WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
KESIBUKAN


__ADS_3

Line memang berambisi untuk lebih baik dari laki-laki. Jiwanya yang segenius otaknya. Mampu membawa Mark menunju karier gemilang.


"Tuan, apa anda ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan Smith?" tanya Paul.


"Tentu saja, aku punya andil besar dalam perkembangan perusahaan itu!" jawab Mark.


Sudah dua bulan ini ia tak pergi menemui Line. Tubuh yang ditumpangi oleh Mark. Melihat sepak terjang gadis itu sedikit membuat jiwa Line khawatir.


"Dia terlihat dekat dengan beberapa pebisnis tampan. Aku harap dia tak tidur diantara keduanya," gumam Mark lirih.


Paul hanya diam, pria itu tentu sangat tahu bagaimana peringai jiwa dari tuan mudanya itu.


"Ada gala dinner nanti malam dan Nona Smith akan datang Tuan," lapornya.


"Kita ke sana!" ujar Mark lalu berdiri.


"Sayang!"


Mark berdecak, ia sudah berkali-kali mengingatkan para penjaga untuk tidak membiarkan Angela Broks mendekati perusahaannya.


"Lepaskan aku!" teriak Angela marah.


Dua sekuriti tampak memeganginya sedikit takut-takut. Broks masih memiliki nama di dunia bisnis, walau perusahaannya goyah akibat kredit menunggak.


"Sayang ... Aku mencintaimu. Jangan perlakukan aku seperti ini!" teriak Angela.


"Kita tak ada hubungan selain kesenangan Nona Broks!" sahut Mark datar.


Jiwa Line sangat marah dengan perkataan mulut pria ini. Memang jika perkara sifat, jiwa Line tak mampu menguasai karakter playboy Mark.


"Jadi kita tak memiliki urusan selain kesenangan kemarin!" tandas Mark dingin.


Angela tentu sangat sakit hati mendengar perkataan pria pujaannya itu. Ia layaknya wanita penjaja kenikmatan.


"I'm not a *****!" teriaknya.


Mark menatap perempuan itu, pria itu bukan tak tau sepak terjang Angela. Sebuah seringai sinis dan merendahkan Angela.


"You are!" tekan pria itu.


Angela menganga, Mark meninggalkannya. Paul memberikan satu foto di mana ia tengah bergulat panas di ranjang dengan dua pria sekaligus.


"Anda berhadapan dengan orang yang salah Nona!" ujarnya mengasihani sekaligus meledek Angela.


Wanita itu tentu sangat tidak percaya jika dirinya yang seorang player terungkap. Tentu segala cara ia sembunyikan agar tak dapat menjatuhkan martabatnya.


"Itu editan, aku dijebak!' teriaknya.


Angela diseret keluar gedung. Gadis itu nyaris terperosok di tanah jika dorongan sekuriti itu keras.

__ADS_1


"Mohon Nona jangan persulit kami lagi!" pinta salah satu petugas keamanan itu.


"Aku pastikan kalian akan membusuk di penjara!" teriak Angela marah.


Gadis itu akhirnya pergi bersama mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia nyaris menabrak palang penghalang. Sumpah serapah keluar dari mulut wanita itu.


Sementara di hunian lain, Elena sudah mulai besar kandungannya. Ada dua bayi yang hadir sebentar lagi.


Line benar-benar memperhatikan kesehatan perempuan itu. Elena sedikit bersimpati. Walau ia tak bisa menikmati kekayaan suaminya.


"Kau memang sialan Rose, kau seperti ibumu yang penyakitan itu!" umpatnya.


"Jangan mengumpat nona kami yang begitu baik padamu Nyonya Elena!" Teresia mengingatkan wanita yang dirawatnya.


"Uhh ... Dia bergerak!" teriak Elene melihat sebuah tendangan dari dalam perutnya.


Teresia heboh dan merekam pergerakan dua janin yang ada dalam tubuh wanita itu. Elene, begitu terharu, ia dulu tak mau punya anak. Tapi kini ia dapat dua sekaligus.


"Padahal masih enam bulan ya, pergerakannya sangat terlihat!" seru salah satu maid.


Line menatap layar ponselnya, sebuah rekaman bagaimana pergerakan dua janin dalam perut Elene.


"Sepertinya mereka sehat," gumamnya santai.


Jiwa Mark memang tak pernah peduli dengan apapun. Ia hanya mengikuti apa keinginan pikirannya. Walau terkadang ia sendiri membawa tubuh yang ditumpanginya itu melakukan sesuatu yang aneh.


Seperti kencannya kali ini. Seorang pebisnis muda yang cukup tampan. Pemuda itu lebih tua dua tahun dari usia Line.


"Jangan panggil aku seperti itu Tuan Wilberg!" tolak Line dengan senyum indah.


"Kita belum sejauh itu berhubungan," lanjutnya menekankan.


Felix Paulus Wilberg terdiam, ia memang telah jatuh cinta pada gadis cerdas di depannya. Line yang sangat menawan memang jadi incaran semua pria pebisnis. Bahkan ibunya sangat menggebu-gebu ingin mendapatkan menantu seperti Line.


"Tapi, kita akan jadi pergunjingan jika tidak segera melakukan ke jenjang yang lebih serius," sahut Felix beranggapan.


"Kita tak pernah melakukan hubungan apapun Tuan Wilberg. Bahkan kita baru kencan dua kali!" sanggah Line cepat.


Jiwa Mark tentu tak menyukai pemaksaan terlebih adanya hubungan terikat. Ia masih ingin bebas. Terutama, sebentar lagi adalah ulang tahun Line.


"Kita bisa memproklamirkan hubungan kita ketika di ulang tahun ke sembilan belas mu besok!" Felix masih memaksa.


"Tuan Wilberg!" sentak Line marah.


"Ini adalah kencan terakhir kita. Saya tak mau memiliki hubungan lagi dengan anda!" lanjutnya begitu tegas.


Line pergi bersama Mike yang selalu ada di sisinya sebagai bodyguard. Felix hendak mencegahnya, tapi langsung ditepis oleh Mike.


"Hargai keputusan nona kami Tuan!" ujarnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Felix mengumpat ketika Line sudah tak kelihatan. Ia tak mengira jika Line tak suka dengan sebuah ikatan.


"Kukira kau gadis polos Nona Smith. Rupanya kau pematah hati pria!" keluhnya patah hati.


Line duduk di bangku penumpang, Mike berada di depan. Line belum memiliki sekretaris.


"Antar aku ke perusahaan!" pintanya.


Supir membawa mereka ke perusahaan. Gadis itu masih tinggal di hunian yang dibelikan oleh ibu dari mantan kekasihnya.


"Sialan kau Mark!" umpat jiwa Mark.


"Kau tak tau jika hati tubuh ini telah jatuh cinta padamu," lanjutnya bergumam.


Sebagai jiwa yang menumpang, tentu Mark sangat paham. Degup jantung Line ketika melihat wajah pria itu di majalah, belum lagi rona di pipinya.


Makanya sebagai jiwa, ia ingin mengalihkan perasaan Line pada dirinya.


"Bukan maksudku aku tidak menyukaimu Line," ujarnya lirih.


"Tapi aku masih ingin bebas dan menikmati semuanya tanpa beban," lanjutnya.


Tiba-tiba jiwa Mark merasakan getaran hebat di dalam dirinya. Ungkapan jiwanya terbaca oleh tubuhnya. Satu titik bening jatuh.


"Line ... Maaf," ujar Mark penuh sesal.


Tubuh Line mendadak lemas. Mark mengerti perasaan wanita yang sangat sensitif, ia yakin jika tubuhnya sangat merespon penolakannya.


"Aku takut jika kau malah tersakiti karena memilihku Line," ujarnya beralasan.


Line sampai di perusahaannya, banyak orang membungkuk hormat padanya. Gadis itu hanya mengangguk membalas penghormatan para karyawan.


"Nona, sekertaris dan ajudan yang anda minta sudah ada!" lapor kepala manager personalia.


Gadis itu mengangguk tanda mengerti. Ia masuk dan mendapatkan dua perempuan berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan pakaian sedikit ketat.


"Besok jangan pakai baju kekecilan!" perintahnya membuat jiwa Mark berdecak kesal.


"Baik Nona, kami minta maaf!" ujar dua perempuan itu membungkuk hormat.


"Jika kalian keberatan kalian boleh mengundurkan diri sekarang juga!" ujar Line tegas.


Dua perempuan itu tentu tak berani membantah. Mereka baru saja mendapat kesempatan dari sekian banyak kandidat dan persaingan. Tentu mereka tak mau melepas kesempatan yang sudah didapat.


Jiwa Mark menghela nafas panjang. Ia masih harus banyak belajar dari otak yang sangat genius itu.


"Kau mengerikan Line!"


Bersambung.

__ADS_1


yah. . Beda lah sama kamu Mark.


Next?


__ADS_2