Wolfgang: The Alpha'S Throne

Wolfgang: The Alpha'S Throne
Ailee's Feeling


__ADS_3

Penjagaan di red pack terlampau ketat, mulai dari perbatasan selatan, utara, timur, barat, hingga celah-celah yang paling memungkinkan diterobos orang asing. Di satu sisi Ailee merasa tenang karena seolah dirinya juga ikut dilindungi dalam koloni ini, namun di sisi lain kegelisahan juga melanda, apa kabar dengan nenek? Bagaimana jika black pack sudah membawanya pergi karena dirinya terlalu lama mengulur waktu atau justru prediksi yang lebih menakutkan?


Gadis itu menggigit bibir cemas sembari berlari menuju gerbang depan. Warna gaunnya yang hijau neon mencolok sontak menjadikan dirinya pusat perhatian termasuk Chris yang kini berada di dalam gudang senjata pack.


Ancaman Peter tak hanya satu atau dua kali, setiap hendak melakukan segala aktivitas, Ailee selalu mendengar bisikan berupa ancaman itu. Keseriusan si alpha black pack yang tak gentar berhenti membuat Ailee hampir gila, apalagi kalau tiba-tiba Chris jug memberikan ancaman padanya karena bersikap aneh, gusar, nan cemas, tapi tak mampu mengucap apapun di depan pria itu.


Setelah lama berkutat dalam pikiran sembari berdiri di depan pagar--yang menimbulkan pertanyaan bagi oang-orang disekitar, Ailee mendadak berblik untuk pergi ke kamar. Ia sudah sah akan menjalankan perintah black pack, ketimbang melihat sang nenek tewas di tangan pack penuh aura kegelapan itu, lebih baik dirinya yang dibunuh alpha Chris. Ailee merasa sudah jadi anak perempuan yang tidak baik sekaligus durhaka selama ini, berkat pilihan yang membuat ia dan nenek harus jadi korban seolah mengatakan bahwa Ailee harus bertobat, kalau tidak sekarang maka kapan lagi?


Mungkin setelah Chris membunuhnya nanti--karena dianggap penghianat red pack, nenek akan merasa bersedih sekaligus lega. Selama ini hidup Ailee tak pernah membantu orang lain, namun hanyalah beban. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, ia tak akan mencuri uang nenek hanya untuk tampil cantik. Semua itu sia-sia karena rupanya ia akan mati, keelokan tubuh dan wajahnya tidak berguna lagi.


"Apa yang akan kau lakukan?"


Ailee berhenti melangkah karena sepasang kaki menghadangnya, sang Alpha Chris dengan mata perak yang tajam seperti biasanya.


"Aku bisa membaca melalui gerakanmu yang tergesa tadi, seolah ada yang memanggil atau menunggu di depan sana," tuding Chris pada halaman depan luar gerbang.

__ADS_1


Mengingat pesan Peter mengenai rencana paling realistik untuk membuat Chris terbuka padanya--yang kemungkinan besr bisa terlaksana, Ailee tersenyum canggung sembari menundukkan kepala. Dari dulu ia paling ahli menggoda orang lain terutama pria, melalui senyum manis, wajah berseri-seri, dan tampil anggun. Tapi apakah semua itu bisa berlaku pada Chris yang sebenarnya 'seekor werewolf', ya memang jantan.


Chris mengangkat alisnya, spontan bibir terkatup rapat karena tak mengira jika reaksi Ailee akan sebegitu berlebihan, gadis di hadapannya seperti bukan perempuan kasar berjiwa monster yang biasa ia lihat,


"Tidak ada, Chris. Aku hanya berusaha memprediksi seberapa jauh tempat ini dengan pemukiman manusia," balas Ailee tana pikir panjang, kebohongan yang tampak sangat natural.


"Kau mau kabur lagi?"


"Tidak."


Ailee menyela, "Ini tengah hari, waktunya aku istirahat dan mengisi energi lagi agar bisa merawat anak-anak dengan sangaaaaat baik."


Chris lagi-lagi mengernyit keheranan mendapati nada bicara Ailee yang terdengar kalem, anggun, dan lebih bersemangat. Gadis itu tersenyum seraya melambai kecil sebelum berlalu ke dalam gedung.


Tanpa sadar senyum Chris juga ikut mengembang, walaupun hampir tak terlihat sama sekali.

__ADS_1


...---...


Terangnya sinar mentari silih berganti dengan cahaya redup bulan, meski begitu perasaan gelisah Aille tak kunjung sirna atau paling tidak bergeser sedikit. Kebahagiaannya selama tinggal di antara para werewolf seolah sirna direnggut paksa oleh mereka, tidak ada yang Ailee suka dari tempat ini kecuali kasur yang nyaman dan hangat juga aroma lilin rosemary.


Setiap hari berlalu hanya ada rasa takut dan cemas, apalagi setelah bertemu dengan black pack, semakin menambah berat beban pikirannya.


Lama terlarut dalam lamunan, ia sapai tak sadar Chris membuka pintu kamar, lantas bersandar pada dinding sembari menatap Ailee dalam diam. Gilliran Chris yang seolah dibuat tak sadr dunia nyata, sampai akhirnya Ailee melempar bantal pada wajah lelaki itu.


Chris mendengus, "Aku bosan."


"Lalu apa yang harus ku lakukan? Menjadi badut untuk membuatmu terhibur, begitu?" Tanya Ailee sinis. Chris rasa sikapnya sudah kembali seperti semula.


"Ada air terjun tersembunyi di sekitar sini. Aku mau pergi ke sana, tapi tidak ingin sendiri."


Ailee sontak melompat dari ranjang, "Bilang saja kalau kau mau mengajakku kencan di alam terbuka," balasnya asal, "Kalau begitu tolong biarkan aku mencari gaun yang bagus, tunggu di luar sebentar ya..."

__ADS_1


...Wolfgang: The Alpha's Throne...


__ADS_2