
Jiwa Mark menatap pria tampan di depannya. Sosok Rahardian Black Dougher Young memang berusia di atasnya dua tahun.
"Jadi pembunuh ini seperti memiliki kepribadian ganda," jelas Rahardian.
"Ketika ayah nona hendak dibunuh. Itu bukan Lock tapi Kirk," jelas Rahardian.
"Bagaimana bisa? Bukankah Kirk dipenjara yang jaraknya ratusan kilo meter dari sini?" tanya Mark.
"Itu yang masih kami selidiki. Tapi kami curiga jika mereka menjalankan sebuah ritual penukaran jiwa,"
Mark dan Line tersedak ketika mendengar hal itu. Mark tertawa, tentu jiwa Line ingin menyembunyikan sesuatu.
"Mana ada yang seperti itu?" kekehnya.
"Nectra zodiatus regraa!" ujar Rahardian yang membuat keduanya terdiam.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Line mengalihkan pembicaraan.
"Apa nona mau memancingnya melakukan sesuatu?" tanya Rahardian hati-hati.
"Apa kau gila!" sentak Rodrigo tentu menolak keinginan Rahardian.
"Itu akan membahayakan nyawanya!"
"Benar Tuan. Tapi jika kita tak memancingnya, maka Nona tak akan pernah lepas dari pengintaian itu!" jelas Rahardian lagi.
Ponsel Line berdering, Teresia meneleponnya. Buru-buru ia mengangkatnya.
"Nona, Nyonya Elene pendarahan!" teriaknya.
"Baik, kau telepon rumah sakit. Aku akan tunggu kau di sana!" perintah Line.
"Ada apa?'' tanya Mark.
"Elene pendarahan," jawab Line.
Percakapan tentang Lock Gideon terhenti. Line bergegas ke rumah sakit untuk menunggu Elena.
Rahardian mengawal kliennya. Tak ada yang mengetahui seluk beluk pengawalan SavedLived karena memang perusahaan itu sangat tertutup.
Tak lama berselang, ambulance datang membawa Elena. Dress yang ia kenakan berbercak darah.
"Sakit!" erangnya lemah.
Line menatapnya, tangan Elene meraih tangan gadis itu.
"Selamatkan anak-anakku ... Aku mohon!" pintanya lirih.
"Kau tenanglah!" ujar Line datar.
Jiwa Mark memang tak peduli segala hal. Sedang Mark yang ada di sisi Line tentu iba. Jiwa Line yang merasakan betapa sakitnya Elene saat ini.
Elena dibawa ke ruang operasi. Teresia menceritakan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nyonya Elena memang ingin memakai sepatu tinggi dan gaun pengantin. Padahal saya sudah bersikeras karena dokter mengatakan jika kandungannya sedikit bermasalah,"
"Nona bisa lihat di rekaman kamera pengintai," lanjutnya.
"Aku percaya ceritamu Tere," ujar Line menepuk bahu maid berkulit hitam itu.
Beberapa wartawan yang ada di sana langsung mendekati. Rahardian dan Mike juga beberapa pengawal tentu menghalangi mereka.
"Nona, apa benar Nyonya Elene akan melahirkan, padahal kandungannya baru berusia tujuh bulan?"
"Benar!" jawab Line datar.
"Apa anda akan langsung melakukan test pada bayi itu?" tanya wartawan lagi.
"Pastinya begitu, untuk mengetahui jika itu memang bukan keturunan ayahku!" jawab Line lagi-lagi datar.
"Lalu apa yang anda lakukan dengan bayi itu jika bukan keturunan dari Tuan Smith?" tanya wartawan lagi.
"Aku serahkan pada ibunya!" jawab Line lagi.
"Wah ... Dia memang berdarah dingin. Nggak kasihan!' bisik-bisik beberapa orang di sana.
"Bukan tanggung jawab saya pada bayi-bayi itu!" jawab Line lagi.
Line meminta para wartawan pergi. Para pengawal tentu mudah menggiring semua kuli tinta itu menyingkir jauh-jauh dari sana.
"Apa masih lama?" tanya Line lagi.
"Kalau begitu biar Teresia yang menunggu. Kita lanjutkan percakapan tentang pembunuhku!" ujar Line.
"Kau pergilah. Aku di sini!" suruh Mark.
Line menatap Mark. Tentu jiwa mereka yang berbeda bertolak belakang. Rahardian melihat keanehan itu.
"Aku memintamu untuk ikut Mark!' perintah Line.
"Aku bukan suruhanmu Line!" bentak Mark.
"Aku harap kau jadi seorang ibu. Maka kau akan tau bagaimana menderitanya saat melahirkan!" lanjutnya dengan mata kecewa.
Jiwa Mark yang ada di tubuh Line tentu terdiam. Respon tubuh Line langsung bergerak sesuai insting sebagai perempuan. Line memilih duduk di sisi Mark.
"Kenapa duduk?" tanya Mark tentu berbisik.
"Tubuhmu yang merespon semuanya!" jawab Line juga berbisik.
Rahardian tentu tak memiliki akses untuk mencampuri kehidupan keduanya. Pria itu berjaga-jaga di sana.
Dua jam berlalu, dua bayi kembar sepasang lahir. Tangisan kencang terdengar hingga luar ruang operasi.
Tak lama dokter keluar. Pria itu sedikit berat untuk mengatakan hal ini.
"Nona Smith, pasien ingin menemui anda," ujar pria itu.
__ADS_1
Mark berdiri begitu juga Line. Tentu saja Mark bersikeras untuk ikut.
Setelah memakai baju OK. Keduanya berada di sisi Elene yang berwajah pucat. Dokter mengatakan rahimnya sobek dan tubuh wanita itu terlalu lemah.
"Tolong, jaga anak-anakku ...," pinta wanita itu lirih.
"Katakan jika mommynya adalah wanita baik-baik," lanjutnya dengan nafas tersengal.
Line dan Mark hanya mematung. Air mata Elene jatuh tak tersadarkan. Ia pun mengakui jika itu bukan darah dari Edrick Smith.
"Tapi aku mohon, tolong katakan, kalau aku adalah wanita baik-baik," pintanya lagi sebelum nyawa wanita itu pergi.
Elene meninggal dunia setelah lima belas menit melahirkan. Dua bayi sepasang berada di ruang inkubator.
Rambut pirang dan mata biru. Keduanya mirip Elene.Test dilakukan dan benar. Dua bayi bukan darah Edrick Smith 99%.
Wartawan diberi surat hasil test DNA dan kematian Elene. Mereka pun sibuk menanyakan nasib dua bayi malang itu.
"Apa anda akan memasukkannya ke panti asuhan?" tanya salah satu wartawan.
Line tak menjawab apapun. Gadis itu memilih pergi, Mark mengikutinya. Teresia masih menatap boks dua bayi.
"Biar aku yang mengurus mereka. Nak, ibumu adalah wanita baik-baik sayang," ujarnya bergumam.
Sepasang mata menatap pengawalan ketat yang dilakukan beberapa pria. Lock mengepal tangan erat. Matanya tiba-tiba bersibobrok dengan mata Rahardian.
"Astaga!" Lock cepat mengalihkan pandanganya.
Deg! Deg! Deg!
"Kenapa justru aku yang seperti terancam?" ujarnya ketakutan.
"Ketua, kami menemukan energi yang sama ketiak komputer hang di radius lima ratu kilometer dari sini," bisik Rain Hugrid Dougher Young.
"Kunci tempat itu. Aku akan ke sana nanti sore!" perintah Rahardian.
Rain membungkuk hormat. Pria bermata gelap seperti nenek buyutnya itu sangat cekatan dan juga genius seperti kakek buyutnya.
Setelah mengantar kliennya ke mansion Ortega. Rahardian pergi ke tempat di mana situs kuno berada.
Butuh waktu dua jam perjalanan helikopter untuk sampai di situs yang telah dilindungi oleh UNESCO itu.
"Apa sudah ada ijin untuk melakukan penyelidikan di sini?" tanya Rahardian menatap batu-batuan bersusun.
"Sudah ketua!" jawab Rain.
"Kita mulai selidiki!"
Bersambung.
Wah
Next?
__ADS_1