WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
KEMBALINYA JIWA 2


__ADS_3

Di sebuah tempat, terjadi gempa kecil. Batu-batu tampak bergeser dari tempatnya.


Di situs kuno, banyak arkeologi datang, padahal tempat itu sudah di segel oleh pemerintah setempat.


"Astaga apa tadi kita baru terjadi gempa?" tanya salah satu arkeolog.


"Iya, beberapa batu di sini bergeser!" jawab yang lainnya.


"Kembalikan ke tempat semula!' perintah ketua dari penyelidikan.


Beberapa orang tampak menggeser-geser batu dan meletakkan sesuai letaknya.


Tiba-tiba, ketika batu altar digeser. Para arkeolog tak menyadari jika semua garis elemen menyala.


Aliran cahaya itu merambat dari satu garis ke garis yang lain. Hingga ketika dilihat dari atas garis-garis itu tampak terhubung dan menjadi satu komponen.


Dua belas rasi bintang berputar. Dua diantaranya adalah bintang Sagitarius dan Aries.


Dua rasi itu tampak bergerak dan ingin jadi satu. Dua rasi itu perlahan-lahan mulai mendekat. Lalu ....


Brug! Aduh!


"Hati-hati!"


"Aku tidak apa-apa!" ujar pria yang tak sengaja menggeser batu altar.


Semua cahaya mendadak hilang. Gambar dua rasi sudah kembali seperti semula dan berwarna pudar.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" sebuah suara mengagetkan para arkeolog.


"Ah, tuan ... Kemarilah!" ujar ketua penelitian.


Pria penjaga alam mengerutkan kening. Arkeologi itu menghampiri, lalu tiga lembar dolar ia sisipkan di saku seragam pria penjaga itu.


"Anda bisa menolong kami ..."


"Kalian ingin merusak cagar situs?"


"Kami hanya menelitinya tuan!" bantah ketua tim.


"Tapi ini sudah disegel. Anda melanggar hukum jika meneruskan penelitian ini!" ujar penjaga.


"Tidak ada yang harus tau Tuan!" tekan kepala tim peneliti.


"Sayangnya, anda sudah diketahui!" ujar petugas itu lalu mengambil uang yang diselipkan di sakunya.


"Tolong tinggalkan ini sebelum saya panggil petugas lain. Jangan geser batu sembarangan!" peringat petugas itu.


Ketua tim menghela nafas panjang. Sudah banyak uang ia kucurkan untuk meneliti tempat ini. Tapi sepertinya kenekatannya kali ini harus mengalami kegagalan.


"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanyanya.


"Kami masih memprediksi jika ini adalah peninggalan salah satu pecahan suku Maya," jawab anak buah tim.


"Tapi bisa jadi ini seperti Stonehenge yang ada di Jogjakarta, Indonesia!" lanjutnya.


"Kita harus pergi sebelum kita masuk penjara!" ujarnya.

__ADS_1


Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu tanpa hasil apapun. Situs itu kembali berlumut dan gelap seiring matahari tenggelam.


Pagi menjelang, Line masih terlelap di ranjang. Gadis itu sepertinya masih malas untuk membuka mata. Kejadian kemarin menguras tenaga juga pikirannya.


Bunyi alarm di jam tangan membangunkannya. Dengan mata terpejam, Line bangkit dari ranjang yang empuk.


"Astaga, aku kebelet sekali!"


Line lari ke kamar mandi, ia membuka semua pakaian bawahnya dan duduk di kloset.


Currrr! Line menatap benda yang menjulang tengah mengeluarkan air.


"Aaaarrrggghhh!" teriaknya.


Sedang di hunian lain, Mark digaduhi dengan suara gedoran pintu. Kepalanya terasa mau pecah.


"Ayo bangun!" teriak sebuah suara dari luar.


Mark berdecak, pria itu akhirnya bangkit dari ranjangnya. Setengah sadar ia melihat sekelilingnya.


"Kenapa kamarku berubah?" tanyanya.


Mark tak ambil pusing, pria itu menuju kamar mandi dengan menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya.


Ketika menghadap kloset, ia mencari sesuatu di bawah. Hingga tiba-tiba ia menyentuh sesuatu yang membuatnya berdesir sendiri.


"Eh ... Auh!" pekiknya tertahan.


Kembali ia meraba rambut tipis yang ada di sana. Mark menggeleng. Lalu ia paksakan membuka mata.


"Aarrghhh burungku hilang!" teriaknya.


"Ah ... Kenapa aku kembali pada tubuh jelek ini?" keluhnya separuh berbohong.


Usai membersihkan diri dan memakai setelan terbaiki. Mark keluar kamarnya. Paul telah menghubunginya.


"Paul, kau sudah di sini!" ujar Mark lemah.


"Iya Tuan. Ini sarapan anda," ujar Paul mempersilahkan tuannya untuk sarapan.


Mark duduk, Paul yang sudah tau jika jiwa tuannya kembali hanya berdiri dan menunggu perintah.


"Kau sarapanlah Paul!" suruh Mark.


Paul menatap atasannya. Bukan sifat Mark meminta dirinya sarapan.


"Jiwa Line kembali ke sini Paul!" jelas Mark ketika melihat kebingungan bawahannya.


"Astaga ... Kenapa bisa terjadi?" tanya Paul bingung.


"Aku tak tau," jawab Mark lemah.


"Kemarin, hati dan tubuh Line sangat hancur dan putus asa. Tiga pria yang disayanginya ternyata berkhianat semua," jawab Mark yang tentu jiwa Line menceritakan itu.


"Apa mungkin misi Nona masih belum selesai?" tanya Paul.


Mark menatap ajudannya. Jiwa Line tak tau pasti. Tapi ia kembali pada tubuh pria ini. Ia yakin masih banyak misi yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


Sementara di hunian Line. Mark hanya menatap puas di cermin lekuk tubuh gadis yang jadi topangan jiwanya.


"Kau memang menggairahkan Line!" ujarnya lalu menggesek gundukan kecil yang mencuat di sana.


"Uuuhhh ... Baru kusentuh begini saja, kau sudah merinding sayang," seringai Line mesum pada dirinya sendiri.


"Roseline ... Cepat bangun! Apa yang kau lakukan di kamarmu!" teriak Samantha.


Jiwa Mark berdecak, ia ingin sekali membelai kacang yang terampil di bawah sana. Ketika tangannya hendak turun.


"Rose ... Bangun atau aku menyuruh Sam mendobrak pintumu!" teriak Samantha lagi mengancam.


"Iya .. Iya!" teriak Line menyahuti.


Jiwa Mark terpaksa menyudahi aksi mesum pada tubuh yang ia tumpangi itu. Ia pun gegas membersihkan diri dan memakai mini dress warna salem yang terbuat dari kain sutera.


Jiwa Mark memanjakan tubuh sang gadis yang baru saja mengalami kesakitan luar biasa.


"Thanks Lord, kau kembali sayang. Aunty sangat menyukainya!" puji Samantha senang.


Line hanya tersenyum tipis. Ia duduk dan mengambil serbet untuk diletakkan di pangkuannya.


Ia mengambil pisau dan garpu lalu memotong sandwich. Samuel dan Simon terbengong melihat cara makan sang sepupu.


"Dia tidak baik-baik saja mom!" ujar Simon prihatin.


"Hei ... Jangan kau ledek saudaramu!" peringat Rodrigo.


"Dad ... kau lihat cara makannya. Ini sandwich dad, sandwich!"


Samantha sedih melihat keponakan kesayangannya itu. Ia mengelus dan memberi kecupan di pucuk kepala Line.


"I'm okey Aunty!" ujar gadis itu meyakinkan bibinya.


"Kita belanja berlian yuk, aku tak melihat satu pun perhiasan di tubuhmu!" ajak Samantha.


Gadis itu mengangguk setuju, jiwa Mark juga kada heran dengan hidup yang dipilih tubuhnya.


"Padahal kau bisa berbuat banyak jika kau mengendalikan semuanya Line!" gumamnya dalam hati.


Usai sarapan, Samantha benar-benar mengajak Line berbelanja berlian. Jiwa Mark yang menyukai kemewahan tentu senang.


"Aku ingin lihat ini!" tunjuknya pada sebuah kalung berlian berbentuk love.


"Ini adalah design favorit. Hanya ada dua puluh saja dan ini adalah series terakhir," jawab manager toko.


"Kau suka sayang?" tanya Samantha.


Memang kalung itu sangat cantik, terlebih berlian sengaja diletakkan di sana dan bukan di tengah kalung seperti biasanya. Tetapi sedikit naik ke kiri.


"Aku ambil ini!" ujarnya.


"Baik Nona!" seru manager toko semringah.


Bersambung.


Yah balik lagi deh.

__ADS_1


Misi belum selesai.


Next?


__ADS_2