
Line menatap pria di depannya. Pria itu menunduk, gadis itu tak menyangka jika pria yang selama ini ia percaya telah berkhianat padanya.
"Paman Benjamin?" pria itu tertunduk.
Pria berprofesi sebagai tukang kebun itu telah bekerja di kediaman itu sebelum Line lahir ke dunia.
"Apa yang paman pikirkan?" Line duduk bersimpuh di depan pria tua itu.
"Aku besar di tanganmu. Kau tega melakukan ini padaku?" tanya gadis itu dengan genangan di pelupuk matanya.
Terkadang jiwa Mark terikut suasana hati tubuh yang ia tumpangi. Sedang Mark menatap datar apa yang terjadi di depannya.
"Aku memang telah lama membencimu Rose!" ujar Benjamin.
"Bohong!" teriak Line.
Benjamin memalingkan mukanya. Erica Margaretha Robinson adalah cinta pertamanya.
Benjamin jatuh cinta pada Erica ketika di bangku sekolah menengah atas. Karena kekayaan Erica, Benjamin tak berani mengungkap perasaannya.
Pria itu mengikuti di manapun pujaan hatinya berada. Hatinya hancur bukan main ketika pernikahan Erica waktu itu.
Tetapi melihat senyum bahagia sang pujaan hati membuat Benjamin merelakan.
"Cinta tak selamanya harus saling memiliki," gumamnya waktu itu.
Benjamin memilih pergi merantau, hingga tak tahan lalu melamar kerja pada kediaman Erica.
"Kenapa kau menerorku? Aku tak tau jika kau mencintai ibuku!" teriak Line tetap tak percaya dengan kisah yang diceritakan Benjamin.
"Karena kau lahir Erica jatuh sakit. Rahimnya lemah dan tak bisa mengandung tapi ia memaksa hamil dirimu!" jawab Benjamin dengan suara keras.
"Ayahmu juga sangat keterlaluan!" lanjutnya setengah mengumpat.
"Erica begitu menderita ketika hamil dirimu. Tapi Edrick malah sibuk dan sibuk. Ia tak peduli dengan istrinya!" lanjutnya dengan berapi-api.
"Terlebih ketika kau lahir. Ibumu tak mau menyewa perawat satupun dan bersikeras merawatmu!"
"Itu bukan mau ku!" teriak Line.
"Memang bukan maumu. Tapi jika kau tak hadir, dia masih hidup!"
Plak! Line menampar keras pipi Benjamin. Tak menyangka kasih sayang pria itu palsu semua.
Line histeris, jiwa Mark tak mampu mengendalikan emosi yang membakar hati tubuh yang ia tumpangi.
Line lemas, gadis itu terbaring begitu saja di lantai. Mark gegas menggendongnya.
Benjamin meneteskan air matanya. Pria itu memang begitu membenci anak dari wanita pujaannya itu.
"Nona Smith tak memiliki salah apapun, Tuan Vork," ujar Mike pada pria itu.
Mark membawa Line menuju kondominium miliknya. Pria itu langsung masuk kamar ketika sampai di hunian mewahnya itu.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Line pada sosok tinggi di depannya.
Mark menatap gadis yang terbaring lemah di kasur empuknya.
"Jiwaku hancur, seperti hati yang kau rasakan sekarang," jawab Mark.
"Tiga pria yang aku sayang, berkhianat padaku," ujar Mark.
Tangan keduanya saling menggenggam. Mark yang pusing mendadak mencengkram erat rambutnya. Line pun sama.
Tiba-tiba dua jiwa kembali ke tempatnya. Line menangis tersedu mengingat pria-pria yang ia sayangi malah berkhianat.
"Aku benci mereka ... aku benci!" teriaknya.
Mark hanya diam, pria itu memeluk erat kekasihnya. Ia juga seorang pria berengsek. Makanya ia tak mau berkomitmen pada hubungan apapun selain kenikmatan dan kesenangan pribadi.
"Pamanmu Rodrigo setia, Line," ujar Mark.
Tangisan Line reda. Gadis itu benar-benar hancur. Ia sudah tak mempercayai namanya laki-laki.
"Kau harus lihat pamanmu. Beliau juga laki-laki dan dua kakak sepupumu itu," lanjut Mark mengingatkan.
Mark hendak berdiri, pria itu sedikit lapar karena memang tadi tak sempat sarapan.
Kasus teror yang dialami Line membuatnya bekerja sedikit keras. Beruntung ada para pengawal yang kesigapannya sama dengan prajurit.
"Tunggu!"
"Sudah lah Line .. Aku lapar!" teriak Mark.
Mark menatap malas, sikap pria itu yang memang enggan berpikir. Selama ini ia telah cukup lelah berpikir.
"Apa? Aku tak mengerti?!" serunya kesal.
"Jiwa kita kembali!' seru Line.
Mark terdiam, ia menatap gadis yang bangun dari tidurnya. Line masih lemah jadi ia terduduk kembali.
"Jangan paksa dirimu Line," ujar Mark.
Pria itu menatap gadis yang berwajah sedikit pucat itu. Perlahan ia membelai pipi halus Line, lalu jemarinya mengusap bibir pink alami milik sang gadis.
"Mark!" peringat Line.
Pria itu langsung menyergap bibir sang gadis. Line yang lemah tak mampu melawan. Ciuman itu makin dalam dan menuntut.
Perlahan, Mark membaringkan tubuh Line di atas busa empuk. Ia menindih tubuh kecil di bawahnya.
Ciuman itu makin lama makin panas. Bibir Mark menyusuri leher sang gadis. Line tampak pasrah, ia benar-benar lemah.
Walau air matanya mengalir. Ia sangat yakin Mark hanya ingin melampiaskan nafsunya saja.
"Please stop it!" pinta gadis itu lirih.
__ADS_1
"You'll be enjoy it. Just relax sweety," ujar Mark dengan nafas berat.
Pria itu membuka kemejanya begitu saja. Ia melemparkan pakaian itu sembarangan.
Tampak otot-otot dada pria itu sangat menawan. Tangan Mark membimbing tangan Line untuk mengelusnya.
"Mark ... Please," pinta Line lirih.
Mark seperti tuli, ia kembali memburu ciuman dari bibir sang gadis. Line memalingkan muka. Tapi Mark bersikeras, hingga ....
Kriuuk! Mark mengehentikan kegiatannya. Line sampai menatapnya dengan kening berkerut. Ketika Mark hendak mencium bibir gadisnya, lagi-lagi perutnya berbunyi.
"Ah ... f***k!" umpatnya.
Line bisa bernapas lega. Gadis itu nyaris saja kehilangan mahkota yang ia jaga. Line memang sedikit kolot. Ketika berpacaran dengan Deon hanya sebatas ciuman bibir saja.
Walau mantan pacarnya itu berusaha agar Line mau tidur dengannya. Tapi, gadis itu menolak keras.
"Aku akan masakkan untukmu," ujar Line lalu menghapus jejak basahnya.
Mark memijit kepalanya yang pusing berat. Adiknya tadi sempat terbangun dan berdiri tegak. Gara-gara bunyi perutnya. Pria itu harus menidurkan lagi benda pusakanya yang belum terlalu lemas.
Usai makan, mereka harus kembali ke mansion karena Samantha meminta mereka kembali.
Cheryl selalu membungkuk hormat ketika pasangan itu pulang atau pun pergi. Dolores sudah tidak bekerja lagi. Gadis itu berhasil mendapat incarannya.
"Mudah-mudahan dia bahagia," gumam Cheryl mengingat teman kerjanya itu.
Sepuluh menit sampai mansion. Paul tak mengikuti Mark lagi. Pria itu kini menghandle semua pekerjaan, Erick membantunya.
"Aku tak menyangka jika Ben sehina itu," ujar Samantha.
"Kau tak apa sayang?" tanyanya pada Line.
Line tiba-tiba menangis. Hatinya hancur. Samantha dapat melihat luka gadis itu. Ia pun memeluk keponakannya.
"Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa. Ada kami di sini bersamamu," ujar Samantha menenangkan Line.
Malam menjelang, Mark akhirnya pamit. Ia merasa sudah selesai membantu gadisnya itu.
Line menatap mobil mewah milik pria yang masih jadi kekasihnya. Keduanya belum memutuskan apa yang hendak mereka lakukan.
"Jiwa kita sudah kembali. Apa yang kita lakukan selanjutnya? Apa putus?" tanya Line lirih.
Mark tidak menjawab, pria itu hanya mengeluarkan helaan nafas besar.
Line tertidur dengan air mata berderai. Hatinya lagi-lagi hancur.
"Jangan jatuh cinta pada pria berengsek Line!"
Bersambung.
Wah ... Jiwa keduanya kembali!
__ADS_1
Next?