
Malam telah datang, sebuah hotel bertaraf internasional mendadak jadi sorotan karena mengadakan acara gala dinner untuk semua pengusaha di benua adi kuasa itu.
Mark adalah pelopor dari acara itu. Pria itu berhasil mengakusisi sebuah hotel yang nyaris bangkrut akibat penyelewengan keuangan.
Jiwa Line yang genius melihat peluang besar. Maria sangat bangga akan gerak cepat putranya itu.
Marcus dan istrinya hadir, keduanya turun dari mobil Limosin mewah. Marcus menarik lengan istrinya posesif dan mengalungkan di lengannya.
Marcus memang pria pencemburu. Maria sangat cantik dan tubuhnya juga masih seksi walau usia sudah tidak muda lagi. Lyn dan Deon ada di belakang pasangan kaya raya itu.
"Tuan, apa benar putra anda telah memutuskan hubungan dengan putri dari Tuan Smith?" tanya wartawan.
"Gosip dari mana itu!?" sanggah Maria tak suka.
"Roseline adalah calon menantuku. Aku tak setuju gadis manapun mendekati putraku!" tekan wanita itu kesal.
"Tapi sudah empat bulan ini, kami tak melihat putra anda berkencan dengan Nona Smith! Sedang Nona Smith sudah beberapa kali tampak tampil berdua dengan beberapa pebisnis tampan!" ujar wartawan.
Maria hendak menyenggrang, tapi sang suami menarik istrinya ke dalam. Ia sangat tau perangai Maria. Wanita itu keras kepala dan sangat bar-bar.
"Sayang," peringat Marcus.
Maria mencebik, ia sangat kesal pada putranya yang lamban dan terkesan acuh. Di mana-mana semua ibu tengah memperebutkan Roseline untuk dijadikan menantu.
"Mana anak itu, biar kupukul dia!" umpatnya kesal.
"Sayang ... Sudahlah, jangan bikin keributan dan malah membuat malu!" ujar Marcus menenangkan istrinya itu.
Maria cemberut, ia duduk dengan muka ditekuk. Semua kolega yang menyapa tak ada yang berani mengganggunya.
Akan rumit urusannya jika wanita yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya itu marah. Terlebih Marcus pasti tidak diam saja jika istrinya diganggu.
"Ladies and gentleman selamat datang di acara gala dinner ...."
Pembawa acara memulai acara. Mark belum hadir, begitu juga Line. Rupanya sang gadis terlambat.
Pintu terbuka, semua menoleh. Line berjalan anggun dengan pandangan lurus. Ia memakai gaun seksi warna hitam dengan potongan dada rendah.
Tubuh Line yang indah terekspos sempurna. Perhiasan berlian yang dipakai juga mampu memukau semua yang menatapnya.
Jiwa Mark mendandani tubuh yang ia tumpangi itu. Jiwa pria itu sangat bangga dengan karya ciptanya.
"Sayang!" panggil Maria.
Line tersenyum cerah, jiwa Mark merindukan ibunya. Maria langsung memeluknya dan membawanya ke bangku eksklusif. Wanita itu cepat mengklaim jika Line adalah miliknya.
"Hai mom, apa kabar?" tanya Line.
"Aku baik sayang, kau cantik sekali!" puji Maria sekaligus menjawab.
Rambut Line yang sudah panjang, digelung ke atas dan memperlihatkan lehernya yang jenjang. Maria begitu puas menatap gadis itu.
"Kau memang sempurna!" pujinya lagi.
__ADS_1
"Mommy terlalu berlebihan," ujar Line merendah.
"Tuan dan nyonya-nyonya. Mari kita sambut penyelenggara acara ini. Tuan Mark Philip Ortega!"
Semua menoleh pada pintu besar yang terbuka. Mark datang dengan setelan tuxedo warna hitam berbahan sutera terbaik.
Pria itu begitu tampan, semua kaum hawa menatapnya penuh pemujaan. Selama setengah tahun Mark mampu menaikkan standarnya sebagai pebisnis yang patut ditakuti.
Jiwa Line benar-benar membuktikan jika dirinya akan jauh lebih baik jika menjadi pria.
Marcus mendatangi putranya dengan bangga. Ia memeluk dengan erat.
"I'm so proud of you!"
"Thanks dad. Ini juga berkat kesempatan darimu," sahut Mark berterimakasih.
"Ucapkan terima kasih pada ibumu Nak. Dia lah yang membuatku untuk memberi kesempatan itu!"
Mark mendekati ibunya. Mata Maria berkaca-kaca, ia begitu haru.
"Sayang,"
"Mom,"
Ibu dan anak itu berpelukan. Banyak media menyoroti. Kedekatan Mark dengan orang tuanya menjadikan saham perusahaan milik keluarga Ortega naik.
Mark melirik Line, jiwa Mark kesal dengan lirikan pria yang begitu menyebalkan.
"Ini semua berkatmu Mom. Aku tak bisa tanpamu," ujar Mark.
Kini semua pebisnis mulai merapat. Mereka menyodorkan berbagai macam kerjasama.
Jiwa Line tentu menarik perusahaan keluarga ayahnya itu. Karena memang proposal yang dibuat oleh Mark sangat menguntungkan.
"Tapi nilai profitnya sangat kecil!" seru salah satu pebisnis protes.
"Memang, tapi jika dilihat jangka panjang. Profit kecil ini justru abadi dan selamanya!" ujar Mark.
Line mengangkat dagunya. Walau otak gadis itu yang bekerja tapi jiwa Mark berkontribusi pada proposal yang dibuat.
Gala dinner sukses dengan gemilang. Beberapa pengusaha puas dengan apa yang didapat juga ada sebagian kecewa walau akhirnya menerima karena memang tak memiliki profit sama sekali.
"Oh ya, saya juga mau mengumumkan sesuatu!' ujar Marcus tiba-tiba.
Semua pebisnis dan wartawan tentu heboh. Maria senang dengan apa yang hendak diungkapkan oleh suaminya itu.
Ia mendekatkan Mark dan Roseline. Wanita itu menyandingkan keduanya.
"Saya akan melamar Roseline Elizabeth Smith untuk menjadi menantu saya!'
"Apa?!" seru Line terkejut, tentu jiwa Mark menolak.
"Saya menerima itu!' sahut Mark santai.
__ADS_1
Line kesal tentu jiwa Mark yang seperti itu. Mark tersenyum manis. Jiwa Line tidak ingin jiwa pria itu menodai tubuhnya suatu hari nanti.
Bukan ia tak tau. Tapi apa yang dilakukan Mark pada tubuhnya sangat terasa.
"Kau licik!" bisik Line, tentu jiwa Mark yang mengatakan itu.
"Daripada kau menyerahkan keperawananku pada sembarang pria," sahut Mark yang tentu jiwa Line yang menjawab.
"Saya akan cepat menikahinya!" ujar Mark lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Mark!" peringat Line.
"Sayang,"
Mark lalu mencium bibir gadis itu dan mengulumnya di depan banyak orang.
Sepasang mata menatap di layar kaca dengan air mata berderai. Tampak maskara ikut meleleh akibat air mata itu.
"Kau kurang ajar Roseline!" umpat wanita itu.
Gegas ia hapus jejak basah di pipinya. Ia mengambil ponsel di atas nakas.
"Halo ... Bunuh Roseline Elizabeth Smith!" suruhnya.
"......!"
"Aku bayar dua kali lipat!"
"Baik," jawab pria di seberang telepon.
Sambungan telepon terputus. Pria bercodet tersenyum. Dulu ia gagal membunuh ayah gadis yang kini ada di layar kaca.
"Kita akan bertemu lagi nanti!" ujarnya menyeringai sadis.
"Roseline!"
Pria itu membuka peralatan pisauya. Matanya menilik pada deretan pisau yang tersusun.
"Kau pasti menjerit kesakitan ketika benda ini menoreh di wajah cantikmu .. Line ...," gumamnya dengan kilatan mata membunuh.
Sedang di hunian besar. Jiwa Mark menatap lesu ayah dan ibunya yang sibuk mempersiapkan pesta pertunangan dirinya dengan pria yang duduk dengan santai.
"Ah ... Sudahlah, mungkin dengan menikah aku bisa menahan hasrat ini!" ujarnya pasrah dalam hati.
"Sayang, kau ingin gaun yang seperti apa untuk pesta pertunangan nanti " tanya Maria antusias.
"Terserah Mom, aku menurut saja," jawab Line tentu jiwa Mark begitu pasrah.
Bersambung
Wah
next?
__ADS_1