
Hari semakin gelap, awan kelabu juga tampak menutupi sinar redup rembulan. Maxime memilih beristirahat sejenak di bawah pohon besar yang berbuah lebat, sayangnya ia tak tahu jenis apa pohon itu dan apakah buahnya dapat dikonsumsi dengan aman.
"Ah sial, aku lupa bawa senter," bibir pria itu menggerutu saat kesulitan menggeledah barang dari ransel, untunya ia tak lupa mengenai ponsel genggam yang punya fitur senter.
Satu cup kecil kopi hitam dan setengah iris roti keju sudah ia persiapkan untuk makan malam pertama di perjalanan ini, ia harus berhemat sebijak mungkin agar tasnya tidak terlalu penuh makanan. Atau bisa saja mencari apel liar yang tumbuh di hutan.
Usai makan malam sederhananya berakhir, Max segera beranjak dan melanjutkan perjalanan. Namun salah satu sudut matanya menangkap bulu serigala yang berhamburan di atas tanah, kelihatan sudah kering dan bercampur debu, ia yakin terjadu sesuatu yang berkaitan dengan serigala di sini tempo hari. Dia berjongkok untuk memeriksa lebih dekat, tak berani mengambil resiko, Max hanya mendekatkan senternya pada gumpalan rambut serupa milik serigala tersebut. Ternyata juga ada bercak darah, tidak banyak tapi mampu membuat hidung Max yang senstitif ini mengernyit aneh.
"Seperti bau darah manusia, bukan binatang," Max merengut penuh selidik, keningnya sampai membentuk beberaapa lipatan. Tak pikir panjang, rambut halus tersebut segera dikantongi dalam plastik klip kecil untuk sampel dan barang bukti suatu hari nanti kalau saja dugaannya benar.
Ini darah Ailee, dia kemungkinan hanya dilukai tidak sampai dibunuh ditempat. Kalau memang mati di sini, bangkai atau tulang seharusnya masih ada, atau jika kemungkinan buruk lainnya adalah Ailee dimangsa di tempat lain, sehingga lokasi ini hanya jadi saksi perkelahian mereka. Semangat Max seketika menggebu-gebu kembali, pikirnya mengatakan kalau gadis muda itu belum mati, ia akan memperjuangkan keselamatannya meski taruhannya nyawa. Apalagi mengingat kondisi neneknya Ailee, Ema Guttierez yang memprihatinkan karena kehilangan sang cucu.
Max kembali berjalan lurus seraya terus menandai batang pohon menggunnakan apapun yang bisa diingat untuk petunjuk arah pulang, sampai tidak sadar batas merah berupa serbuk yang ditaburkan di atas tanah ia langkahi.
Seluruh werewolf pemilik kawasan segera saja mencium aromanya.
__ADS_1
...---...
Ailee menatap takjub ruangan beratap tinggi dengan kesan elegan nan mewah di hadapannya. Tak bisa berkomentar banyak bagaimana bisa ujung lorong bawah tanah yang masih berada di bawah tanah itu dibangun sebuah ruangan serupa kastil red pack, bahkan lebih mewah sebab interior dan perabotan diisi berbagai elemen dari emas dan berlian.
di salah satu pintu bersekat kaca, terdapat satu ranjang besar seukuran milik Chris. Hannah segera merebut Lea dari gendongan Ailee lantas membawanya ke sana untuk ditidurkan.
"Tempat ini sepertinya masih sering dikunjungi, semuanya bersih dan rapi," celetuk Ailee. Hannah mengangguk sambil mengarahkannya ke ruangan lain yang lebih besar, seperti dapur tapi hanya ada makanan kering yang siap makan.
"Yah memang sering dikunjungi orang-orang tertentu hanya satu kali dala satu bulan. Mereka juga akan mengganti makanan yang sudah tidak layak, tapi tidak juga karena makanan yang dibawa kemari hanya jenis kacang-kacangan, dan makanan kering agar tidak mempercepat pembusukan," Hannah membuka stoples berisi biskuit kering dari gandum, lalu menyodorkannya.
"Kau belum makan dari tadi kan? Harus makan jangan sampai kelaparan."
"Aku boleh tanya?"
"Tentu, silahakan.., kau tipe orang yang banyak tanya, jadi aku tidak terkejut. Lebih mengagetkan kjalau kau mau tanya tapi harus izin dulu, seperti bukan Ailee yang ku tahu," balas Hannah menanggapi dengan canda, membuat Ailee tersenyum canggung tak siap mengyungkapkan rasa ingin tahunya yang terusa membludak dan tak terkontrol.
__ADS_1
Ailee mengusap dagu, "Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan?"
Kening Hannah sontak mengernyit.
"Aku sudah berkali-kali mengatakan kalau kami, maksudku aku dan kakakmu tak punya hubungan apapun, barangkali Chris juga mengatakan hal yang sama, jadi kami tidak akan pernah bersatu. Karena itu aku juga belum yakin tujuan kalian melindungiku dengan cara seketat ini, karena faktor 'calon' istri alpha-mu. Ini tidak benar, seharusnya tidak boleh kan?" Jelas Ailee seraya menerka-nerka.
Hannah tampak mendengus, "Memang begitu tujuannya. Kami bisa menjadikanmu werewolf kalau memang kau akan jadi luna red pack."
Kedua bole mata Ailee sontak melebar penuh, tempk hari ia sudah membantah ide gila itu. Apa maksdunya menjadikan dirinya salah satu spesies dari mereka, ini serupa eksperimen gila yang dilakukan banyak ilmuwan berotak tajam penuh keingintahuan. Jika sekalipun Ailee mencintai Chris setengah mati, ia juga tidak akan rela berubah menjadi makhluk setengah binatang buas, dan realitanya, ia memang tidak memiliki perasaan apapun pada lelaki itu. Ailee bisa gila kalau red pack benar-benar membuatnya harus merubah identitas dari manusia biasa jadi manusia setengah serigala alias werewolf.
Hannah ikut terkejut, ia tidak menyangka reaksi Ailee akan separah ini. Matanya membulat sempurnya tapi tatapannya tajam dan penuh intimidasi, dia seolah menunjukkan amarah yang sudah benar-benar berada di puncak.
Padahal jika dia bisa menjadi anggota resmi red pack sebagai luna yang selanjutnya, tidak ada lagi ancaman dari black pack, kalau pun masih ada Ailee sebagai werewolf pasti bisa mengatasinya sendiri tidak perlu bersembunyi.
...Wolfgang: The Alpha's Throne...
__ADS_1