WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
TARGET


__ADS_3

Line menatap lembaran foto yang ia dapatkan darti seorang pria. Pria itu berwajah bengap. Tampaknya kekuatan dari pengawalan SaveLived benar-benar tak bisa dianggap enteng.


“Kami mendapatkan dia tengah mengendap-endap di sekitar pagar Nona!” lapor Mike, salah satu pengawal.


“Apa maksudmu dengan mem-fotoku?” tanya Line.


Foto-fotonya tengah berciuman dengan Mark. Memang foto itu diambil dari jauh dan atas pohon. Melihat kamera dengan menggunakan lensa yang cukup canggih. Line menduga jika pria itu bukan orang sembarangan.


“Lensa ini cukup mahal. Kau bukan paparazi!”


“Dia memiliki gangguan mental yang menyukai foto-foto mesum untuk fantasi hasratnya,” jelas Mike lagi.


“Kau tau dari mana?” tanya Mark.


“Dia tadi ... maaf ... menciumi foto nona dan menggosoknya di alatnya,” jawab Mike.


Dug! Mark menendang wajah pria itu. Ia benar-benar marah. Line mengepal, ia juga ingin memukuli pria itu. Tapi wajah orang itu sudah tak berbentuk lagi.


“Nona saya menemukan yang lain!” ujar Sandra.


Gadis itu menyerahkan satu laptop dan isinya banyak perempuan dan laki-laki tengah melakukan hubungan badan. Line men-scroll semua gambar hingga menemukan satu foto yang ia kenali wajahnya.


“Elena?”


“Kau mengenalnya?” tanya Simon.


“Dia istri ilegal ayahku,” jawan Line.


Bunyi ponsel Line berbunyi, ia diberi tahu jika ada pengeluaran uang yang digunakan wanita itu. Line mengernyit. Karena bukan hanya pembayaran hotel saja yang tertera di sana. Tapi sebuah transfer pada sebuah rekening.


“Bastian Codward?”


“Pemain baseball itu?” tanya Mark yang mendengar nama itu.


“Ya,” sahut Line sinis.


“Apa dia pemain baseball yang tiba-tiba bermain buruk itu?” tanya Samuel, menyela.


“Kau nonton olah raga itu?” tanya Mark penasaran.


“Dia bertaruh banyak pada tim tim FullBoom,’ ledek Simon.


“Aku tak tau jika dia memang separah itu mainnya. Padahal tadinya Bastian salah satu pemain yang diunggulkan. Tim nasional tengah mengincarnya,” jelas Samuel kecewa.


“Kau tau sebabnya?” tanya Line ikutan penasaran.


“Aku tak tau. Tetapi aku tak melihat pria berkulit hitam yang selalu mengikutinya. Semenjak itu, Bastian selalu melakukan kesalahan dalam bermain,” jawab Samuel.


“Jadi bertaruh berapa untuknya?” tanya Mark.


“Dua ratus,” jawab Samuel.


“Ribu?’ tanya Mark.


“Juta,” jawab Samuel sedikit lirih dan melirik ibunya yang tengah duduk bersama suaminya.


“Mom ... kakak ....”


“Diam kau bodoh!” Samuel membekap mulut adiknya.

__ADS_1


“Mommmmm!”


“Apa yang kau lakukan pada adikmu!” sentak Samantha.


“Mom ...,” Samuel melepas bekapan di mulut adiknya.


“Mom dia ....”


“Aku bisa memberitahukan jika kau menyimpan majalah .....”


”Apa Sam?” tanya Samantha.


“Kakak adalah pria terbaik Mom!” sahut Simon.


“Jangan membodohiku!” tekan Samantha menatap dua putranya.


“Sudahlah sayang. Jika kau mendengarkan mereka, darah tinggi mu akan naik lagi,” ujar Rodrigo.


“Jadi dia mau diapakan?” tanya Mike menunjuk pria yang sudah pingsan akibat dipukuli tadi.


“Lepaskan saja, kita sudah menghapus semua fotonya,” ujar Line.


Kamera itu dibanting ke lantai dengan begitu keras. Hancurlah benda itu sampai rusak.


“Itukan mahal!” sahut Mark melotot.


Jiwa Line merasa sayang, berbeda dengan jiwa Mark yang menatap malas pria di sampingnya. Pria asing itu dibawa oleh dua pengawal pria.


“Nak, bagaimana jika kau bekukan kartu debit milik wanita ular itu?” sebuah saran dari Samantha.


“Hanya ayah yang bisa lakukan itu,” jawab Line sedikit mengeluh.


“Kalau begitu kita harus menemui pengacara agar status Line sebagai ahli waris satu-satunya diumumkan!” ujar Rodrigo.


“Kak Sam dan kak Sim gimana?” tanya Mark tiba-tiba.


“Astaga kenapa aku geli sendiri kau memanggilku kakak?” decak Simon sebal.


Line menyikut Mark, ia sedikit kesal. Kali ini jiwa Mark yang ingin semua rahasia mereka tetap tidak dibongkar.


“Paul menelepon!!” ujar Mark ketika ponselnya berdering.


“Halo Paul!”


“Tuan banyak sekali manager yang bekerjasama ingin menggulingkan Tuan Smith dari kursi pemimpin!” lapor Paul.


“Bisa diketahui sebabnya?” tanya Mark.


“Mereka dihasut oleh Elene Mayers. Wanita itu menjanjikan posisi dan jabatan penting,” jawab Paul di seberang telepon.


“Apa mereka bodoh jika melakukannya. Lagi pula apa kedudukan Elena di sana sampai orang percaya padanya?” tanya Mark.


“Sebagian menjalin hubungan di luar pengetahuan pasangan mereka tuan!” lapor Paul yang membuat jiwa Line tertawa.


‘Pelacur tetap saja pelacur!’ hinanya dalam hati.


Sementara di hotel, Elena sudah merasa tak betah. Keuangannya mulai menipis. Kehidupan mewah selama ini ia jalani ketika bersama Edrick menjadi kebutuhannya.


Bastian selalu datang ke kamarnya, pria muda itu memang ketagihan bercinta dengan Elena. Selain itu ia mendapat bayaran lebih.

__ADS_1


“Nyonya,”


“Maaf Bas ... aku tengah kedapatan siklus ku,” tolak Elene berbohong.


“Aaah!” keluh Bastian protes.


“Maaf,” ujar Elena menyesal.


Bastian akhirnya pergi dari kamar mewah wanita itu. Elene berpikir untuk segera pergi dari hotel sebelum ia kehabisan uangnya. Ia segera mengemasi beberapa pakaian dalam koper kecilnya dan cek out dari sana.


“AKu harus menyewa rumah yang kecil agar bisa bertahan hidup!” ujarnya bergumam.


Elena pergi ke sebuah kawasan menengah. Rumah-rumah cluster banyak disewakan di sana. Ia sangat beruntung mendapat sebuah hunian sedikit miring harganya.


“Peralatan komplit nona. Bisa dibilang pemiliknya hanya ingin huniannya dijaga,” jelas agen properti itu.


“Baiklah aku ambil ini,” ujar Elena.


Yang disesali wanita itu adalah ia tak mengambil kendaraan sport yang dihadiahkan Edrick sebagai malam pertama mereka. Elena memang bisa memuaskan pria itu.


Edrick yang merasa bosan dengan perkawinannya, terlebih istrinya yang begitu lembut. Pria itu enggan menyentuh sang istri karena tak menggairahkan sama sekali.


“Huueekk!!’ Elena mual.


“Huueeek!” cairan bening yang begitu pahit keluar dari mulutnya, ia pun terbatuk.


“Aku kenapa?” tanyanya bingung.


Wanita itu sedikit termenung, lalu melihat tanggal. Sudah satu minggu ia terlambat datang bulan.


“Apa ini anak dari ....”


Elena menggeleng, seminggu sebelumnya ia sempat bercinta hebat dengan Edrick. Sebuah senyum tersungging di wajahnya.


“Ah ... kau penyelamat hidupku nak!” ujarnya senang.


Malam telah larut, Samantha melarang Line kembali ke penthouse miliknya. Mark sedikit kesal karena pria itu gagal tidur seranjang dengan kekasihnya.


“Biar Paul yang tidur di penthouse, kau tidurlah di ruang tamu!” ujar Rodrigo.


“Sayang,” rengek Mark manja.


Pria itu menaruh dagunya di bahu sang gadis. Embusan nafasnya hingga ke telinga Line sampai membuat perempuan itu kegelian.


“Kau bisa melakukannya di malam pertama setelah pernikahan kalian Mark!” kekeh Simon meledek.


“jangan bilang kalian masih perjaka!” sindir Mark.


“Oh ayolah Mark?” sahut Line memutar mata malas.


“Aku yakin di bawah kasurnya banyak majalah porno disembunyikan!” lanjutnya menuduh dua kakak sepupunya itu.


“Samuel? Simon?” Samantha menatap dua putranya datar.


“Hais ... sudah, biarkan mereka sayang. Itu normal!” ujar Rodrigo lalu membawa istrinya ke kamar.


Bersambung.


Next?

__ADS_1


__ADS_2