WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
KERJASAMA


__ADS_3

Pagi hari, Line sudah rapi dengan dress warna hijau gradasi bunga sakura. Ia tampil cantik tanpa make up.


"Sayang," Mark memeluknya dari belakang.


"Ih!"


Line menarik tangan pria itu lalu memelintirnya. Mark tentu menjerit kesakitan. Sedang Mark orange hanya melirik dan kembali bergelung di kasur barunya.


"Aarrrghhh ... sakit sayang!" pekik Mark.


"Jangan pernah berpikiran mesum padaku Mark!" ketus Line tak suka.


"Tapi kau pacarku!" seru Mark.


Jika mereka seperti ini, maka tak ada yang sadar jika jiwa mereka tertukar. Jika nyawa Mark yang ada di tubuh Line tak mampu menguasai respon tubuh sang gadis. Sedang Line tak mampu mengendalikan gaya casanova dan juga ke mesuman Mark.


"Lepaskan!" Mark berhasil melepas kuncian sang gadis.


Pria itu mulai sedikit kesal dan membalik serangan pada Line. Gadis itu tentu tak tinggal diam. Lagi-lagi respon tubuh sang gadis mengejutkan Mark. Line menginjak keras kaki pria yang memeluknya.


"Aaauu!' Mark melompat-lompat memegangi kaki yang diinjak Line.


"Kau galak sekali!" sindir Mark kesal.


"Jangan coba-coba padaku Mark ... Jika tidak ...."


Ting tong! Sebuah bel tanda ada yang datang. Mark mencebik kesal pada Line dan membuka pintunya.


"Mana calon menantuku!" seorang wanita masuk bersama seorang pria.


"Mom Dad?"


Maria menatap gadis dengan dress cantik. Rambut yang hanya panjang sekuping diberi aksen jepit bintang. Line memang seperti remaja pada umumnya.


"Oh ... Astaga ... Kau cantik sekali sayang!" puji Maria lalu memeluk Line.


Gadis itu terpaku sesaat, hatinya menghangat dengan pelukan itu. Ia telah lama merindukan pelukan ibunya.


"Siapa namamu?" tanya Maria pada gadis di depannya.


"Line ...," jawab sang gadis.


"Line?"


"Namanya Roseline Mom, tapi ia suka dipanggil Line," jawab Mark lalu berjalan mendekati gadis yang ia paksa jadi kekasihnya.


"Biar mommy yang panggil dia Rose!" ujar Maria lalu mengecup pipi gadis itu.


Marcus mengusap kepala Line. Perlakuan pria itu lagi-lagi membuat Line menghangat. Dulu ayahnya juga berlaku sama sebelum berkhianat.


"Senang bertemu denganmu sayang. Aku harap kalian segera mengukuhkan status kalian di media ...."


"Jangan!" tolak Line tiba-tiba.


"Eh ... Kenapa?" tanya Marcus bingung begitu juga Maria.


"Kami baru saja jadian ... Aku belum ...."

__ADS_1


"Kau sudah tinggal bersama putraku. Apa yang belum?" tanya Maria gusar.


"Kau tau, Mommy malah ingin membawamu lari dari sini agar putraku tak menjamahmu sebelum waktunya!' lanjutnya melirik sebal pada putranya.


"Jangan pisahkan aku dari pacarku Mommy!" rengek Mark.


Jiwa yang ada pada pria itu hanya berdecak kesal pada tubuh yang memang sedikit berlebihan itu.


"Awas jika kalian punya anak sebelum menikah!" tekan Maria.


'Aku tak mau sama pria mesum ini nyonya!' pekik jiwa Line dalam tubuh Mark.


"Mommy ... Dia milikku, aku tak akan melepaskan dia. Percaya pada putramu ini Mom," ujar Mark meyakinkan ibunya.


"Dengan gayamu yang suka bermain dengan wanita?" Marcus menggeleng tak percaya.


"Dad ... it's just for fun!' jawab Mark yang lalu diberi pukulan ringan ibunya.


"Mom ... Stop it!' ujar Mark meringis kesakitan.


"Aku sebal padamu!" ketus Maria.


"Sayang, sudah! Nanti malah kau menangis karena memukuli anakmu!' ujar sang suami.


Line hanya menonton drama keluarga kaya itu. Jiwa Mark menghangat melihat ayah ibunya langsung jatuh hati dan malah melindungi gadis yang ia bawa pulang bersamanya.


"Meong!"


"Eh ... Kucing?" Marcus menatap seekor kucing orange yang protes karena manusia ribut.


"Oh ... Kucing ... Sayang dari dulu aku mau pelihara binatang ini. Kau malah melarangku!" ujar Marcus lalu perhatian pria itu teralihkan.


Mark dielus dan diciumi. Jiwa Line kembali terharu, jarang orang sekaya ayah dari tubuh pria yang ia tempati menyukai kucing.


"Kau sibuk aku juga. Lalu siapa yang menyayanginya?" sinis Maria sebal.


"Ah ... Maaf tuan nyonya ... Saya harus pergi ke kampus dulu!" pamit Line.


"Eh ... Kau panggil kami apa?" tanya Maria.


'Mom dad, dia baru jadi pacarku!' sahut Mark membela gadisnya.


"Baiklah ... Pergi sana! Kami masih mau bermain dengan dia!" ujar Maria.


"Kau namai dia sama denganmu Son?" Marcus membaca kalung di leher binatang berbulu itu.


"Itu punyaku ... Dad!' jawab Line yang sedikit ragu ketika menyebut di akhir kalimat.


'Ah, baiklah. Sana!' usir Marcus.


Line mengangguk ia pun pergi. Mark mengantarkan gadis itu hingga depan lift. Gaya tengil Mark membuat jiwa Line sedikit kesal menahannya.


'Kau belum menciumku Nona!' ujarnya lalu mencium bibir sang gadis dan memagutnya pelan.


"Enough!" Line menghentikan ciuman Mark setelah beberapa saat.


"Jaga diri sayang. Seluruh dirimu adalah milikku!" tekan Mark.

__ADS_1


"Aku juga mengatakan itu padamu Mark. Jika kau masih bersama wanita lain. Aku akan memotong masa depanmu!' ancam Line.


"Galak sekali!" gerutu Mark lalu terkekeh.


Line memakai mobil sport milik Mark. Tentu hal itu jadi sorotan semua mahasiswa dan juga dosen kampus.


"Wah ... Apa dia sudah menggadaikan keperawanannya pada orang kaya?" sindir Angela Obsorn, gadis paling seksi di kampus.


Line memang tak pernah menggubris perkataan gadis-gadis yang berlaga suci dan kaya itu. Harta mereka tak sebanding walau Line tak berpacaran dengan Mark.


"Berapa kau gadaikan keperawanan mu Line!" ledek Gladys.


Line berhenti lalu berbalik. Tiga gadis yang suka berbuat onar pada siapapun itu mulai ketakutan.


"Kau tau ... Aku bisa merobek mulut kalian dan mengeluarkan silikon yang ditanam di dada kalian!" ancam Line tak main-main.


"Atau aku bisa memecat ayah kalian dan menjadi gembel di jalanan!' lanjutnya lalu mendekatkan wajahnya pada tiga gadis yang mulai menunduk.


Line tersenyum sinis dan berbalik dengan anggun menuju kelas. Ia mengingat percakapan tadi malam.


Jiwa Mark sangat suka dengan apa yang dituturkan jiwa gadis itu. Bahkan Paul jadi saksi salut dengan ide sang gadis.


"Aku percaya kau bisa jadi laki-laki paling hebat nantinya Line!" puji Mark dalam hati.


Sedang di sebuah perusahaan besar. Mark berdiri dengan arogan menatap empat pria yang bersimpuh di depannya.


Jiwa Line memang tak suka pengkhianatan. Dulu Mark masa bodoh dan menyerahkannya pada pengacara. Tapi siapa sangka semua malah bermain cantik di belakang pria itu.


"Tuan Samuel mendapat sogokan senilai dua ratus miliar dolar untuk memalsukan tanda tangan anda Tuan!" lapor Paul.


"Tuan Freddy, mendapat keuntungan dua puluh persen dari semua tanda tangan palsu itu!' lanjutnya.


"Tuan Medison dan Tuan Lowie mendapat dua apartemen mewah di pusat kota senilai seratus juta dolar!"


"Hebat sekali!" puji Mark dengan senyum mengerikan.


"Pengacara Medison ... Aku menyerahkan kasus pemalsuan ini padamu. Kau malah berkhianat seperti ini?" geleng Mark tak percaya.


"Saya khilaf tuan!"


Plak! Satu tamparan keras di dapat di pipi Medison sampai bibirnya sobek. Darah mengalir, keberingasan Mark tak sampai di situ.


Empat pria dihukum berat. Semua aksinya diungkap ke publik bahkan perselingkuhan mereka. Reputasi keempatnya langsung hancur sedemikan rupa.


"Tuan, perusahaan Edrick Smith mengajukan pinjaman di bank senilai lima juta dolar!" lapor Paul lagi.


"Untuk?' tanya Mark.


"Istrinya Elena Wills yang mengajukan pinjaman untuk bertaruh di pacuan kuda!" jawab Paul.


"Berikan dan beri bunga tinggi! Aku ingin tau. Apa yang dilakukan Smith ketika penagih mendatangi kantornya!' perintah Mark.


Bersambung.


Balas dendam dimulai.


Next?

__ADS_1


__ADS_2