
'Ailee,' suara itu terdengar kembali, dengan nada lebih meninggi. Ailee terdiam sampai akhirnya Peter bicara lagi, 'Kenapa kau tak membalas telepatiku? Mau ku bawakan jasad nenekmu?'
Gadis itu membeku, ia memandang cermin besar di hadapannya seolah sedang ada bayangan Peter mengancam. Itu bukan hal biasa, tampangnya mengerikan, terlebih wujud serigalanya hitam kelam seperti arang, berbeda dengan Chris yang berbulu abu-abu elegan namun tetap mematikan. Ia menggigit bibir sebelum mulai menjawab, "Aku... aku perlu waktu, hari ini mereka tak melakukan apapun, jadi—"
Peter lekas memotong ucapannya, 'Omong kosong, aku butuh rencana dan taktik yang berasal langsung dari mulut Chris sendiri. Sudah ku katakan, dekati dia, rayu sampai benar-benar jatuh dan percaya padamu. Jangan hanya melihat gerak-gerik, karena itu tak akan akurat.'
Ailee mendesah gusar tanpa sadar, "Aku tidak mungkin melakukan itu semua, kalaupun tak mati ditanganmu, Chris lah yang akan membunuhku sendiri. Aku bisa apa... kalau akhirnya tetap mati diantara para werewolf yang rupanya tukang pengancam."
Terdengar tawa remeh, 'Ailee, apa kau tahu, mengapa aku menyuruhmu mendekati Chris?' Tanya Peter, suaranya terdengar mengejek, 'Saat pertemuan antar pack waktu itu, dia kelihatan berbeda, dan lebih menggebu-gebu untuk mempertahankan wilayah red pack di dekat pemukiman manusia. Aku percaya dia ingin terus dekat denganmu, dengan tempat asalmu.'
Iya, ucapan Peter memang ada benarnya, Chris ingin terua dekat dengannya dan berusaha mempertahankan wilayah yang terletak tak jauh dari pemukiman manusia karena satu alasan logis, yaitu untuk lebih mempermudah mencari mangsa sebagai ibu asuh red pack ketika Ailee nantinya harus pergi, "Aku dibawa kemari untuk melengkapi kebutuhan anak-anak serigala itu, bukan menjadi calon istri Chris. Aku bisa mati kapan saja, setelah melakukan kesalan kecil di hadapan mereka!"
'Aku tak mau tahu, yang jelas aku tak akan membunuhmu,' ujar Peter semakin membuat Ailee cemas, 'Nyawa nenekmu jadi taruhan perjanjian kita. Jadi bukankah lebih baik kalau kau mati di tangan Chirs ketimbang melihat nenekmu meregang nyawa di tangan black pack.'
__ADS_1
...---...
Para detektif mau tak mau harus mendirikan pondok khusus mereka, karena tak mungkin pulang-pergi setiap hari dari kota ke kampung. Karena untuk sekarang bangunan tersebut masih dalam proses perancangan, detektif yang merangkap polisi hutan berjumlah sepuluh orang, sementara menempati rumah kosong keluraga Guttierez, sekaligus menjaga harta benda yang ada di dalamnya.
Maxime menaruh tas ransel miliknya di sudut ruangan, lantas beralih mengitari ruang tamu seukuran empat meter itu penuh konspirasi. Banyak potret Ailee Guttierez semenjak masih kecil hingga usianya sekarang, 18 tahun.
Menurut laporan warga dan teman sekolah, Ailee anak yang usil. Dia tidak memiliki banyak teman karena sikapnya yang dianggap mengganggu orang lain, itulah yang membuat para detektif ikut merasakan imbas kesulitan. Sebab, tak ada orang yang bisa ditanyai mengenai Ailee kecuali sang nenek, Ema. Sayang sekali wanita itu juga dalam kondisi tak baik, berujung perlu perawatan khusus di rumah sakit.
Pintu depan terbuka dengan Xavi berbicara lantang bersama Arnold, "Memang rambut serigala, dan darah itu juga miliknya. Kemungkinan ada yang melukai binatang itu, atau pertempuran antar kaumnya. Tapi kalau dilihat-lihat dari posisi darah yang tercecer, sepertinya serigala versus serigala."
"Kemungkinan besar tidak, jika saja dugaanku benar, gadis itu sudah memasuki wilayah hutan sangat jauh, kalaupun mati kita juga tak mungkin menemukannya. Kecuali kalau kalian mau masuk ke sarang serigala itu," timbrung Max seraya berjalan mendekati mereka.
"Ah, aku tak mungkin melakukannya—"
__ADS_1
"Aku akan pergi ke sana," sahut Max cepat, memotong ucapan Arnold.
Xavi menangkup pipi kawannya tak percaya, "Max! Kau tidak sedang mabuk kan?!"
"Kita tidak pernah tahu, andai saja gadis itu masih hidup dan dikerumuni sekelompok serigala liar. Lagipula, bukankah ini memang tugas kita sebagaimana polisi hutan yang membentuk tim menangangi kasus kemungkinan adanya manusia serigala?"
"Tapi, atasan juga tidak menganjurkan untuk terjun langsung ke hutan. Apalagi semakin jauh ke dalamnya, pasti kita tak bisa kembali."
"Aku bekerja di sini, apapun demi keselamatan mereka yang jadi korban harus kita beri keadilan," balasnya meyakinkan para rekan, "Firasatku mengatakan kalau Ailee masih hidup dan sedang ketakutan karena para werewolf itu ada disekelilingnya," pria itu kemudian lekas berlalu, usai obrolan mereka diganggu dering ponsel dari saku Max.
Xavi berbisik, "Maxime benar-benar nekat, dia di luar batas!"
Arnold menanggapi hal itu dengan anggukan, "Itulah yang tak ku suka darinya. Mungkin dia berjuang untuk keselamatan korban, sekaligus mencoba menantang nyawa karena tak khawatir ada yang akan bersedih atas kematiannya. Sementara kita punya keluarga, bagaimana nasib istri dan anak-anakku kalau aku pergi?"
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, Maxime menyembulkan kepala dari pintu, ia menyahut seolah mendengar bisikan keduanya, "Baiklah, kalian tak perlu ikut. Aku hanya butuh senjata, makanan, dan perlengkapan, jadi tolong siapkan."
...Wolfgang: The Alpha's Throne...