
Sampai kampus Line berlenggok dengan sangat gemulai. Gadis itu berubah penampilan dengan memakai baju sedikit seksi.
Mini dress yang pas dengan bentuk tubuhnya. Kulitnya yang putih bersih tanpa cela membuatnya bersinar. Line menggunakan bandana kain untuk aksesoris kepalanya.
"Line?" Diana menatap teman sebangkunya itu.
"Hai!" sapa Line.
"Ini benar-benar kau?" tanya Diana tak percaya.
"Yup! Ini aku!" ujarnya tersenyum manis.
"Oh ... puji Tuhan. Kau akhirnya menunjukkan dirimu. Kalau begitu kita bisa party nanti malam!" ajak Diana lalu merangkul lengan sang teman.
Line menatap dingin Diana. Otak dan sikap tubuh Line tak bisa dipengaruhi oleh jiwa Mark. Diana tiba-tiba membeku, ia lupa siapa Line.
"Aku memang mengubah pakaianku," ujarnya pelan.
"Tapi itu tidak mengubah diriku menjadi murahan sepertimu ... Diana!" lanjutnya menekan kata-kata terakhir.
Line melepas rangkulan teman sebangku yang suka mencontek jawaban ujian itu.
"Kita memang teman Diana. Tapi kita tak usah seakrab itu!" lanjut Line lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Wah ... wah ... wah ... si ratu cupu telah bertransformasi!" sebuah nada mengejek Line ketika masuk kelas.
"Wah ... wah ... wah ... ada yang mengaku manusia bermartabat tapi tingkahnya tak sebanding martabatnya!' balas Line pedas pada sosok gadis yang baru menghinanya.
"Jangan munafik Line!" sentak gadis itu. "Pakaianmu sama dengan Angela, Rihana dan Gladys yang kau katai gadis murahan!" lanjut gadis itu mengingatkan.
"Well ... walau sama tapi ada yang membedakan kami ... Kylie!" sahut Line lalu mendekati gadis yang tiba-tiba gemetaran.
Line menunjuk-nunjuk kepala Kylie dengan telunjuknya.
"Otak kami tentu berbeda!" lanjutnya sinis.
Line duduk di bangku paling depan. Gadis itu mengeluarkan isi tas.
"Astaga itu Boarini Milanesi Parva Mea!' seru Gladys yang baru datang.
Ia berlari hendak mengambil tas yang selama ini diidamkannya itu. Tentu saja Line menjauhkannya dari jangkauan Gladys.
Gadis bertubuh seksi itu hendak marah. Namun sejurus kemudian dosen datang dan menyentak semua mahasiswa yang masih berkerumun.
"Duduk!" teriak pria galak itu.
Tak ada yang berani dengan Mr. Alberto Hudson. Pria yang dijuluki The Killer itu tak segan mendrop out mahasiswa yang berurusan dengannya walau mahasiswa itu adalah anak petinggi negara.
Semua duduk dengan tenang dan mendengarkan dosen itu mengajar selama dua jam penuh.
Line berada di kantin kampus. Jiwa Mark sedikit kesulitan mengadaptasi kebiasaan tubuh yang ia tumpangi ini.
"Kau kaku sekali sayang!" keluhnya.
Line makan dengan tenang. Tak ada satu pria yang berani mendekatinya.
"Yow ... Line!" seorang pria berkulit hitam dengan pakaian olahraga baseball.
__ADS_1
"You much pretty know!" pujinya.
"Thanks!" jawab Line tak acuh.
"But your still cold!" keluhnya.
"This is me!" sahut Line cuek.
"Come on Line. Kau tau Bastian naksir kamu berat. Dia adalah pahlawan baseball sekarang. Kemarin dia menciptakan lima kali home run!" lanjut pria itu berapi-api.
"No Erick ... aku tak suka dengan gayanya yang dikelilingi wanita cantik. Aku cape menghadapi fans gilanya itu!" sahut Line tak bernafsu.
"Ya dia kan tampan .. jadi wajar," ujar Erick tak masalah.
Pria itu duduk di kursi depan Line. Gadis itu menyodorkan kentang goreng. Mark sedikit terkejut dengan respon tubuh tumpangannya itu.
"Kau selalu tau kalau aku lapar Line!" kekeh pria berkulit hitam itu.
Line selesai dengan makannya. Ia menepuk bahu pria bertubuh kekar itu.
"Oh ya, apa kau butuh pekerjaan part time. Aku lihat nilai akademismu lumayan!" ujar Line tiba-tiba.
"Kau menawariku pekerjaan?" tanya Erick tak percaya.
"Of course. Pergilah besok ke perusahaan Ortega. Katakan jika Mark Ortega mengundangmu bekerja!" ujar Line.
"Don't joke with me Line!" sahut Erick tak percaya. "It's not funny!"
"Apa aku pernah bercanda Erick?" tanya Line.
"Datanglah. Mark pasti menerimamu!' ujar Line meyakinkan pria berlangsung pipit itu.
Mark memang mencari pekerja-pekerja handal. Ia kapok mencari orang-orang yang sudah berpengalaman. Tetapi yang ia dapatkan malah banyak pengkhianatan hingga membuatnya bangkrut.
Sementara di sebuah gedung bertingkat. Semua orang terkejut-kejut melihat perubahan pria tampan calon pemegang kekuasaan tunggal perusahaan.
Mark tak lagi ramah pada karyawati-karyawati yang berpakaian seksi. Pria itu menegur keras semua karyawati.
"Apa bajumu kurang bahan? Apa kau miskin hingga memotong semua bajumu!" hinanya pada sosok sekretaris ayahnya.
"Mark?" Marcus bingung mendapati perubahan putranya.
"Dad, jangan bilang kau cuci mata selain Mommy?" tanya Mark menuduh.
"Jangan bicara sembarangan Mark!" peringat sang ayah marah.
"Lalu kenapa dia pakai seperti ini?" tanya Mark menunjuk wanita yang menunduk dalam-dalam.
"Kau ingin menggoda ayahku?!" tanya Mark berdesis.
"Selena ... keluar ganti bajumu!" perintah Marcus.
Gadis itu membungkuk hormat lalu berlari menahan tangis meninggalkan ruangan mewah itu.
"Mark ... kau biasanya tak seperti ini?" tanya Marcus heran.
"Lalu apa aku harus seperti kemarin-kemarin Dad?" tanya Mark.
__ADS_1
"Ah ... sudah lah ... jangan pusing kan gadis itu. Dia begitu bukan untuk menggodaku. Tapi ingin menarik perhatianmu Nak!" ujar Marcus memberitahu.
Mark diam saja. Tentu saja pria itu akan mengubah semuanya. Jiwa Line yang berada dalam tubuhnya tak membiarkan Mark kembali pada tingkah mesumnya.
Siang Line sudah pulang dari kampus. Ia cukup terkejut ketika ada wanita menyerahkan sebuah kotak kucing padanya.
"Ini Mark mu sayang," ujar wanita itu.
"Oh ... iya!" angguk Line.
Wanita itu pergi Line membuka pintu rumahnya dan masuk. Gadis itu membuka boks kucing.
"Sial, wanita ibu menamai binatang ini sama denganku!' umpatnya pelan.
Mark si kucing orange menatap majikannya. Tentu insting binatang jauh lebih peka. Hewan berbulu itu menatap Line seperti menyelidiki.
"Hai Mark. Aku majikanmu ... ah .. bukan. Lebih tepatnya budakmu," ujar Line.
"Meong ....ssshhh!" Mark rupanya marah dan tak mau didekati.
"Oh ... ayolah Mark. Aku bertukar jiwa dengan pemilikmu!" ujar Line kesal.
Kucing bernama sama dengan jiwa Mark akhirnya mendekat dan mengeluskan kepalanya di lengan sang gadis.
"Krrr ... krrrr ... krrr!" bunyi dengkuran khas menenangkan jiwa Mark.
"Ah ... kau rupanya manis sekali seperti ku Mark!" kekeh Line lalu mengelus dan menciumi kucingnya gemas.
Sementara itu, Paul yang terkaget-kaget dengan perubahan tuan mudanya mulai senang. Ia memang tak menyukai wanita-wanita genit yang mendekati atasannya itu.
"Sayang!" Angela datang dengan muka ditekuk.
"Aku kalah lagi!" adunya merengek.
"Keluar kau!" usir Mark sinis.
"Sayang ...."
"Jangan panggil aku sayang!" bentak Mark marah.
"Keluar kau sebelum aku menyuruh satpam menyeretmu keluar!" usir Mark lagi.
"Mark!" bentak Angela marah.
"Paul! Usir dia dan tagih tunggakan utang judinya!" suruh Mark pada ajudannya.
Paul tentu senang hati melakukannya. Dari dulu ia tak menyukai Angela.
"Baik Tuan!"
Tak lama terdengar teriakan dan umpatan dari mulut wanita seksi yang tadi datang. Mark mengusap peluhnya.
"Kau pria berengsek Mark!" umpatnya pelan pada diri sendiri.
Bersambung
next?
__ADS_1