WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
SEBUAH KEJADIAN


__ADS_3

"Ck murahan!' hina Line pada dua gadis di meja resepsionis.


Line datang langsung menuju meja itu. Karena memang semua tamu pasti datang ke sana dan mengatakan tujuannya.


"Selamat siang ...," Line menyapa lebih dahulu.


"Ck ... duh, siapa sih?" tatapan sinis justru menyambutnya.


"Saya sudah ada janji dengan Mr. George Leonardo," ujar Line langsung.


"Oh, kamu tinggal ke ruangannya saja!" sahut yang satunya lagi malas.


"Nona ... Apa yang Mr Goerge katakan jika melihat saya datang sendiri ke ruangannya?" tanya Line menaikan sebelah alisnya.


"Nyusahin banget sih!' dumal gadis bergincu tebal itu.


Dengan wajah ditekuk. Line diantar oleh salah satu resepsionis. Mereka naik lift karena ruangan HRD ada di lantai empat.


Dengan langkah setengah menyeret, resepsionis itu mengantarkan Line di pintu HRD.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!' sahut dari dalam.


Resepsionis membuka pintu dengan senyum palsu. Tentu saja ia tak mau dimarahi jika bermuka masam di depan salah satu petinggi tempatnya bekerja.


"Tuan, ada yang ingin bertemu anda!' ujar gadis itu dengan senyum indah.


"Oh apa itu Nona Robertson?" tanya Goerge semringah.


"A ... Itu ...."


Resepsionis mati kutu. Ia lupa menanyakan nama tamu yang ia bawa. Hal itu membuat George mengerutkan keningnya.


"Miss Dickson?" tanya Goerge lagi.


"Saya ... Saya tidak tau Tuan,' jawab Bella Dickson lirih.


George menggeleng pelan. Ia pun akhirnya meminta tamunya masuk.


"Aku memberikanmu peringatan Nona Dickson!" ujar George tegas.


Bella tampak harus menerimanya. Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk. Ia membenci tamunya.


"Gara-gara dia!" gerutunya pelan.


Sementara di tempat lain. Mark mendatangi kampus kekasihnya. Jiwa Line tampak penasaran kenapa jiwa Mark sangat ingin bekerja di perusahaan milik ayah dari gadis yang tubuhnya ditumpangi oleh Mark.


"Tuan Ortega!' pria itu menoleh.


Alyssa tersenyum ramah padanya. Mark hanya mengangguk dengan tatapan datar.


"Apa anda mencari Line Tuan?" tanya Alyssa sok akrab.


Jiwa Line berdecih, gadis yang antipati dengan persahabatan. Tetapi jiwa Line mengikuti keinginan Alyssa.


"Memang dia ada di kampus?" tanya Mark, jiwa Line tersenyum miring menatap pandangan pemujaan Alyssa pada kekasih orang.


"Tidak, Line tidak ada di sini Tuan Ortega!' jawab Alyssa.


Gadis itu menyampirkan rambut ke telinganya. Alyssa juga cantik, tubuhnya sedikit kurus dan berkulit pucat.


Alyssa tampak seperti gadis rapuh dan sangat butuh pertolongan. Mark berlalu dari hadapan gadis itu.

__ADS_1


Alyssa mengikuti langkah Mark. Entah apa yang diinginkan sang gadis. Jiwa Line membiarkannya.


"Ruang pengembangan mahasiswa?" Alyssa bingung kenapa Mark ke ruangan itu.


"Tuan?"


"Apa Nona Raphael?" tanya Mark.


"Kenapa anda ke ruangan ini?" tanya gadis itu.


"Aku hanya ingin tau alasan gadisku kenapa malah pergi ke perusahaan... lain," jawab Mark menjeda ucapannya ketika diakhir kalimat.


"Apa Tuan tak diberi penjelasan oleh Line?" tanya Alyssa tampak sangat mengetahui alasan Line memilih perusahaan yang letaknya jauh dari keramaian itu.


"Kenapa? Apa kau tau sesuatu?" tanya Mark penasaran.


Sebenarnya jiwa Line yang sangat penasaran. Ia sangat yakin jika Line bukan seorang yang mudah membuka atau berbagi kehidupan pribadinya pada orang lain.


'Apa Mark membocorkan sesuatu?' jiwa Line sedikit gelisah tentang hal itu.


"Line memiliki masalalu di tempat itu," jawaban Alyssa membuat jiwa Line tertawa.


'Kebohonganmu terbongkar juga!' umpat jiwa Line.


"Apa? Masa lalu?" tanya Mark.


'Aku ikuti apa permainanmu Lys!' sahut jiwa Line dalam hati.


"Euuummm ... Mungkin aku tak bisa menceritakannya, ia sudah memintaku untuk merahasiakannya," ujar Alyssa lagi-lagi berbohong.


"Oh kalau begitu baik lah!' sahut Mark yang memang tak peduli apapun.


Mark meninggalkan Alyssa yang kebingungan. Biasanya pria akan penasaran jika kekasihnya memiliki masa lalu. Tapi Mark seolah-olah tak peduli pada Line.


"Tuan!"


Mark berhenti, jiwa Line bersyukur tak mempercayai gadis yang selalu baik dengannya di kampus itu.


"Tuan, aku hanya mengingatkanmu ... Aku hanya ingin Tuan tau jika Line itu ...."


"Kau siapanya Line?" tanya Mark langsung menatap lurus netra sang gadis yang hanya tinggi sedagunya itu.


Alyssa hendak membuka mulutnya. Ia sedikit bingung menjawab apa hubungannya dengan Roseline, gadis paling genius di kampus.


"Aku sahabatnya," jawab Alyssa lagi-lagi berbohong.


Jiwa Line tertawa penuh kemenangan, tubuh Mark merespon energi yang terpancar dari jiwa yang berada dalam tubuhnya.


"Lalu apa maksudmu?" tanya Mark.


"Bisakah kita bicara di tempat yang lebih tertutup?" pinta sang gadis memohon.


"Aku hanya berbagi denganmu Tuan. Tapi tidak untuk didengar orang lain," jawab Alyssa seolah-olah melindungi Line.


Jika orang biasa mungkin akan antusias dengan perkataan gadis itu. Tetapi jiwa Line sangat genius. Ia tentu tau maksud terselubung dengan usaha Alyssa.


"Baiklah, kau tunjukkan di mana kau ingin bicara!" ujar Mark.


Alyssa membawa Mark ke sebuah kafe dekat kampusnya. Keduanya duduk di ruangan private.


"Halo Lys, mau ingin pesan apa?" tanya pelayan.


"Oh hai, Robin! Aku biasa ... eum, anda tuan?" tanya Alyssa pada Mark.

__ADS_1


"Late saja please!' pinta Mark santai.


Pelayan itu mencatat pesanan dua orang yang duduk bersebrangan itu.


"Kau belum bicara Nona Raphael,' ujar Mark mengingatkan.


"Bisakah kita menunggu tuan. Setelah pelayan ... ah, maksud saya Robin datang mengantar pesanan kita," jawab Alyssa lembut.


Mark mengangguk, jiwa Line merasa gelisah. Ia menatap benda bulat yang melingkar di pergelangan kirinya.


"Jam itu limited edition ya Tuan?" celetuk Alyssa bertanya.


Mark melirik tajam gadis di depannya. Mark memang pria pemuja wanita, tapi pria itu sangat pemilih. Walau Alyssa adalah gadis yang sangat bisa ia ambil untuk memuaskan nafsunya.


Tapi sikap gadis itu tak disukai Mark. Pria itu memang tak akan pernah tertarik dengan gadis sok polos seperti Alyssa.


Sepuluh menit menunggu akhirnya minuman itu datang. Mark menggeleng pelan. Ia juga seorang yang sering ke kafe dan ia sangat tau berapa lama seorang barista menyedu kopi.


"Lama sekali anda menyedu hanya sebuah late?" tanya Mark menyindir Robin.


"Ma ... Maaf tuan, tadi ada sedikit antrian ... jadi ...."


"Kau tau artinya tamu private Robin?" tanya Mark menatap tajam pemuda di depannya.


"Tuan ... tolong kendalikan diri anda," pinta Alyssa memohon.


"Kami baru mendirikan usaha ini. Jadi minta pengertiannya ...."


"Tidak bisa!" sentak Mark lalu berdiri.


"Ini sepuluh menit!" lanjutnya kesal.


"Kau tau artinya waktu bagi pebisnis Rob?" tanya Mark marah.


Mark malas berurusan dengan manusia yang tak mengerti akan pentingnya waktu. Pria itu meninggalkan begitu saja dua orang yang bengong dengan semuanya.


"Kau menggagalkan semuanya Rob!' ujar Alyssa kesal.


"Hah ... Aku?" Robin menunjuk dirinya.


"Kenapa kau lamban sekali!' protes Alyssa kesal.


"Hei ... Nona!" sanggah Robin marah.


"Kau pikir memasukan bubuk dalam kopi itu tak butuh timing?!' semburnya kesal.


"Aku harus mencari celah agar tak ketahuan!"


Alyssa bungkam, ia memang ingin menjebak Mark jatuh dalam pelukannya.


Robin mengusir teman satu kampusnya itu.


"Aku tak mau mengenalmu lagi. Dan ini adalah terakhir aku menolongmu!' ujar pemuda itu.


"Rob ... Robin!' pekik Alyssa menarik lengan pemuda itu.


Robin menepis kuat hingga Alyssa terjatuh ke aspal. Robin tak peduli, ia pergi meninggalkan Alyssa yang menangis.


Bersambung.


Lah ... Mau curang kamu Lys!


Next?

__ADS_1


__ADS_2