
Angela melangkah menghalangi dua manusia yang bergandengan tangan. Ayahnya, Samuel tentu menahan keinginan putrinya.
"Inikah yang kau lakukan padaku setelah merenggut semua dariku?" desis Angela lagi-lagi berdrama.
"Merenggut bagaimana?" Line maju menatap gadis yang tinggi sehidungnya itu.
"Bukankah kau bilang barusan kau tak pernah disentuh?" lanjutnya bertanya tentu dengan nada meledek.
"Aku ... Aku ...," Angela gelagapan.
Gadis itu tak menyangka dramanya tadi ada yang melihat. Line makin maju dan Angela terjajar mundur. Samuel tentu geram.
"Jaga perilakumu gold digger!" tuduhnya langsung.
"Jaga bicaramu Tuan Broks!" seru Edrick tentu membela putrinya.
Line sedikit terkejut melihat ada ayahnya di sana. Jarak kota besar ini tentu sangat jauh dengan daerah kediaman pria itu.
"Siapa kau?!" sentak Samuel.
"Aku Edrick Smith! Ayah dari gadis yang mau tuduh pengeruk tambang!" sahut Edrick tentu menatap nyalang Samuel.
Kekayaan Samuel memang di bawah Edrick Smith. Nagata menengahi mereka semua.
"Tolong jangan ribut. Bukankah kalian adalah sama-sama pebisnis!?"
"Ayo pulang Nak!" ajak Edrick pada putrinya.
"Tidak!" tolak Line cepat.
Jiwa Mark yang ada di dalam tubuh gadis itu merasakan kemarahan luar biasa. Ia sendiri ikut geram melihat wajah tak bersalah pria di depannya.
"Nak! Ayah bisa menghidupimu tanpa kau menjadi kekasihnya!" ujar Edrick lagi.
"Jaga bicaramu Tuan!" tegur Mark tentu tak menyukai perkataan ayah sang gadis.
"Dia putriku, selama itu aku memiliki tanggung jawab penuh untuk melindunginya!" tekan Edrick.
"Aku bisa jaga diriku Tuan Smith. Ingat aku adalah Robertson!" sahut Line membantah perkataan ayahnya.
"Aku adalah anak ibuku!" tandasnya lagi.
"Sudah ... Aku mohon!" pinta Nagata.
"Bukankah mestinya kalian membuatku nyaman?" Pria itu mulai tak suka.
"Aku membatalkan proyek ini!" lanjutnya lalu hendak pergi.
"Tuan ... Tuan ... Maafkan kami!" tentu Samuel tak mau kehilangan tambang emasnya.
"Daddy!" rengek Angela ia mau ayahnya berada di sisinya.
"Nak ... Ayah mohon untuk kali ini!" pinta Samuel.
"Daddy tak mencintaiku lagi!" isak gadis itu menunduk.
__ADS_1
"Nak ...,"
"Daddy ... Hiks ... Hiks!"
Nagata sudah tak mau lagi menggelar proyeknya. Jiwa Line tersenyum sinis. Ia telah melaksanakan misi balas dendam pertamanya.
Bahu Samuel turun, uangnya habis tak tersisa untuk mengadakan gala dinner ini. Edrick juga lemas, ia kehilangan proyek karena banyak kolega juga memilih pergi dari tempat itu.
"Pemirsa, gala dinner senilai miliyaran dolar musnah seketika ketika pihak Nagata grup meninggalkan lokasi tanpa membuka proyek!" lapor salah satu wartawan.
"Daddy ... Maaf .. Aku tidak tau kalau hari ini sangat penting untukmu," ujar Angela menyesal.
"Tapi ini semua bukan kesalahanku!" ujarnya tentu membela diri.
"Tapi perempuan itu!" tunjuknya pada Line.
"Jangan membuatku buta Nona Broks!" tekan Mark lalu maju mendekati gadis itu.
"Sayang ... Kau pasti dicuci otaknya oleh gadis itu kan?" rengek Angela pada Mark.
"Sayang?" beberapa wartawan berbisik.
"Bukankah Nona Broks tadi bilang ia tak pernah disentuh hingga menampar ibu sambungnya begitu rupa?"
Angela tentu mati kutu. Mark menggandeng tangan Line. Gadis itu hanya menurut, jiwa Mark menikmati drama ini.
"Tuan Broks ... Aku ingatkan untuk membayar utang profitmu untuk menyelenggarakan gala dinner ini!" ujar Paul mengingatkan Samuel.
Paul membungkuk hormat dan berlari menyusul tuannya. Edrick melangkah gontai. Ia akan berpikir dua kali lipat untuk tetap bertahan di masa kritis ini.
"Ini semua karena kau!" teriak Samuel murka.
"Kau menghina putriku lebih dulu!" teriak Edrick tak terima.
"Berengsek!' lanjutnya memaki.
"Aku pastikan perusahaanmu gulung tikar setelah ini Broks! Jangan mengira aku tak bisa melakukannya!" ancamnya tak main-main.
Edrick memang tengah kesulitan untuk menangani keuangan perusahaan yang tiba-tiba turun. Tetapi pria itu memiliki kekuatan bisnis yang tak bisa dianggap enteng semua orang.
"Aku ketua asosiasi pebisnis negara ini! Akan aku beberkan keuanganmu ke publik. Aku ingin lihat. Perusahaan mana yang masih mau bekerjasama denganmu nanti!"
Edrick melepaskan diri dari cengkraman orang-orang. Semua pebisnis di sana tentu tak berani membela Broks sama sekali.
Edrick pun keluar gedung dan menaiki mobil mewah miliknya. Pria itu masih bisa menyetir sendiri.
Smith memang tak mempercayai siapapun untuk menjadi ajudannya. Pria itu bekerja sendiri dan memang karena otaknya yang genius.
Sedang di tempat lain. Kendaraan mewah bergerak menuju sebuah destinasi wisata indah.
"Kau pasti laparkan?" tanya Mark lalu membelai kepala Line.
Hal biasa yang dilakukan tubuh pria itu. Sedang tubuh Line merespon mengelak elusan Mark.
"Ck!' pria itu berdecak.
__ADS_1
"Jangan berlaga romantis Mark!" tegur Line yang tentu pria itu sendiri yang mengatakannya.
"Hei ... Kau yang hendak mengelusku!" sengit Line yang tentunya Mark yang bicara.
"Sikap playboymu itu yang tak bisa kutahan Mark," ujar Mark sendiri.
"Itu aku, kau terimalah!" sahut Line, jiwa Mark malas berdebat.
Kendaraan mewah itu berhenti di bukit. Mark keluar dan menyender di mobilnya sambil menatap lampu-lampu berkedip dari kejauhan.
Line ikut turun dan menikmati pemandangan itu. Ia memeluk tubuhnya. Udara malam itu sangat dingin. Perlahan Line menggosok bahunya sendiri.
Mark membuka jasnya dan menyampirkan di bahu sang gadis. Dengan nakal ia mengecup bahu terbuka milik Line sebelum ditutupi jas-nya.
"Kau!"
"Sudah sini kau!" Mark menarik tubuh ramping Line dalam dekapannya.
Pria itu memeluknya dari belakang. Dua jiwa yang bertentangan akhirnya pasrah. Line menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang pria.
"Kapan kita ke situs itu Mark?" tanya Mark tentunya ada jiwa Line yang ingin semuanya berakhir.
"Bukankah kau bilang akan jadi pria lebih hebat dibanding pria sebenernya?" ujar Line tentunya mengingatkan sumpah gadis itu.
"Jangan kau buat aku liar seperti katamu!" tukas Mark memperingati jiwa Mark yang ada di dalam tubuh sang gadis.
"Ck ... Aku sangat menikmati melihat tubuhmu," jiwa cabul Mark tentu membuat jiwa Line marah.
"Kau!"
"Hei jangan memukul tubuhmu sendiri!" peringat Line ketika Mark memukul pelan bahunya.
Line berbalik dan menatap netra biru di depannya. Jiwa Mark yang memancing insting sang gadis untuk lebih berani.
Line mengalungkan lengannya di leher pria itu. Jiwa Line tentu menolak tapi respon tubuhnya malah menerima perlakuan Line.
Mark menarik pinggul sang gadis untuk lebih merapat lagi. Dua hidung bersentuhan. Nafas keduanya begitu terasa di wajah masing-masing.
"Jangan memancingku Line!" peringat Line sendiri.
Dua bibir saling memagut, entah siapa yang mulai. Kemesraan keduanya ditatap oleh ribuan bintang di langit.
Jiwa Line menahan gejolak yang menyerang hasrat pada tubuh yang ia tumpangi.
"Please," pintanya.
"Aku ingin menyerahkannya pada saat malam pengantinku nanti," lanjutnya lirih.
Jiwa Mark tertegun, ia tentu menghormati keinginan tubuhnya. Ia juga tak mau merusak gadis suci yang hanya mengikuti insting jiwanya.
"Kita pulang?" ajak Line.
Mark mengangguk, mereka kembali menaiki mobil dan berlalu dari tempat itu. Sedang Paul sudah berada di kondominium milik atasannya. Pria itu sedikit membeku menunggu Mark.
"Ah ... Tuan!' keluhnya.
__ADS_1
Bersambung.
Next?