
Rodrigo sudah sampai di rumah sakit, ia menatap adiknya yang masih dalam penanganan dokter.
"Apa kata dokter?" tanya pria paruh baya itu.
"Ayah, seperti telah mengkonsumsi lama ikan dan memakan obat anti alergi hingga nyaris menggagalkan fungsi limpa dan paru-parunya," jawab Line lirih.
"Tadi ada pembunuh yang datang hendak mencelakainya. Untung aku datang," lanjutnya.
"Apa sudah ditangani polisi?" tanya Rodrigo yang diberi tatapan malas oleh Line.
Pria kaya itu tertawa lirih. Rupanya uang kali ini akan bermain. Ia mengangguk. Lalu mengambil benda pipih dari saku celananya.
"Halo komisaris Hatways!"
Setelah berbicara beberapa saat. Tak butuh sepuluh menit. Beberapa petugas detektif datang dan menangani kasus Edrick.
"Jadi diperkirakan jika pembunuh itu dibayar oleh istri tak sah atau simpanan Tuan Smith?" tanya pria bertopi itu.
"Hei ... Ada lain Smith di sini!" tegur Rodrigo protes.
"Ah ... Maaf Tuan," ujar pria itu.
Mereka tetap mengambil kamera pengintai yang error. Walau pihak rumah sakit seperti ingin menghilangkan bukti. Akhirnya, rekaman itu pun didapat juga.
"Rumah sakit ini akan diselidiki atas kasus rencana pembunuhan Mr Smith!" tekan detektif yang membuat seluruh staf rumah sakit bungkam.
"Line, aku serahkan semua perusahaan di sini ke pundakmu!' ujar Rodrigo setelah melakukan panggilan lain.
"Kakakmu Samuel dan Simon akan membantumu!' lanjutnya.
"Paman memang mau ngapain?" tanya Line.
"Aku akan bawa Edrick ke Swiss dan mendapat perawatan secara intensif di sana," jawab pria paru baya itu.
"Tapi aku takut paman akan jadi sasaran jika bawa ayah!' ujar Line khawatir.
'Jangan khawatir sayang. Paman akan bawa ayahmu secara diam-diam dan tersembunyi. Paman juga menyewa pengawal terbaik yang pernah ada," jawab pria itu.
"Apa ada pengawal terbaik di dunia Paman?"
Rodrigo mengangguk, ia pernah mendengar sebuah perusahaan dengan basis pengawal yang sama kuat dengan tentara nasional itu.
"Walau bayarannya cukup tinggi dan harus selama lima tahun," lanjutnya.
"Perusahaan apa namanya?"
"SavedLived Bodyguard Company," jawab Rodrigo.
"SavedLived?" Rodrigo mengangguk.
"Bukannya itu berpusat di negara Indonesia?" lagi-lagi pria itu mengangguk.
"Aku dengar pemiliknya masih mengetuai klan mafia terkuat, BlackAngel?"
__ADS_1
"Kau benar sayang, walau sudah keturunan ke empat. Yakni cicit dari mendiang ketua mereka Tuan Black Dougher Young yakni Rahandra Virgou Black Dougher Young," jawab Rodrigo lagi.
"Astaga keluarga itu makin lama makin besar dan hampir memenuhi populasi di seluruh dunia!' ujar Line takjub.
Setelah obrolan itu, Line pulang ke unitnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk menduduki jabatan sementara pucuk pimpinan.
Gadis itu menatap cermin, jiwa Mark tentu suka melihat lekuk tubuh indah yang ia tumpangi.
"Line ... Apa kau tak mau merasakan bagaimana rasanya dadamu di remas seperti ini?" gumamnya lalu meraba dan sedikit meremas gundukan dadanya.
Wajah Line mengernyit sakit, satu tetes bening jatuh dari sudut matanya. Jiwa Mark yang panas akibat rangsangan hebat tiba-tiba harus terhenti akibat air mata yang jatuh itu.
"Line?" jiwa Mark merasa bersalah.
"Tolong jangan," pinta Line dengan mulutnya sendiri.
Jiwa Mark merasa bersalah, setelah susutnya rangsangan itu. Akhirnya tubuh seksi Line terbungkus dengan dress warna tosca, aksen kerah V.
Sementara di tempat lain, Elena hilir mudik di sebuah ruangan. Wanita itu baru saja mendapatkan jika hunian yang selama ini ia tempati ada yang datang.
"Jadi kakak dari Edrick datang dan tinggal di hunian itu?" tanyanya pada seorang pria bercodet.
"Apa kau berhasil membunuh Edrick?"
"Anak perempuannya menggagalkan aku," jawab pria itu.
"Bodoh!" maki Elene.
"Aku sudah banyak keluar uang untuk semua ini. Dan kau gagal hanya membunuh yang katamu seekor nyamuk itu?" tandasnya menyindir.
"Apa ... Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya ketakutan.
Pria itu tiba-tiba membuka kemejanya. Tampak otot-otot bertonjolan. Elene terkisap dan terpesona melihatnya.
"Apa yang kau lihat Nyonya?" tanya pria itu menyindir.
"Kau tak pernah melihat tubuh pria seseksi ini kan?" lanjutnya menyeringai.
Pria itu menarik tangan wanita yang membayarnya untuk membunuh suaminya. Perlahan ia usap telapak tangan itu ke perutnya yang kotak-kotak.
"Hmmm!"
"Kau mau masuk lebih dalam lagi?" ujarnya lirih.
Tangan Elene diturunkan dan masuk ke celana hingga menyentuh sesuatu yang membuat wanita itu merinding.
Keduanya pun bergulat di ranjang dengan erangan nikmat dan saling bercumbu liar.
Di balik jendela, sepasang mata tertutup lensa menyeringai. Ia telah mendapatkan apa yang akan membuatnya kaya raya itu.
"Kau masuk jebakan Nyonya bodoh!" gumamnya.
Sementara itu, Line datang ke mansion di mana dulu ia dibesarkan. Gadis itu disambut oleh Samuel dan Simon.
__ADS_1
"Rose!"
Ketiganya berpelukan, Samantha bahagia karena telah bertemu dengan keponakan kesayangannya lagi.
"Astaga kau makin cantik sayang," pujinya melihat dandanan gadis itu.
Line hanya tersenyum lebar. Jiwa Mark bangga akan pujian itu.
Sementara itu Rodrigo telah menandatangani kontrak untuk keamanan keluarganya. Menyewa empat bodyguard terbaik. Dua wanita dan dua pria.
"Kami akan datang dua hari lagi Tuan!" ujar ketua dan pemilik dari perusahaan besar berbasis pengawalan itu.
"Baiklah!" ujar Rodrigo mengakhiri sambungan telepon.
Pria itu akan membawa adiknya malam ini secara diam-diam. Ia telah membayar mahal untuk keperluan semuanya.
"Kau benar-benar ...," Rodrigo menghela nafas panjang.
"Andai ayah tau kelakuanmu dik," lanjutnya sambil menggeleng.
Sedang di daerah lain, Mark tampak sibuk bermain dengan kucingnya. Pria itu seakan-akan menumpahkan kerinduan pada binatang itu.
"Kau susul saja dia!" suruh Maria pada putranya.
"Apa mom?"
Mark malas, ia sangat merasakan bagaimana jiwa pria yang menempati tubuhnya berlaku kurang ajar.
Jiwa Line terkejut ketika bangun siang tadi mendapati pusaka pemilik tubuh yang ia tempati mendadak berdiri tegak.
"Jika kau merindukan kekasihmu, kunjungi dia," suruh Maria.
"Apa boleh?" tanya Mark bodoh.
"Sayang, bawa juga ajudanmu itu pergi ya!" suruh Maria lagi.
"Baiklah," sahut Mark sedikit malas.
Jiwa Line merespon tubuh pria yang ia tempati begitu semangat. Bahkan debaran jantungnya seperti berdesir ketika mengingat wajah Roseline.
"Baiklah, tolong jaga Mark untukku Mom. Aku tak mau pemiliknya marah jika hewan kesayangannya itu kenapa-kenapa," kekeh pria itu membuat Maria kesal.
"Pergi kau sana!" usirnya.
Mark memanggil Paul, dua pria itu pun pergi. Tak membawa apapun. Maria menghela nafas panjang.
"Maaf Line, aku menyusahkanmu karena anakku itu," ujarnya menyesal.
"Meong!"
"Oh Mark apa kau lapar?" tanya Maria pada kucing orange yang menggemaskannya itu.
Mark duduk di belakang sedang Paul menyetir. Mereka pergi ke unit penthouse yang dibelikan Maria pada Line.
__ADS_1
"Kau pasti terkejut dengan kedatanganku Line," ujar Mark tersenyum usil.
Bersambung