WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
KEDATANGAN RODRIGO SMITH 2


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah bangunan megah. Mansion Edrick kedatangan tamu. Sosok pria gagah turun bersama istrinya dan juga dua putra.


“Sudah lama kita meninggalkan kediaman milik mendiang kakek kalian,” ujar Samantha menatap bangunan mewah di depannya.


“Iya, apa Roseline masih menyebalkan seperti dulu?” tanya Samuel terkekeh mengingat gadis kecil yang tak pernah diam.


“Bibi kalian sudah meninggal dua tahun lalu. Mungkin Rose sudah berubah,” sahut Rodrigo tersenyum.


Keluarga Smith ada empat orang. Rodrigo adalah putra kedua keluarga pebisnis itu. Sedang yang pertama adalah Elizabeth Maria Smith sudah meninggal dunia tanpa anak, lalu yang ketiga adalah Edrick dan yang ke empat merupakan seorang pastur dan diakon (pelayanan jamaat katolik) yang bertugas di gereja utama Vatikan.


Mereka berempat masuk kediaman besar itu. Seorang wanita bertugas sebagai maid yang masih muda tak mengenali mereka.


“Maaf kalian siapa?” tanyanya.


“Loh ... kamu yang siapa ... mana Chental?” tanya Samantha mengerutkan keningnya.


“Chental!” pekik Rodrigo memanggil kepala pelayan yang telah bekerja selama belasan tahun di mansion ini.


“Tuan besar Rodrigo?” pria itu menoleh.


“Paman Benjamin!” seru Samuel berhambur ke pelukan pria itu.


“Tuan Sam,”


“Benjamin ...,”


Kini mereka duduk di sofa ruang keluarga. Semua maid ternyata telah diganti kecuali Benjamin. Tentu saja hal itu membuat Rodrigo marah. Para maid tentu tak mengerti apa yang terjadi.


“Jadi tuan kalian menikah lagi setelah kematian istrinya?” decak Samantha tentu marah.


“Lalu nona kalian?” tanya Simon, adik Samuel.


“Nona muda pergi dari rumah ini setahun lalu karena mengetahui Tuan besar menikah lagi. Nona mengumpulkan bukti jika Tuan mengkhianati mendiang nyonya besar,” jela Benjamin.


“Astaga ... anakku!” Samantha lemas mendengar keponakan kesayanganya kini entah ada di mana.


“Sekarang mana istri dari tuanmu?” tanya Rodrigo.


“Tadi beliau membawa bekal ke kantor, sampai sekarang belum pulang, Tuan,” jawab Benjamin.


“Sekarang kalian boleh kembali dn siapkan makan malam!” perintah Rodrigo.


Semua maid saling pandang. Mereka tak berani bergerak jika bukan majikan perempuan mereka yang memberi perintah.


“Kenapa diam saja!” teriak Samantha.


“Aku pastikan kalian akan terusir sebentar lagi dari mansion ini!” lanjutnya memastikan nasib para maid.


Benjamin langsung mengajak semua pekerja rumah tangga itu untuk menurut. Ia juga harus bekerja membersihkan taman belakang.


“Kalian istirahatlah. Biar Papa yang urus semuanya,” suruh Rodrigo.


Samantha mengangguk. Kedua putranya juga mengikuti sang ibu. Mereka tau di mana mereka tidur. Mansion ini adalah peninggaln sang kakek. Jadi mereka memiliki hak besar di sana.

__ADS_1


Rodrigo menelepon adiknya itu. Satu panggilan tak terjawab. Ia menelpon lagi, tapi tetap tak terjawab. Sedang di rumah sakit. Line tengah bergelut dengan penjahat yang hendak membunuh ayahnya.


“Bangsat!” teriak gadis itu membanting pria bermasker.


Buk! Pria itu mengerang di lantai. Beberapa sekuruti langsung menyergap pria itu sedang Edrick langsung diberikan penanganan.


Pria itu meronta. Empat sekuriti bukan tandingan pembunuh bayaran itu. Dengan kuat ia mendorong salah satu lalu menghajar wajah sekuruti dengan menendangnya.


“Aaarrrgghhh!!” teriak kesakitan terdengar.


Pria itu melarikan diri melalui tangga darurat, polisi lagi-lagi lamban. Pria pembunuh sudah berhasil melarikan diri entah kemana. Kamera pengintai mendadak error hingga tak menangkap wajah pembunuh.


“Apa anda mengenali wajahnya di skema ini nona?” tanya polisi memberikan beberapa kertas bergambar wajah.


Line memperhatikan satu persatu, ia memilih tiga gmbar yang menurutnya adalah pelaku.


“Tiga mata dari gambar ini sangat mirip pelaku, bahkan codetnya juga ada di sebelah kanan matanya,” jelasnya.


“Baik lah Nona. Ketiganya adalah saudara kembar. Mereka memang pembunuh bayaran teroganisir. Kami sudah lama mengincarnya,” jelas keomandan polisi.


Ketiga petugas berseragam itu pergi, Line hanya bisa menghela nafs panjang. Ia menggeleng dan menyayangkan betapa lambannya para petugas itu bekerja.


“Ck!’ decaknya kecewa.


Lalu tak lama ia mendengar ponsel ayahnya berdering, gadis itu segera menghampiri dan mengambil benda pipih itu dari atas nakas.


“Paman ... ini aku Line!” seru gadis itu.


“Sayang ... kau bersama ayahmu?” tanya pria dari seberang telepon.


“Apa jadi kalian ada di rumah sakit akibat ayahmu gagal nafas karena alergi ikan?” tanya Rodrigo dengan mata membelalak.


“Benar paman. Ayah sepertinya diracun,” jawab Line di seberang telepon.


“Paman akan ke sana ya!” ujar Rodrigo lagi, lalu menutup sambungan telepon.


Ia pergi ke atas dan menemui istrinya, pria itu pamit setelah mengatakan keadaan adik kandungnya itu.


“Baik sayang, hati-hatilah,” ujar Samantha.


Rodrigo mengecup mesra kening istrinya lembut. Pria itu gegs ke mobilnya. Supir sudah bersiap untuk mengantarkan tuannya.


Sedang di tempat lain, Mark ikut pulang bersama orang tuanya. Paul dibawa serta oleh Maria karena pria itu seperti masih kurang sehat.


“Kau istirahat yang cukup Paul!” suruh wanita itu.


“Terima kasih Nyonya.” ujar paul membungkuk hormat.


“Lyn, tolong panggil dokter untuk memeriksa secara menyeluruh kesehatan Paul!’ suruh Maria.


“Baik Nyonya,” jawab Ryn membungkuk hormat.


“Mommy terlalu memanjakan dia,” sengit Mark yang langsung diberi pukulan ringan dari ayahnya.

__ADS_1


“Dad!” rengek Mark.


“Ayo ikut aku dan ceritakan kesuksesanmu itu!” ajak Marcus pada putranya.


Maria mengelus lengan Paul. Walau wanita itu suka memusuhi ajudan putranya itu. Sesungguhnya Maria begitu perhatian pada semua karyawannya.


“Istirahat lah. Nanti dokter menangani kesehatanmu,” suruh wanita itu lagi.


“Terima kasih Nyonya,” ujar Paul menundukkan kepala hormat.


Maria pergi menyusul suami dan putranya sedang Paul pergi ke kamar tamu yang memang untuk dirinya.


“Jadi kau berhasil mencari investor sekaligus dua?” ujar Marcus membelalak tak percaya.


“Tentu dad, kan aku bilang jika kau mempercayaiku lagi kali ini. Aku pasti tidak akan gagal,” jawab Mark begitu percaya diri.


Jiwa Line tentu sangat bangga dengan pencapaiannya, bahkan dirinya mampu membongkar kasus korupsi yang mencengkram perusahaan ayah dari Mark.


“Bukan itu saja sayang!”


Maria datang bersama maid dengan nampan dan cangkir-cangkir kopi. Setelah meletakkan cangkir dan teko cantik di atas meja kaca. Maid keluar, Maria menuangkan cairan hitam beraroma kopi untuk dua pria kesayangannya.


“Kopimu sayang,” ujar Maria memberikan cangkir ke suaminya.


“Thanks dear,” ujar Marcus terseyum indah pada istrinya.


“Anytime dear,” sahut Maria membalas senyum indah.


Maria juga memberikan cangkir berisi kopi terbaik yang mereka import dari benua Asia Tenggara.


“Kopi Aceh ini memang luar biasa nikmatnya!” puji Marcus ketika menyeruput cairan hitam itu.


“Sayang apa kau tau jika putra kita membongkar kasus korupsi di beberapa divisi perusahaanmu?” ujar Maria.


“Ya ... aku tak menyangka jika mereka serakus itu!” sahut Macus kecewa.


“Daddy terlalu banyak uang hingga tak tau jika ada tikus tengah melubangi kapal,” sindir Mark sarkas.


“Hei ... bukan begitu. Aku tak tau jika mereka berlaku berkhianat. Padahal semua fasilitas mewah dan tunjangan besar aku berikan [ada mereka!” sanggah Marcus tak terima.


“Hei ... hentikan. Kenapa kalian malah berkelahi!” sahut Maria galak menengahi ayah dan anak itu.


“Daddy, Mom!’ rengek Mark yang membuat Marcus berdecak kesal.


“Sayang!’ perintah Maria.


“Kau ini!” gerutu Marcus kesal juga pada istrinya.


Mark langsung meminta maaf pada ayahnya, ia memang sangat tau jika sang ayah sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Hanya saja pria paru baya itu memang tak tegaan orangnya. Terlebih jika pekerja itu sudah mengabdi belasan tahun lamanya.


Bersambung.


Pencuri kok dipiara.

__ADS_1


Next?


__ADS_2