
Dua tahun pernikahan Mark dan Line. Bukan hal mudah bagi keduanya. Terlebih, Line yang lebih dominan di bidang bisnis di banding Mark.
Cover majalah bisnis kini berganti dengan wajah cantik Line. Wanita yang kini tengah hamil besar itu dijuluki "Singa Bisnis".
Namun siang itu terjadi kegemparan. Semua pebisnis kaget ketika Line menyatakan mundur dari bidang yang telah membesarkannya selama dua tahun ini.
'Nyonya Ortega, anda telah mengalahkan bisnis suami anda. Kenapa anda memilih mundur?" tanya salah satu kolega.
"Saya hendak fokus pada kelahiran dan bayi saya nanti!" jawab wanita itu lalu mengelus perutnya yang kini berusia delapan bulan.
"Anda kan bisa mengurus sambil bekerja. Banyak wanita karir melakukan itu!' sahut rekan bisnis lain.
"Saya mau fokus pada keluarga," jawab perempuan itu.
"Lagi pula, suami saya enggan saya bekerja," jawab Line.
Marcus dan Maria membebaskan menantunya memilih. Sedang Edrick juga tak mau membebani anak perempuannya. Pria itu memulai kembali bisnis yang telah dibangkitkan oleh sang putri.
"Dia genius seperti ibunya," gumam Erick menatap foto besar sang istri di ruang tengah.
Line menempatkan gambar ibunya di sana. Hanya ibunya, wanita hamil itu menolak ketika Erick membuat foto keluarga.
"Untuk apa? Mommy sudah tiada. Beliau tak lagi merasakan kehadiran kita!" tolak Line.
"Nak ...."
"Sudah lah! Aku hanya ingin wajah ibuku saja ada di sini!" lanjutnya memutuskan.
Erick tak bisa mengelak lagi. Pria itu hanya memasrahkan apa yang diinginkan putrinya. Memang ia salah di sini.
''Andai waktu bisa diputar ...," khayal pria itu percuma.
Sementara itu Mark sedang ada di perusahaannya. Paul dan Erick sangat membantu pria itu, terlebih Erick.
"Jadi kita harus memeriksa sendiri semuanya?" keluh Mark.
Dua tahun semenjak kembali jiwa pada tubuhnya. Ia benar-benar kaget. Terobosan Line istrinya membuat perusahaan yang baru dirintis menjadi sangat pesat.
'Dia mengerikan sekali!' umpat Mark dalam hati.
Selama dua tahun itu, Line merebut posisi sebagai pebisnis handal. Mark tentu telah berusaha sebisa mungkin agar sejajar dengan istrinya.
"Anda mesti belajar banyak dari Nyonya, Tuan," bisik Paul yang tau segalanya.
Mark menghela nafas besar. Line memang mampu jika ditakdirkan sebagai laki-laki sekalipun. Sedang ia sangat kesulitan ketika menjadi perempuan.
"Jangan ingatkan aku Paul!" sungut Mark.
Paul menghela nafas panjang. Pria itu banyak belajar dari Line ketika jiwanya berada dalam tubuh atasannya itu.
"Nyonya mengundurkan diri dari bisnis Tuan," ujar Edrick memberikan satu majalah bisnis.
Di judul majalah itu terpampang jelas, " Mundurnya Singa Bisnis". Mark tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kok dia makin cantik ya?" pujinya mengelus cover majalah yang terpampang wajah istrinya.
Line kembali memotong rambutnya pendek setelah jiwanya kembali. Wanita itu memang tak suka dengan rambut panjang.
Sore menjelang, Maria dan Marcus datang. Mereka menanyakan kebenaran berita yang ada di majalah.
'Apa ini benar sayang?" tanya Marcus.
"Iya Dad, aku ingin mengurus sendiri anak-anakku," jawab Line mengelus perutnya yang membuncit besar.
Dua janin tumbuh di rahimnya. Di pastikan jika salah satu janin berjenis kelamin laki-laki, sedang yang satunya lagi menyembunyikan diri.
"Apa tidak sayang nak? Karirmu sedang ada di puncak?" tanya Marcus merasa sayang.
"Tidak Dad. Aku ingin menjaga anak-anakku," jawab Line tegas.
Marcus akhirnya membiarkan menantunya menjadi ibu rumah tangga. Maria juga mundur dari kegiatan bisnisnya. Ia ingin jadi nenek seutuhnya untuk dua cucu nya.
'Arrghh!" pekik Line tiba-tiba.
"Sayang!" teriak Mark cemas.
Line dilarikan ke rumah sakit. Para awak media tentu langsung menyerbu di mana wanita pebisnis hendak melahirkan.
Mark meminta Paul dan Erick menutup semua informasi tentang kelahiran buah hatinya.
"Aku bunuh mereka jika ada yang berani memfoto atau mengabadikan proses kelahiran dua bayiku!' ancam Mark tak main-main.
Mike yang ada di sana tentu bisa diandalkan. Para pengawal masih bertugas tiga tahun lagi. Semua akses informasi ditutup dengan kecanggihan bravesmart ponsel.
"Tapi bayinya dua. Kami tak menjamin keselamatan ibu dan buah hatinya," ujar salah satu dokter.
"Tidak, aku percaya jika aku dan dua anakku baik-baik saja!" teriak Line marah.
"Pindahkan aku dari rumah sakit ini!" lanjutnya histeris.
Line yang tengah hamil tentu bersinggungan dengan hormon yang meledak-ledak. Selama kehamilan, Mark adalah korban kekerasan wanita itu.
"Sayang," pinta Mark memohon.
"Untuk kali ini, menurutlah," lanjutnya.
Melihat sang suami yang bersimpuh, membuat Line luluh. Akhirnya ia mau dioperasi Caesar.
"Biayanya ...."
Bug! Satu bogem mentah diluncurkan Marcus. Dokter itu sampai terjengkang ke belakang. Beberapa perawat tentu menolong dokter.
"Andi! Cari info dokter itu. Jika tak beres, bekukan semua ijin dan cabut gelarnya!" perintah Marcus.
"Sayang," peringat Maria tapi ia tersenyum sinis menatap dokter yang bermuka pucat.
Akhirnya Line ditangani oleh dokter yang lain. Ternyata wanita itu hanya mengalami kontraksi palsu.
__ADS_1
"Tidak masalah, itu normal bagi wanita hamil trimester terakhir," jelas dokter perempuan itu ramah.
"Masih butuh lima minggu lagi untuk janin keluar dari rahim ibunya,"
Akhirnya Line kembali pulang ke rumah. Banyak berita beredar tentang tidak jadinya istri pebisnis kaya raya itu melahirkan.
"Hanya kontraksi palsu ke rumah sakit? Menggelikan sekali! Apa dia tak bisa membedakan antara mau melahirkan beneran atau tidak!" sindir salah satu pen-tweet.
"Dasar orang kaya. Belum apa-apa aja ke rumah sakit!" tulis salah satu lagi.
Tak ada yang peduli dengan komentar miring itu. Mark tengah mengelus perut istrinya, ia mengecup perlahan
"Jangan buat mommy kalian kepayahan sayang," pintanya.
Hari demi hari berlalu. Waktu lahiran pun diambang pintu. Line dilarikan lagi ke rumah sakit ketika waktu dini hari.
Satu jam berlalu di kamar persalinan. Mark dilarang masuk karena pria itu tak berhenti menangis.
"Tuan," Paul menenangkan atasannya.
Lalu terdengar tangisan kencang dari dalam. Mark dan Paul berdiri, selang tiga menit terdengar suara tangisan bayi lagi.
"Dua ... Anakku dua Paul!" sorak Mark bahagia.
Paul tersenyum lebar. Ia sudah tau jika janin dalam perut istri atasannya itu adalah kembar. Hingga sepuluh menit kemudian terdengar tangisan bayi lagi.
Dokter keluar dengan senyum lebar.
"Selamat tuan anda memiliki tiga jagoan sekaligus!" lapornya memberitahu.
"Puji Tuhan!' teriak Paul.
Mark menangis haru. Paul memeluk atasannya dan memberikan selamat.
Pagi datang, Marcus dan Maria sudah ada di sisi tiga cucunya yang terlelap. Maria memandang berbinar ketiganya sangat mirip putranya.
"Hanya yang bungsu bermanik seperti ibunya," ujar Marcus bahagia.
"Aku tak peduli, mereka adalah keturunanku!' sahut Maria masabodoh.
Dua hari kemudian, triplet Ortega pulang ke rumah. Tubuh Line sedikit gemuk.
"Kamu berdaging sayang," kekeh suaminya menggoda.
"Mommy!" teriak Line mengadu dengan mata berkaca-kaca.
"Mark! kau!" pekik Maria memarahi putranya.
Mark memperkenalkan triplet pada awak media ketika pembaptisan.
"Ini Mario Philip Ortega, Edward Dominggus Ortega dan Juan Marcus Ortega!" jelasnya memperkenalkan ketiga anaknya.
Tamat.
__ADS_1
Akhirnya...