
Setelah meminum obat, ternyata Edrick mengalami gagal nafas karena alerginya bertambah parah.
"Suamiku!" pekik Elene ketakutan.
Wanita itu tentu takut. Roseline ada di sini. Sedang dia hanya sebagai istri yang tidak ada statusnya karena Edrick belum mendaftarkannya di catatan sipil. Bukan itu saja, pengenalan resmi dirinya sebagai istri juga belum dilakukan.
"Ayah!" Line segera membopong ayahnya.
"Ini semua karena kamu!" teriak Elena.
"Jauhkan tanganmu dari suamiku!" lanjutnya hendak menarik tangan Line dari Edrick.
Bruk! Elene terjatuh dan terduduk di lantai. Line menatap datar dirinya.
"Berhenti bersikap bodoh!" bentak Line.
Gadis itu mengambil tas dan kunci mobil. Ia pun menggendong sang ayah di belakang punggungnya.
Line adalah gadis yang kuat mampu menggendong sang ayah. Beberapa staf yang melihat membantunya membuka lift dan masuk bersama.
"Nona, Tuan CEO kenapa?"
"Cepat reservasi rumah sakit segera! Ayahku butuh pertolongan!" perintah Line.
"Apa ... Ayah anda?"
"Jangan banyak tanya!" bentak Line keras.
"Ba-baik Nona!" ujar staf itu langsung menelepon rumah sakit.
Line dan dua staf perusahaan naik mobil mewah sang gadis. Line menyerahkan kunci mobil pada salah satu staf.
Kendaraan roda empat itu pun meluncur ke rumah sakit. Sedang di ruangan kerja Edrick. Elena mulai gelisah.
Ia tak menyangka jika dirinya secepat ini harus pergi meninggalkan kemewahan.
"Tidak ... Ini tidak boleh terjadi!" teriaknya panik.
Elena meraba perutnya yang rata. Lima tahun menjerat Edrick dalam pelukannya. Tapi tak satupun benih yang tumbuh dalam rahimnya.
"Apa dia mandul? Jangan-jangan Roseline bukan putrinya?"
Lalu sebuah ide terlintas. Elene tersenyum miring mendapat ide brilian itu.
"Aku pastikan jika kau tak mendapat apapun dari ayahmu!'
Elena pergi dan meninggalkan makanan yang ada di meja. Lima menit kemudian, seorang pria datang dan mengambil sampel makanan.
"Sudah saya ambil Nona!" ujar pria itu dalam sambungan telepon.
"Bawa ke sini cepat!" titah suara di sambungan telepon.
"Baik Nona!" ujar pria itu.
Gegas ia lalu pergi ke rumah sakit menyerahkan sampel makanan yang tadi di makan oleh atasannya.
Sementara di tempat lain. Mark berhasil menjalin kerjasama di dua perusahaan sekaligus. Jiwa Line membuat prestasi luar biasa.
Hanya dalam waktu singkat. Nama Mark Philip Ortega melejit dan diusung sebagai pebisnis baru tercemerlang.
__ADS_1
"Sayang!" teriak Maria ketika sampai di ruang kerja suaminya.
"Astaga ... Kau mengagetkanku? Ada apa sayang?"
Marcus nyaris mencoret berkas senilai seratus juta dolar akibat terkejut. Andrean ajudan pria juga nyaris menumpahkan air karena begitu terkejutnya.
'Nyonya?"
"Sayang lihat!"
Maria meletakkan majalah di atas meja suaminya. Menduduki berkas yang hendak di tandatangani sang suami.
"Sayang, kau menduduki kertas senilai ratusan juta dolar," keluh pria itu.
"Ck ... Ini berita lebih dari uang kontrak itu sayang!" sahut Maria tak peduli.
"Apa yang membuat itu lebih penting sayang?" tanya Marcus.
"Lihat ini,"
Maria menyerahkan majalah yang berheadline berita putra mereka. Marcus menatap tak percaya.
"Apa berita ini bisa dibenarkan sayang?" tanya Marcus.
"Apa mereka bisa memberikan berita bohong? Atau kau tak percaya dengan kemampuan putramu sendiri?" desis Maria tak suka.
Maria langsung ngambek, wanita itu turun dengan kasar hingga membuat kertas berharga yang didudukinya lecek.
Maria lalu memasang muka cemberut dan pergi meninggalkan suaminya. Lyn yang baru sampai harus mengejar atasannya.
"Sayang!" Marcus tentu merasa bersalah.
"Astaga ... Apa orang kaya bisa semaunya seperti itu?" desah Andrean lemah.
Maria Louissa Frankfurt, memang sangat kaya raya. Kekayaannya melebihi sang suami. Wanita itu masih memiliki darah bangsawan, keturunan terakhir dari pangeran Albert Frankfurt dari kerajaan Eropa.
Maria mewarisi kekayaan yang tak terhitung nilai profitnya. Belum lagi, ia pebisnis handal dan mampu menciptakan peluang. Makanya nilai kertas di atas meja suaminya itu sama sekali tak ada artinya di mata wanita itu.
"Sayang!"
Marcus berhasil mengejar sang istri. Ia memeluknya erat. Ryn harus menyingkir agar tak melihat keromantisan sepasang suami istri.
Gadis berusia sama dengan Mark itu memang masih melajang. Ia belum membuka hatinya karena masih menyimpan cintanya untuk seseorang.
"Sayang, maaf ... Maaf," ujar Marcus.
"Ti ... Mmmpppffhhh!!!'
Maria tak bisa melanjutkan perkataannya karena sang suami membungkam mulutnya dengan bibir pria itu sendiri.
Keduanya berciuman sepanjang lift turun. Ketika pintu benda itu terbuka.
"Mom, Dad?"
Keduanya melepaskan diri, Maria merona dan memalingkan wajahnya. Marcus juga ikut tersipu.
"Ah ... kenapa kalian tak berbulan madu lagi?" tanya Mark dengan seringai jahil.
"Kami sudah tua sayang!" tolak Marcus yang diberi reaksi cemberut oleh istrinya.
__ADS_1
"Mommy cemberut Dad," kekeh Mark menyeringai usil.
"Dia ingin bercinta lama denganmu!" lanjutnya.
"Gila kau!"
Maria memukul pelan putranya. Wanita itu malu luar biasa. Mark masuk lift dan ketiganya naik kembali.
Sampai di lantai paling atas. Lyn masih menunggui atasannya. Mata coklatnya bersibobrok dengan mata biru Mark.
"Tu-tuan muda ...," cicitnya lalu menunduk.
Deg! Deg! Deg! Jantung gadis itu melompat keras seakan ingin keluar dari tempatnya bersarang.
"Mark!" pekik pria itu melihat kucingnya ada di sebuah tas khusus.
Mark langsung mengambil alih tas itu dan membawanya. Mereka mengikuti Mark yang berjalan ke ruangan ayahnya.
Paul datang belakangan. Pria itu sedikit kelelahan akibat begitu gesit tuan mudanya. Ia harus menyetir sendiri, karena Mark tak mau berdua dengannya.
"Tuan," keluh pria itu.
"Maafkan dia Paul," ujar Marcus meminta pengertian.
Mark tengah bermain dengan anabul lucunya. Jiwa Line tentu merindukan kucing kesayangannya itu.
"Meong ... krrr ... Krrrr," bunyi dengkuran khas Mark yang menenangkan pikirannya.
"Dia sudah duda Nak," ujar Maria lalu ikut duduk bersama putranya.
"Hah, apa?" Mark tentu tak mendengar perkataan ibunya.
"Mark sudah duda. Kekasihnya kemarin mati karena melahirkan dan ia juga kehilangan enam anaknya," lanjut Maria memberi informasi.
"Astaga Mark ... Menyedihkan sekali hidupmu sayang," sahut Mark lalu mengelus sayang kucing orange itu.
"Meong!"
Sementara di sebuah rumah sakit. Sosok pria berpakaian serba hitam menyelinap ke sebuah ruangan.
Pria itu memakai topi dan masker. Ia juga memakai sarung tangan.
Perlahan mendekati brangkar di mana Edrick terbaring lemah dengan selang oksigen yang menempel di hidung.
"Tuan, kau harus mati," ujarnya pelan.
Pria itu hendak mencopot selang oksigen di hidung pria yang terbaring.
"Apa yang kau lakukan?" sebuah suara mengagetkan.
Pria berbaju hitam itu segera menarik selang oksigen. Lalu ia berbalik dan berlari.
Bruk! Dua tubuh bertabrakan dan jatuh ke lantai. Line menabrakan tubuhnya pada pria yang hendak membunuh ayahnya.
"Tolong! Ada pembunuh!" teriak gadis itu.
Bersambung.
Next?
__ADS_1