
Hari yang dinanti tiba. Semua persiapan pernikahan sangat cepat dilakukan.
Maria memang tak pernah mau menunda apa lagi membatalkan pernikahan yang ia harapkan ini.
Edrick datang bersama kakak dan adiknya. Begitu juga dengan ipar dan dua keponakannya. Samantha memeluk Roseline dengan haru.
"Kau kurusan sayang," ujarnya perhatian.
"Mommy mempercepat harinya Aunty," jawab Line mengeluh. Tentu jiwa Mark yang begitu.
Mark lupa jika sang ibu memang sangat ingin ia menikah. Tapi ia tak menyangka akan secepat ini.
"Nak," Line menoleh.
Seorang pria duduk di kursi roda adalah ayahnya. Tampak raut penyesalan dan rasa malu tergambar jelas di wajahnya.
"Hei ... Maafkan dia sayang. Semua orang punya kesalahan," ujar Samantha pada keponakannya yang bergeming menatap sang ayah.
"Dad,"
Line mendekat, Edrick langsung menarik lengan sang putri dan memeluknya. Eduardo tersenyum melihatnya.
"Kau cantik seperti ibumu nak," pujinya.
"Ayo bawa masuk keluargamu sayang!" perintah Maria dengan sebuah teriakan.
"Sayang!" peringat Marcus.
"Apa?" sungut Maria kesal sendiri.
"Jaga sikap sayang. Kita banyak tamu," ujar sang suami memberi pengertian.
Maria mengerucut, ia memang bertingkah sedikit bar-bar. Di kastil atau istana tempat tinggal kakek buyutnya. Maria dikenal sebagai tuan putri yang paling berani dan bar-bar.
Keluarga Smith ditempatkan di sebuah paviliun mewah. Samantha memanjakan gadis itu.
Gadis itu tentu bukan berjiwa sang gadis. Tapi tubuh dan hatinya seakan memiliki perasaan dan keinginan sendiri.
"Ini foto ibumu nak," ujar Samantha memberikan satu bingkai foto.
Di sana sang ibu tersenyum bahagia sambil menggendong dirinya yang baru saja lahir. Air mata gadis itu meleleh.
"Ibu ...."
"Oh sayang ...," Samantha memeluk keponakannya.
Edrick menatap putrinya, seribu sesal menyergap hatinya saat ini. Hanya masalah ranjang, ia tega mengkhianati sang istri.
"Dia cantik kan Mom?" tanya Line sambil mengusap foto ibunya.
"Nak," panggil Edrick.
Line hanya melirik ayahnya. Samantha menghela nafas panjang. Ia mengelus rambut keponakannya.
"Sayang, semua manusia pasti punya salah," ujarnya memberi pengertian.
__ADS_1
"Tapi sampai Mommyku mati!" sungut Line melirik ayahnya marah.
Edrick menunduk, sungguh istrinya itu memang sangat cantik dan penurut. Masakannya sangat enak. Ericka itu juga bisa melayaninya di ranjang dengan baik.
Namun ketika selesai melahirkan, sang istri jatuh sakit dan membuat Edrick harus menahan seluruh hasratnya. Lalu datang Elene dan bisa membangkitkan gairahnya.
"Sayang, kau tak boleh begitu. Besok hari penting untukmu. Hatimu harus bersih dari benci dan dendam!" ujar Samantha membelai rambut Roseline yang sudah melewati bahunya.
"Walau bagaimanapun, ayahmu yang akan menggiringmu ke altar. Bukan yang lain," lanjutnya memberi semangat.
Line menghela nafas panjang, ia memang harus berdamai. Ibunya telah lama tiada, ayah dan Elene telah mendapat hukumannya.
"Bagaimana kabar si kembar?" tanya Samantha pada Line yang dijawab tatapan datar oleh gadis itu.
"Sayang," peringat Samantha lagi.
"Teresia mengurus mereka," jawab Line malas.
Samantha menghela nafas, ia menatap adik iparnya yang setia menunduk. Beruntung Elene Meyers telah meninggal, lalu dua anak itu juga bukan darah daging dari Smith.
Dekorasi pesta telah rampung. Eduardo menatap altar yang menghadap di mana matahari tenggelam. Mark menginginkan pernikahan berlangsung saat senja mulai turun dan berganti malam.
"Bapa!" Eduardo menoleh.
"Tuan Ortega!"
"Panggil saya Marcus saja Bapa!" ujar Marcus.
"Tidak bisa, anda orang penting ...," tolak Eduardo.
"Bagaimana menurut anda altarnya? Apa ada yang kurang?" tanya Marcus.
"Ini altar terindah yang langsung menghadap ciptaan-Nya. Anda luar biasa!" puji Eduardo.
"Apa tak masalah tak ada salib atau patung bunda Maria?" tanya Marcus lagi.
"Tidak perlu ini sudah cukup. Yang penting kehadiran Tuhan di hati kita semua itu sudah cukup!" ujar Eduardo.
Marcus tersenyum lega, Mark dan Line memang penyuka senja. Walau Mark yang playboy dan Line yang cuek. Tapi hati mereka sehangat dan setenang senja.
Tak terasa waktu terus bergulir. Pulau pribadi itu kini banyak orang berkedudukan penting, baik dalam bidang bisnis atau pemerintahan.
Maria dan Marcus menyambut semua tamu yang hadir. Memang hanya seratus orang, tetapi semua adalah orang-orang penting.
"Tuan, bagaimana dengan suasana pulau ini?" tanya wartawan.
"Ini indah sekali. Sungguh luar biasa!" jawab salah satu kolega bisnis memuji.
"Saya akan meminta Tuan Ortega untuk menyewakannya dua bulan mendatang untuk pernikahan putri saya!" ujarnya lalu menatap Marcus.
Pria itu mengangkat gelas wine tanda setuju. Semua yang hadir memakai baju terbaik mereka.
"Wah ... setelan tuxedo ini bukan kah milik perancang ternama itu? Tuxedo yang diambil designnya dari tuxedo pertama?" ujar pengamat busana.
"Benar, tuxedo ini memang mengambil contoh model yang lama. Tapi lihat serat benang emasnya!" ujar salah satu pengamat.
__ADS_1
"Baju resmi itu terkesan sangat mewah tapi elegan dan tidak berlebihan!" lanjutnya sangat puas dengan apa yang dilihatnya.
Gaun yang dikenakan para wanita juga dari rancangan designer kondang. Terlebih apa yang dikenakan oleh istri dari Marcus.
Maria mengenakan gaun panjang hingga menyeret tanah. Gaun berbahan sutera dan benang emas.
Gaun bermodel kemben itu memamerkan bahu dan selangka Maria yang indah juga leher jenjangnya. Perhiasan yang dikenakan juga hanya kalung dengan liontin berlian langka.
Anting Maria hanya mutiara kecil. Rambutnya digelung ke atas dan membiarkan anak rambutnya tergerai hingga terkesan seksi.
Rodrigo hadir bersama istri dan dua putranya. Mereka juga mengenakan busana yang tak kalah mewahnya.
Pesta kali ini benar-benar memamerkan kekayaan semua orang. Hari pun beranjak petang.
Eduardo telah siap di altar. Mark sudah ada di sana dengan setelan tuxedo mahal berwarna hitam pekat.
Paul dan Edrick jadi pembawa cincin pernikahan tuan mudanya. Keduanya duduk di sisi sebelah kiri bersama Maria dan Marcus.
Musik terdengar, semua menoleh arah di mana pengantin wanita datang.
Roseline melangkah perlahan bersama sang ayah. Edrick mengalungkan lengan putrinya pada lengannya.
Line dengan gaun putih sederhana yang bertahtakan mutiara dan berlian Swarovski. Kecantikan wajahnya ditutupi layer putih yang juga berhiaskan mutiara asli.
Hingga sampai altar. Edrick menyerahkan putrinya ke tangan Mark.
Di situs kuno, pergerakan terjadi. Garis-garis menyala dan membentuk sebuah gambar. Rasi bintang Mark dan Line bergerak. Semua rasi berputar-putar.
"Aku serahkan putriku agar kau cintai dan kau sayangi seumur hidupmu!" ujar Edrick dengan suara bergetar ketika menyerahkan lengan Line pada Mark.
"Akan kucinta dia segenap hatiku!" janji Mark.
Keduanya menghadap pendeta. Di sana Eduardo memakai jubah kebesarannya. Pria itu berkaca-kaca ketika melakukan pemberkatan pada dua mempelai.
"Mark Philip Ortega, bersediakah kau menjadikan Roseline Elizabeth Smith sebagai istrimu dan teman hidupmu di saat suka dan duka!" ujar Eduardo pada Mark.
'Yes i do!" jawab Mark tegas.
"Roseline Elizabeth Smith, bersediakah kau menjadikan Mark suami dan teman hidupmu bersama dalam suka dan duka?"
"Yes I do!"
"Pasang cincin kawin kalian!"
Paul heboh dan sedikit panik ketika menyerahkan kotak beludru itu pada Mark. Sedang Erick dengan tenang menyerahkan kotak pada sahabatnya.
Mark menyematkan cincin di jemari istrinya begitu juga sebaliknya.
"Sekarang kalian sah suami istri. Kau boleh cium istrimu Mark!"
Mark tak mau berlama-lama, ia membuka begitu saja layer yang menutupi wajah cantik istrinya dan mengulum bibir Line penuh nafsu.
Bersambung.
Ah bentar lagi mau beres nih!
__ADS_1
next?