WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Mark mengukuhkan hari pernikahannya pada awak media. Tentu berita itu jadi nomor satu di semua portal berita baik elektronik maupun cetak.


"Anda baru saja naik daun Tuan muda Ortega. Apa tak sayang melewati masa keemasan anda sebagai single?" tanya salah satu awak media.


"Usia saya sudah mau dua puluh tujuh tahun. Sudah cukup untuk memikirkan hubungan lebih serius!" jawab Mark lugas.


"Tapi Nona Smith baru sembilan belas tahun dua minggu lagi. Apa tidak terlalu belia?" tanya wartawan lain.


"Tidak, aku sudah siap untuk jadi istri!" jawab Line.


Dua jiwa mereka belum tertukar. Akhirnya Mark dan Line sepakat untuk menjalani hidup dengan jiwa seperti itu.


"Biar aku lebih peka pada wanita. Tak masalah, aku sudah merasakan sakitnya menstruasi. Sungguh kalian luar biasa ya," ujarnya kagum.


Jiwa Line yang ada ditubuh pria itu iba melihat wajah pucat Line. Terlebih jiwa Mark merasa ketidak nyamanan itu.


"Maaf," ujar Mark tentu jiwa Line yang menyesali semua.


"Hei ... Aku malah berterima kasih padamu sayang," ujar Line tentu jiwa Mark yang berkata.


"Aku jadi tau betapa merepotkan jadi wanita," lanjutnya lirih.


Maria dan Marcus tentu akan menyiapkan pesta super mewah. Kedua orang kaya itu hanya mengundang pebisnis dan beberapa kolega juga pejabat penting.


"Aku ingin konsep putri raja!" usul Maria mengungkapkan keinginan pesta pernikahan.


"Sayang, kita tanya Rose akan hal ini ya," ujar Marcus menengahi.


Maria cemberut, Mark si kucing orange kini tengah bergelut dengan pasangan baru. Kucing itu memiliki trainer binatang sendiri bahkan dokter juga didatangkan khusus untuk hewan berbulu lucu itu.


Rodrigo tentu senang dengan berita pernikahan keponakannya. Saham perusahaan jadi naik, ia juga mendapat kabar jika adiknya telah sembuh dari sakitnya.


"Halo sayang, besok Uncle akan menjemput ayahmu. Dia sudah melewati masa krisisnya," ujar pria itu melalui sambungan telepon.


"Baiklah Uncle, aku akan senang jika ayah datang. Kalau bisa paman Eduardo juga hadir dan menjadi memberkati pernikahanku nanti!" ujar Line dalam sambungan teleponnya.


"Baiklah sayang. Paman Eduardo pasti senang menjadi pemberkat pernikahanmu!" ujar Rodrigo dari sambungan telepon.


Pembicaraan di telepon pun terputus, Line menatap Mark yang tengah bercengkrama dengan ibunya. Gadis itu tentu berjiwa Mark.


Jiwa pria itu masih kesulitan beradaptasi dengan tubuhnya yang sangat aktif. Terutama otak dari Line yang sangat genius.


"Bahkan jiwamu juga sangat genius Line. Kau bisa membuktikan jika jadi pria kau lebih baik dari pria sesungguhnya," gumamnya pelan.


"Sedang aku. Aku tak bisa membawa tubuh dan sikapmu menjadi liar. Aku sangat menghargai kesucianmu. Aku suka dan aku mau yang pertama untuk itu!" lanjutnya bergumam.


"Tuan," Paul mendatangi Mark yang bercengkrama dengan ayah ibunya.


"Ada apa?" tanya Mark.

__ADS_1


Paul menyerahkan satu berita di ponselnya. Berita perceraian Samuel Broks dan istrinya. Rupanya Patricia lelah menjadi istri bayangan pria itu.


"Lalu hubungannya denganku apa?" tanya Mark datar.


"Kita ada sedikit menanam investasi dan itu nilai profitnya turun akibat berita ini," lapor Paul.


"Berapa kerugiannya?" tanya Mark.


"Menembus 12%," jawab Paul.


"Wah ... Besar juga!" sahut Mark berdecak.


"Atasi itu dengan menjual bebas aset dan ambil penawaran standar agar kita tak rugi banyak!" perintah Mark.


"Baik Tuan!" ujar Paul lalu membungkuk hormat.


"Tuan, kami juga telah mendapat tender dengan Mega proyek yang ada di Alabama," lapor Paul lagi.


"Kita mendapat 45% dari seluruh pembangunan!" lanjutnya.


"Baik, kalian luar biasa Paul!" ujar Mark memuji bawahannya.


Paul menatap atasannya, ia tak pernah dipuji sedemikian rupa oleh Mark. Lalu pandangan itu sangat dikenali Paul.


'Ah ... rupanya nona Smith yang memujiku!' ujarnya dalam hati.


Paul pergi dari sana. Maria memeluk dan mencium putranya bangga.


"Aku juga!" sahut Marcus tak kalah bangga.


Line mendekat, ia sedikit cemburu dengan pujian itu. Tapi jiwa Mark sadar jika memang Mark atau jiwa Line pantas mendapatkannya.


"Ayo kita persiapkan pestamu. Aku ingin kalian foto prewedding di pulau pribadi kita!" ajak Maria.


"Mom!" peringat sang suami.


"Ah ... Sayang!" rengek Maria kesal.


"Aku menurut padamu Mom. Kau pasti tau apa yang terbaik untukku," ujar Line.


Mark berdecih, sungguh ia ingin pesta pernikahannya sendiri. Tapi Mark telah memutuskan seperti itu.


"Kita berangkat hari ini kalau begitu!" ajak Maria.


Marcus hanya bisa menghela nafas panjang. Jika istrinya sudah berkehendak maka ia harus menurutinya.


"Maaf ya sayang," ujarnya penuh permohonan pada Line.


"Tak masalah dad. Mungkin Mommy juga mau pesta untuk menantunya," ujar Line.

__ADS_1


"Benar begitu sayang?" tanyanya pada Mark.


"Mark!" panggil Line ketika tak ada jawaban dari pria itu.


"Ah ... Iya!" jawab Mark.


Line tersenyum indah, akhirnya jiwa gadis itu hanya bisa pasrah. Ia mengikuti kemauan calon mertuanya.


"Aku tak punya ibu, aku pasti akan sangat menyayangi mommy Maria,' gumamnya dalam hati.


Mereka akhirnya berangkat menaiki jet pribadi ke sebuah pulau. Mark kucing orange dan pasangannya tentu dibawa bersama dua pengurusnya.


Sampai sana, jiwa Line menganga. Pulau itu memang sangat cantik dengan pasir warna putih bersih.


Pulau pribadi itu memang sangat tertutup. Maria dan Marcus akan membukanya secara umum ketika di hari pernikahan putranya nanti.


"Sayang, apa kau sudah katakan pada keluarga jika akan menikah di sini?" tanya Marcus.


"Sudah dad. Mereka hanya susah mendapat signal pulau ini!" jawab Line.


"Oh, itu gampang!" sahut Marcus.


Pria itu hanya menekan tombol penguat signal. Keluarga itu sangat kaya raya hingga bisa mengorbitkan satelit sendiri untuk memiliki kekuatan signal seperti itu.


"Kau bisa menyalakan GPS nya sayang," ujar Marcus.


Jiwa Line menelan saliva kasar. Kekayaan calon suaminya memang diatas rata-rata.


"Baiklah, semua keperluan pernikahanmu akan sampai besok. Kau tak perlu khawatir sayang," ujar Maria.


"Apa aku tak bisa memilih gaun ...."


Line menyenggol lengan Mark. Tentu belum ada yang boleh tau jika mereka tertukar jiwanya.


"Gaun pengantin untuk istriku?" tanya Mark meralat ucapannya.


"Tentu saja, kau bisa melihatnya secara online sayang. Jangan khawatir tentang model. Mommy pastikan apa yang mommy pilihkan sesuai dengan selera istrimu!" ujar Maria yakin.


Benar saja, jiwa Line terpana dengan semua model yang ditunjukkan calon mertuanya. Ia sangat antusias bahkan ia memilih dua gaun cantik namun terkesan sangat mewah.


"Benar kan kata mommy, kau pasti suka dengan pilihan mommy!" ujar Maria bangga.


"Thanks mom. Love you!" ujar Mark memeluk ibunya.


Line memijit pelipisnya, tentu jiwa Mark kesal dengan tingkah jiwa yang ada di tubuhnya itu.


"Jangan sungkan sayang," ujar Maria terharu.


Bersambung.

__ADS_1


Next?


__ADS_2