.


"Ini lift khusus mobil," ujar Line yang tentu berjiwa Mark.


"Aku pikir tadi ruangan apa," sahut Mark.


Line memutar mata malas. Benda itu tertutup dan naik mengangkat kendaraan hingga lantai paling tengah.


"Lift mobil itu hanya khusus untuk mobil ini. Bukan yang lain!" ujar Line seakan-akan memiliki tempat ini.


"Kau hafal betul sayang," kekeh Mark lalu membuka pintu setelah benda itu berhenti dan sampai pada unitnya.


Mark menekan tombol dan menggesek kartu aksesnya. Bunyi khas menandakan pintu itu terbuka.


"Tuan selamat datang!" Paul menyambutnya.


"Meong!"


"Mark!" pekik Mark dan Line bersamaan.


"Tuan?" Paul yang masih heran kenapa atasannya memintanya ke sebuah tempat.


Jiwa Line tentu tau jika maid akan menyimpan kunci di pot bunga besar. Mark meminta Paul ke sebuah rumah sederhana dan membawa seekor kucing berikut kandang dan segala pernak-perniknya untuk dibawa ke kondominium miliknya.


Mark si orange tentu lebih dekat pada Mark karena anabul itu sangat tau jiwa pengasuhnya ada dalam tubuh pria itu.


"Tuan?" Paul masih dalam mode bengong.


"Baiklah Paul. Mungkin kau adalah satu-satunya pria yang akan tau rahasia besar ini!" ujar Mark.


Paul terdiam setelah mendengar rentetan cerita yang diungkapkan dua manusia di depannya.


"Jadi ... jiwa tuan tertukar dan sekarang ada ditubuh Nona Robertson?" tanya pria itu seperti orang bodoh.


"Itu benar Paul," jawab Mark.


"Jangan bercanda Tuan. Ini jaman apa? Kau hanya ingin mengerjaiku saja kan?" sahut Paul menggeleng tak percaya.


"Itu adalah sesungguhnya Paul. Aku katakan ini padamu karena aku percaya padamu!" jawab Line.


"Apa buktinya?" tanya Paul menantang gadis yang duduk di sebelah Mark.


"Paul Walker, dua puluh enam tahun. Putra tunggal dari pasangan Edward Walker dan Paulina Jhonson. Lulusan Universitas Oklahoma dengan predikat semi cum laude. Alergi udang dan makanan manis juga pobhia lebah. Kau juga pencinta kucing dan anjing. Ikut dalam solidaritas penyayang hewan. Anak baik dan penurut ...." Line membeberkan data Paul.


Paul menganga, ia kini percaya jika jiwa Mark ada di tubuh kecil gadis itu.


"Apa saya harus mengatakan ini pada Tuan besar Ortega?" tanyanya.


"Tidak!" jawab kompak Mark dan Line.


"Katakan pada Mommy aku membawa pacarku ke kondominium hadiah ulang tahunku tahun lalu!" ujar Mark.


Line berdecih mendengar perkataan pria itu. Jiwa sang gadis yang ada di sana sangat kesal dengan kemewahan yang didapat Mark.

__ADS_1


"Baik lah ... lalu rencana kalian apa?" tanya Paul.


Mark menatap Line, jiwa keduanya juga bingung ingin melakukan apa.


"Mungkin kembali ke situs kuno itu dan mencoba mencari jawabannya," ujar Line menjawab.


"Tapi sebelumnya, aku ingin balas dendam," ujar Mark dengan tatapan sadis.


"Balas dendam? Pada siapa?" tanya Paul tak mengerti..


"Nanti kau akan tau Paul. Sekarang pulang dan beristirahat lah!' suruh Mark.


"Baik Tuan!" sahut Paul lalu berdiri dan membungkuk hormat.


"Oh ya ... Aku tidur di mana?" tanya Line.


Mark tersenyum lalu mendekati gadis itu yang langsung menjauhi tubuhnya.


"Kau bisa tidur bersamaku!" seringai mesum itu membuat Line kesal dan menyikut belahan paha Mark.


"Auuh ... Masa depanku!" pekik Mark merasa ngilu.


Sementara di hunian yang jauh dari kota besar. Elena merobek semua foto Line yang berciuman dengan pria berjas mewah.


"Siapa yang mencium gadis murahan itu!" teriaknya.


"Tuan Mark Ortega. Putra dari pasangan Ortega dan Maria Frankfurt. Pebisnis terkaya dan nomor satu saat ini Nyonya!" jawab pembawa berita.


"Keluar kau!" teriak Elena marah.


Pria itu menagih uang yang dijanjikan. Elena melempar cek kosong.


"Isi seberapa kau inginkan! Lalu pergi jauh dari sini!" perintahnya marah.


Pria itu menatap nyalang Elena. Wanita itu tentu langsung takut.


"A-apa! Aku sudah membayarmu!" teriaknya mulai ketakutan.


"Aku terima cek ini nyonya ... Tapi aku tak suka penghinaan ini!" ujar pria itu memperingati.


"Semua bukti ada padaku. Apa yang diperbuat Tuan Smith jika bukti kau ingin menyingkirkan putri tunggalnya sampai di tangannya?" seringai sinis tersungging di wajah pria bermasker itu.


"Ja-jangan mengancam ku bodoh!" teriak Elena menebalkan keberaniannya.


Pria itu langsung mencengkram dagu sang wanita yang membayarnya. Air mata Elena pun jatuh menetes.


"Jangan memancing Nyonya ... Aku tak akan segan melakukannya!" ujar sang pria lalu mendorong wajah yang ia cengkram dagunya hingga membuat Elena tersungkur ke belakang.


Pria itu pergi, Elena menekan dadanya yang berdetak menggila. Ia belum mulai melakukan aksinya malah menggali lubang kuburnya lebih cepat.


"Aku harus mencari pembunuh bayaran lain," gumamnya pelan.


Bersambung.


Eh ...


Next?

__ADS_1


__ADS_2