WHEN I BECOME YOU

WHEN I BECOME YOU
NORMALY LIFE


__ADS_3

Line tengah sibuk mengurus perkuliahannya. Jiwa Mark yang ada pada tubuhnya sangat menikmati bahkan kegeniusan otak Line membantunya lebih percaya diri.


Gadis itu kali ini diantar oleh Mark, tentu saja jiwa yang ada dalam tubuh pria itu merindukan suasana kampus. Mark menggandeng Line sedemikian rupa.


“Astaga ada dewa ketampanan masuk area kita!” seru beberapa gadis menatap wajah Mark.


Angela, Gladys dan Rihana sampai menganga melihat bagaimana seorang yang selalu ada di cover majalah bisnis itu ada di kampus mereka.


“Mana kelasmu sayang?” tanya Mark.


“Ini sayang. Apa kau mau masuk ke dalam?” tanya Line tersenyum manis.


“Tidak, aku mengantarmu sampai sini ya,” tolak Mark.


Mark mencium bibir Line di depan semua orang. Banyak jerit histeris yang diutarakan bahkan ada yang menyoraki sebal Line yang mendapat ciuman itu.


“Belajar yang rajin ya?” suruh Mark yang tentunya jiwa Line meledek jiwa di dalam tubuhnya itu.


“Jangan khawatir sayang. Otak ini bisa diandalkan!” sahut Line sebal yang tentunya jiwa Mark yang merasakan itu.


Mark pun pergi dengan langkah tegap, beberapa gadis mengikutinya dan mengelu-elukan dirinya. Line duduk di bangku dan menaruh ransel LV christoper. Semua tentu menelan ludah ketika Line meletakkannya begitu saja di lantai.


“Astaga Line, kau tau berapa harganya ini?” decak kesal Alyssa lalu mengambil tas temannya itu dan mengusap bagian benda iti.


“Jangan berlebihan Lys!” sahut Line cuek.


“Line ... ini 18 ribu dolar! 18 ribu dolar!” teriak Alyssa.


“Apa semahal itu?” tanya Line bodoh.


Alyssa menatap temannya yang juga menatapnya. Ia tak percaya jika Line tidak mengetahui benda bermerek. Gadis itu menyampirkannya hati-hati di kepala bangku milik Line.


“Kau harus menghargai benda mahal ini!” ujarnya menasehati.


Dosen datang, beberapa gadis berlarian memasuki kelas. Mereka tadi mengikuti Mark, mata Mr. Oliver membesar melihat anak didiknya tak serius mengikuti mata kuliah.


“Apa yang kalian kejar tadi?” desisnya menghina beberapa gadis termasuk tiga gadis seksi yang memakai pakaian mini.


“Apa ini? Apa ayah dan ibumu tak mampu membelikan kalian baju?” hinanya lagi pada Gladys, Rihana dan Angela.


“Jika kalian ingin ke klub. Pergi!” usir pria berkepala plontos itu.


“Sir ...,” Angela hendak berbicara.


“Pergi!” usir Mr. Oliver lagi.


Tiga gadis itu terpaksa keluar dari kelas, mereka memilih benaran pergi dari kampus menuju kafe dan menghabiskan waktu mereka di sana.

__ADS_1


Tak terasa mata kuliah berakhir, semua mahasiswa dan mahasiswi sudah menjelang semester akhir. Line dan lainnya diminta untuk ke dewan pengembangan siswa untuk mendapatkan perusahaan magang mereka.


“Line, ada dua perusahaan yang memintamu untuk bekerja magang,” ujar staf.


“Kau bisa memilih salah satunya,” lanjut staf itu mendorong dua amplop pada gadis paling genius di kampusnya.


Line menatap amplop bertuliskan dua perusahaan. Salah satunya adalah perusahaan milik ayahnya. Ia tersenyum miring.


“Aku memilih yang ini,” ujarnya lalu mendorong amplop perusahaan lain.


Jiwa Mark tentu memiliki alasan khusus memilih perusahaan milik tubuh yang ia tumpangi. Walau jaraknya jauh, tapi Mark ingin semua milik gadisnya harus kembali padanya.


Jiwa Mark merasakan pergolakan hebat ketika menerima perusahaan milik ayah Line. ia sangat yakin jika tubuh yang Mark tumpangi menolak keras keputusannya.


‘Tenanglah, kau harus mendapatkan apa yang jadi milikmu. Jangan sampai perempuan itu menguasai apa yang harusnya menjadi hakmu,’ ujar jiwa Mark pada tubuh yang tengah bergolak hebat.


“Baiklah, saya akan memberitahu jika kamu akan bekerja di perusahaan Smith Brothers,” ujar staf dan ditanggapi anggukan Line.


Ketika keluar ia melihat Eric tengah mengelap sepatu oleh raga milik Bastian. Pria tinggi itu seperti hamba sahaya yang tengah menghiba pada tuannya. Line marah melihatnya.


Gegas gadis itu mendekati rombongan yang katanya pahlawan olahraga di kampus. Bastian menatap dan tersenyum lebar meloihat gadis yang ia incar mendatanginya.


“Line ....”


“Berdirik kau EricK!” perintah Line tegas.


“Line ... aku sudah berjanji ....”


“Berdiri kataku!” Line menarik tangan Erick.


Pria berkulit hitam itu berdiri dan Line mengusap tangan Erick dengan tisu. Gadis itu sedih dengan perbuatan bodoh pemuda itu.


“Kau ikut aku ya!” ajak Line.


“Tapi aku ....”


“Stop being stupid Erick!” sentak sang gadis.


Erick sampai meneteskan air mata. Kecintaannya pada olah raga base ball membuatnya rela melakukan apapun demi masuk tim olahraga itu.


“Kamu berhak mendapat lebih baik. Mereka tak peduli dengan ibumu yang sakit, tak peduli dengan adikmu yang juga kini sedang berjuang bekerja keras untuk membantu semuanya!” ujar Line dengan marah.


“Katakan padaku Erick, berapa lama Bastian berjanji untuk memasukkanmu ke dalam tim?” tanyanya.


Erick terdiam, entah berapakali Bastian berjanji, tapi pemuda idolanya selalu mangkir dan memiliki seribu alasan untuk melanggarnya.


“Aku pasti menepatinya!” sahut Bastian tentu tak mau kehilangan Erick, pria suruhan gratisnya.

__ADS_1


“Aku hanya tinggal satu pertandingan lagi. Aku sudah menjanjikan itu padanya, iya kan Rick?” ujar Bastian memastikan ucapannya pada Erick.


“Kau berkali-kali menjanjikan itu Bas!” sentak Line kesal.


“Dari kau hanya sebagai pemain biasa, sekarang kau adalah kapten tim. Kapan kau menepati janjimu?” tanyanya lagi.


“Kau tau Bas, Erick adalah penggemar beratmu. Dia rela berbohong pada adiknya untuk membeli seragam ini demi memuaskanmu!” sahut Line.


“Jangan asal bicara. Itu salahnya!” sahut seorang gadis membela pemuda idamannya.


“Bas ... tinggalkan dia, kau sudah menjadi populer. Aku yakin banyak Erick di luar sana mau jadi pesuruh gratisanmu!” lanjut sang gadis lalu menggandeng lengan kekar Bastian.


“Iya ... ayo tinggalkan dia!” ajak beberapa pemain lainnya dan meninggalkan Erik yang mulai panik.


“Erick!” tahan Line pada pemuda berkulit gelap itu.


“Line ... please ....”


Line menatap mata permohonan Erick di sana. Line begitu kecewa. Perlahan ia melepas cengkramannya pada pemuda itu.


“Aku sudah berusaha menolongmu. Tapi kau rupanya mau dibodohi mereka. Aku kasihan dengan Aretha yang berharap banyak padamu,” ujar Line yang membuat Erick membeku.


“Line ... kau tau mimpiku jadi pemain baseball besar ....”


”Tapi tidak jadi budak Bastian!” potong Line membungkam Erick.


“Hank Aaron atau Willie Mays bermain di liga kecil dulu dan menunjukkan kehebatannya lalu dunia baru mengakuinya,” lanjutnya menjelaskan.


“Aku hanya ingin kau fokus dulu pada keluargamu. Ibu dan adikmu butuh dirimu, jangan kecewakan mereka,”


Line membalikkan tubuhnya dan berjalan, Mark datang menjemputnya. Erick tertegun melihat bagaimana pewaris tahta perusahaan terbesar mencium mesra bibir gadis yang tadi berbicara dengannya.


“Apa kau berhasil membujuknya?” tanya Mark melirik Erick yang masih berdiri dengan tatapan menerawang.


“Aku sudah mencobanya, semua terserah dia,” jawab Line.


Mark menggandeng Line dengan mesra. Banyak gadis mencibir gadis itu dan merasa Line tak pantas di sisi Mark. Keduanya masuk mobil mewah dan pergi ke rumah sakit menjenguk Paul.


“Apa Paul baik-baik saja?” tanya Line merasa bersalah.


“Dia pria kuat, hanya hiportemia ringan.” jawab Mark.


Bersambung.


Gara2 kalian Paul sakit 😌


Next?

__ADS_1


__ADS_2