
Line dan Mark ingin pergi jalan-jalan. Mereka berdua sebenarnya ingin pergi ke situs kuno yang ada di pegunungan itu.
Namun sepertinya keinginan mereka gagal karena Mike lagi-lagi mendapat surat ancaman.
"Kalian harus dikawal!" ujar Rodrigo.
"Aku bisa menjaganya Om!" tolak Mark.
Jiwa Line tentu keberatan jika ada pengawalan.
"Tapi nyawa kalian dalam bahaya nak!" ujar Rodrigo khawatir.
Mark menatap Line, mereka tentu tidak ingin semua tau jika jiwa mereka tertukar. Yang pasti Line juga tak tau sapa yang berkhianat di sini. Ia meyakini jika ada penyusup yang masuk dan mengetahui semua yang ada dalam hunian ini.
"Baiklah, kami tidak jadi jalan-jalan," ujar Line pasrah.
Mark menatap Line, jiwa gadis itu merasakan jika jiwa Mark sudah tak betah dalam tubuhnya.
"Aku bosan," ujar Line lirih tentu jiwa Mark yang merasakan kebosanan.
"Biasanya jam segini aku bercinta dengan ...," Mark mendengkus.
"Semoga kau tak kena penyakit kelamin!" sumpahnya.
"Hei ... Aku memilih jika ingin bermain!" sengit Line berbisik.
"Cis ... Sungguh aku terhina tubuhku dihampiri jiwa mesummu!' sungut Mark juga berbisik.
Line menatap pria itu tajam. Mark balas menatapnya, jiwa Line tentu tak mau kalah.
"Aku juga tak Sudi berlama-lama ditumpangi jiwamu yang kotor itu!" sengit Mark tentu jiwa Line yang menyatakannya.
"Aku orang kaya ...."
"Ralat, orang tuamu yang kaya!' potong Mark.
"Aku berani bertaruh. Setelah jiwa kita kembali. Perusahaan yang kurintis beberapa bulan ini. Pasti kau hancurkan dalam sekejap!" tuding Mark lagi.
"Aku tak sebodoh itu!" tekan Line tentu jiwa Mark yang tak terima.
"Selama dua tahun kau membuat bangkrut enam perusahaan?' ledek Mark, jiwa Line sangat sinis menanggapinya.
Line cemberut, jiwa Mark merasa tersinggung. Mereka kini berada di perusahaan milik Smith.
Otak Line yang memang sangat genius mampu membereskan semua masalah yang dialami perusahaan itu.
Line dengan gemilang meyakinkan beberapa perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya setuju melanjutkan kerjasama mereka.
"Anda luar biasa Nona Smith!" ujar para pebisnis bertepuk tangan.
__ADS_1
Line tentu berbangga diri. Rodrigo sangat puas akan apa yang telah dicapai oleh keponakannya.
"Jadi sekarang semua hal yang mencakup kepemimpinan perusahaan telah sah jatuh pada Nona Roseline Elizabeth Smith!" ujar pengacara mengesahkan.
Semua bertepuk tangan, Mark yang berdiri di sampingnya ikut bangga.
"Kau lihat ... Aku tak sebodoh itu!" bisik Line.
"Kau tentu ingat, yang kau gunakan adalah otak gadis itu," bisik Mark yang membungkam jiwanya sendiri.
"Nona bagaimana dengan Nyonya Elena?" tanya beberapa pengusaha.
"Dia telah mengakui pada publik tengah mengandung anak dari Tuan Smith, yang itu adalah ayahmu sendiri!" lanjutnya.
"Kami hanya bisa menunggu sampai bayi itu lahir. Kami juga sudah memberikan perawatan dan perhatian khusus untuk itu!" jawab Line.
Sementara di sebuah hunian cluster mewah. Elene memang dicukupi semua kebutuhannya. Tetapi wanita itu seperti terkurung dalam sangkar.
Roseline hanya mengirimkan semua berbentuk barang untuk kebutuhannya. Gadis itu tak memberi uang sepeserpun.
"Sialan!" umpat Elene.
"Nyonya waktu anda untuk makan buah!" ujar maid.
Line mengirimkan beberapa pekerja terlatih untuk membantu keperluan Elene.
"Kau hanya budak ... "
Wanita berkulit hitam itu dapat mandat langsung dari Line jika harus berani pada majikannya nanti.
"Aku majikanmu di sini ... beraninya kau ...."
"Kau hanya pesakitan yang kami urusi Nyonya!" potong Teresia.
"Dan yang menggaji kami adalah Nona Smith! Bukan anda!" lanjutnya menentang Elene.
"Aku pastikan menyeret kalian dalam jeruji besi. Anak ini akan jadi penguasa perusahaan Smith!"
"Sabar Nyonya ... Masih sembilan bulan lagi, bayi itu baru keluar!" sahut Teresia sinis.
"Itu pun jika anak itu benar-benar anak dari Tuan Smith!'
Elene bungkam, wanita itu tak bisa menekan para pekerja yang melayaninya.
Satu piring buah-buahan segar yang telah dipotong-potong kecil-kecil. Sungguh Elene sudah dimanjakan oleh Line. Tetapi rupanya wanita itu tak puas.
"Aku pastikan anak ini adalah anak Edrick dan dia adalah laki-laki!" ujarnya lalu mengusap perutnya.
Sementara itu, perusahaan Broks benar-benar terlilit utang. Samuel menatap laporan audit bank yang menyatakan berapa banyak uang yang harus ia bayar.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali?"
"Semua karena Nona Angela kemarin menggesek kartu kredit di atas limit, dua juta dolar Tuan!" lapor Herry ajudan pria itu.
Samuel menghela napas panjang. Benar kata-kata Mark jika perusahaannya sebentar lagi ada masalah.
"Ajukan gadai pada villa yang ada di kota xx!' perintahnya kemudian.
Herry membungkuk hormat. Sudah banyak unit profit yang digadai untuk menutupi utang perusahaan. Mestinya Samuel yang memberi akses putrinya mengambil uang perusahaan.
Sementara itu jiwa Line sudah merasa cukup mengikuti tubuhnya yang ditumpangi oleh jiwa yang ada pada badannya.
"Mungkin sebaiknya aku pulang," ujarnya bergumam.
"Tuan, kami telah menemukan titik lokasi pengkhianat itu!" lapor Mike.
Mark langsung berdiri, ia sangat yakin jika dugaannya itu benar.
"Apa Tuan Refredo Gilbert?" tanyanya lalu membenahi jas berbahan sutra terbaik.
"Benar Tuan, anda lebih terkejut lagi siapa dalang dari semuanya!" jawab Mike.
Pria itu berjalan mengikuti kepala pengawal. Keberadaan ponsel canggih yang ada di tangan pria itu membuatnya sedikit bergidik ngeri.
"Harganya juga mahal sekali!" decaknya kesal dalam hati.
Mark memang kaya raya. Tapi kedua orang tuanya tentu akan marah jika ia kedapatan membeli ponsel itu.
"Mau kemana?" tanya Line.
"Ke pengusik," jawab Mark.
"Ikut!" pinta Line.
Mark menatap gadis itu lalu ia pun mengangguk. Line langsung mengambil tasnya.
"Sayang!' teriak Samantha.
"Sebentar Aunty!" ujar Line tetap mengikuti kekasihnya.
Samantha ingin melarang gadis itu. Tetapi langsung dicegah oleh Rodrigo.
"Aku takut terjadi apa-apa dengannya!" ujar Samantha.
Line sudah seperti anak gadisnya. Ia tentu khawatir, setelah rentetan teror pembunuhan yang dialamatkan pada Line.
"Dia sudah dijaga oleh penjaga terbaik sepanjang masa. Bahkan pengawal itu lebih dulu mendapatkan siapa yang selama ini mengganggu dibanding detektif yang aku sewa!" ujar Rodrigo menenangkan istrinya.
Bersambung.
__ADS_1
Siapa ya yang ingin membunuh Line?