
Mark sampai penthouse yang dibelikan Maria untuk kekasihnya, Roseline.
"Selamat datang Tuan, Selamat datang di Penthouse ...."
Mark tak mempedulikan seorang gadis cantik yang menyambutnya. Paul mengikuti atasannya, kedua pria itu sudah tau di mana unit yang ditempati Line.
Dolores hanya menganga, ia sudah berdandan habis-habisan..Tapi tak satu pria yang melirik dirinya.
Cheryl tertawa lirih meledek teman sekerjanya itu. Gadis itu menggeleng, sudah berulang kali jika Dolores tak akan bisa menggaet pria kaya raya.
"Kau tak selevel dengan mereka Dolores," hina Cheryl.
Mark sampai pada unitnya. Ia telah menelepon kekasihnya jika ia datang berkunjung. Line yang sedang ada di mansion mendiang kakeknya tentu kalang kabut.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Samantha.
"Aku pulang dulu," jawab Line.
"Sayang?!" teriak Samantha.
Line menuju mobil barunya. Tak lama kendaraan mewah itu keluar dari halaman. Hanya butuh sepuluh menit, kendaraan itu sampai.
Line setengah berlari, Dolores mencibir kedatangan gadis itu.
"Wanita simpanan!"
"Hati-hati dengan mulutmu Dolores!" peringat Cheryl.
"Kau benar-benar bisa kehilangan semua dan menyesali itu!" lanjutnya.
Sampai unitnya, Mark langsung menyambut gadisnya dengan ciuman panas.
"Eemmmpphhhh!"
Line memukul dada Mark karena kehabisan oksigen. Setelah beberapa menit, baru lah pria itu melepas tautan bibirnya.
"Kau!" protes Line dan diberi ciuman lagi oleh Mark.
"Aku merindukanmu," ujar Mark.
Gaya Mark yang tak bisa dikendalikan oleh Line. Paul hanya membalik badannya.
"Kau dari mana?" tanya Mark.
"Dari rumah masa kecilmu," Mark terdiam.
Jiwa Line tentu tak mengerti apa yang direncanakan jiwa Mark.
"Kau tau, ayahmu nyaris dibunuh," lanjut Line.
Paul tentu sudah mengetahui jika jiwa keduanya telah tertukar. Jiwa Line tercenung mendengar berita itu.
Mark masih setia memeluk gadisnya. Line juga masih asik dalam pelukan pria yang hangat itu.
"Paman Rodrigo memintaku untuk menjabat sementara CEO dibantu oleh Simon dan Samuel," jelas Line lagi.
"Apa Elene ada?' tanya Mark.
"Setelah memberi makan ikan pada ayahmu?"
__ADS_1
"Apa? Ayah makan ikan?" tanya Mark.
"Ya, istri ilegalnya memberi makan ikan. Ayahmu terkena gagal limpa dan paru-paru akibat makanan yang ia alergi dan makan overdosis obat anti alergi," jelas Line.
Tubuh Line memeluk tubuh tegap Mark. Gadis itu sedih, respon tubuhnya yang memang butuh pelukan.
"Tenang sayang, ayahmu tak apa-apa," ujar Mark.
"Kau menginap di sini?" tanya Line.
"Ya, aku ingin tidur bersamamu," jawab Mark menggoda gadis itu.
Line berdecak, ia mengurai pelukannya. Mark menarik tubuh gadis itu lagi dalam pelukannya.
"Kau harus bekerja," ujar Line ketika bibir Mark hendak menjamah bibirnya.
"Boleh aku ikut?" pinta Mark.
Line mengangguk, ketiganya pun keluar unit. Ketika mereka bertiga keluar lift bersamaan, bahkan Line digandeng oleh pria tampan.
Dolores menghentak kakinya kesal karena melihat kemesraan keduanya.
"Dasar ular!" makinya tanpa sebab.
"Cukup Dolores!" sentak Cheryl mulai muak dengan kelakuan rekannya itu.
"Apaan sih!" sentak Dolores cemberut.
"Sekali lagi kau menghina customer, aku adukan pada Tuan Pedro!' ancam Cheryl.
Dolores terdiam, gadis itu tentu masih ingin bekerja. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mobil yang ditumpangi Line, Mark dan Paul sampai pada hunian besar.
Ketiganya turun dan masuk dalam mansion. Samantha dan dua anaknya tentu mengenal pria yang berdiri di samping Line.
"Tuan Ortega?" sapa Samuel.
"Tuan Smith!" ujar Mark.
"Tuan Paul Walker!' sapa Samuel lagi.
"Jadi apa hubunganmu dengan pria paling populer ini sayang?" tanya Samantha.
"Kami adalah pasangan kekasih, Nyonya Smith!' ujar Mark memperkenalkan diri.
Sementara di tempat lain, dua insan yang selesai bercinta tampak berpelukan di balik selimut.
"Kau hebat sekali, aku sampai pelepasan lima kali," ujar Elene puas.
"Kau sangat menyukainya. Memang suamimu tak bisa memuaskanmu?" tanya pria bercodet itu.
"Edrick sebenarnya sangat pandai bercinta, tapi aku tak pernah sepuas ini melakukan hal itu dengannya," jawab Elena jujur.
"Aku masih ingin sayang," pinta pria itu lalu menyesap bibir seksi Elena.
Keduanya kembali bergulat dan menyatu dalam gelora nafsu.
Makan malam tiba, mereka makan dengan tenang. Rodrigo sudah sampai di sebuah negara yang aman dan tak ada yang bisa mengganggu adik kandungnya itu.
__ADS_1
"Syukurlah penangannya cepat. Pertolongan pertama yang dilakukan pada pasien sudah sangat tepat!' ujar dokter yang menangani Edrick.
Rodrigo menghela nafas lega. Line telah membuat suatu pertolongan pada ayahnya, dan menyelamatkan jiwa pria itu.
"Aku sangat yakin kau diperdaya oleh perempuan itu," gumam Rodrigo.
Setelah membayar, ia didatangi oleh dua pria. Salah satunya memperlihatkan tanda pengenal.
"Jadi kalian dari perusahaan SavedLived?" tanya Rodrigo.
"Benar Tuan," jawab pria itu membungkuk hormat.
"Darimana kau tau aku di sini?" tanya Rodrigo.
"Keberadaan Tuan terdeteksi oleh ketua kami," jawab pria itu.
"Baik, aku serahkan keamanan adikku pada kalian!' ujar Rodrigo tegas.
Dua pria membungkuk hormat, Rodrigo yang merasa lega akhirnya pulang ke mansion mendiang ayahnya.
Sementara di hunian besar itu, dua wanita datang. Mereka akan mengawal Line untuk dijaga.
"Aku tak perlu penjagaan," rengek Line.
'Anda juga sasaran pembunuhan Nona!" ujar salah satu pengawal wanita.
Line akhirnya menurut, Samuel dan Simon meminta gadis itu tak sendirian. Mark juga mendukung pengawalan itu.
Kalian boleh tinggal di kamar tamu. Govana!" panggil Line pada salah satu maid.
Govana datang, wanita berkulit gelap itu membawa dua pengawal cantik itu ke sebuah kamar tamu.
"Selama ada aku, kalian hanya boleh dari jauh!" tekan Mark posesif.
"Baik Tuan!" ujar dua pengawal cantik itu.
Sementara di kampus, Alyssa tak puas dengan hasil yang ia dapat. Gadis itu gagal untuk menjadi karyawan magang di perusahaan pria yang jadi kekasih temannya itu.
"Apa tak bisa sama sekali?" tanyanya tak percaya.
Alyssa mahasiswi yang cukup cerdas di kampus. Tetapi, Mark menaikkan standar pekerja yang masuk perusahaan.
"Apa perlu menyogok salah satu staf penting perusahaan itu?" gumamnya bertanya.
Nilai gadis itu sebenarnya tinggi, tapi entah kenapa Alyssa tak lolos seleksi tahap awal. Tentu ada kaitannya dengan Mark.
Pria itu benar-benar menutup Alyssa untuk masuk perusahaannya. Jiwa Line yang trauma akan namanya persahabatan yang membuat aturan itu untuk Alyssa sendiri.
Selesai bercinta, Elene dan pria pembunuh telah membersihkan diri. Sang pria tengah mengamati foto seorang gadis.
"Jadi ini adalah putri kandung Edrick Smith?"
"Ya, Roseline Elizabeth Smith. Dia putri dari suamiku," jawab Elene.
"Dia membantingku dengan mudah. Dia kuat juga," gumam sang pria tentunya dalam hati.
Tentu saja ia tak mau memberitahu pada Elena jika dirinya bisa ditaklukkan oleh seorang gadis.
'Mau ditaruh di mana mukaku kalau dia tau!' umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.
Next.