
Satu hari sebelum penyerangan kastil utama, tiga pria itu merampas seluruh senjata yang Maxime bawa, tanpa ragu meraba badan si detektif muda demi mengamankan sesuatu yang bisa saja mencelakai mereka. Max bahkan berpikir mereka cukup keterlaluan, ini bisa saja disebut pelecehan seksual.
Pistol sekaligus peluru cadangan, pisau lipat, cutter, gunting, dan korek api yang tersimpan di sakunya sudah dirampas habis. Mereka menyembunyikan itu semua sambil mengancam Max, tapi anehnya sekarang dirinya justru dijamu dengan daging babi panggang beserta hidangan buruan lainnya.
"Detektif, jelaskan pada kami apa tujuan kedatanganmu kemari? Ini bukan masalah sepele, seorang warga sipil mendatangi hutan rawan binatang buas, bukannya sudah ada larangan untuk memasuki wilayah ini? Atau larangannya dicabut?" Tanya Vetori, dia memotongkan seiris bagian paha, lantas menaruhnya di piring Max.
Dari perilaku dan cara makan, mereka masih tampak seperti manusia normal, bahkan ada piring, sendok, dan gelas buatan sendiri dari batang pohon. Max mengira sebelumnya, mereka akan mengkonsumsi daging-dagingan mentah hasil buruan tanpa melalui proses memasak. Meski begitu, daging yang disediakan untuknya belum tersentuh sama sekali, Max masih takut jika barangkali ada racun yang ditaruh di dalam sana.
Caseo berdecak saat memahami kekhawatiran detektif muda itu, ia menyenggol rekannya karena malas bicara.
Vetori pun melirik, "Kami tidak menaruh apapun di daging panggang ini, kau bisa lihat sendiri aku sedang memakannya," ia mending piring, daging miliknya tinggal separuh, "Tidak ada racun, aku masih hidup kan?"
"Sudahlah, makan saja atau aku akan membiarkanmu mati kelaparan?" Sela Alberto kesal.
Max menghela napas, "Kalian membenciku dan berniat membunuhku sebelumnya, kenapa tiba-tiba dijamu dengan hidangan mewah seperti ini. Apa aku dilarang curiga? Apalagi kalian jelas-jelas bukan orang baik."
"Katakan dulu tujuanmu datang kemari, apa yang kau cari atau apa yang ingin kau dapatkan?" Vetori balik bertanya.
Sementara Alberto justru menodongkan pistol bekas pemotong daging miliknya, "Jawab saja, detektif muda. Jangan membuat kami emosi dan langsung ingin mengantarkanmu pada jembatan neraka."
Max meraih pergelangan Alberto, lantas menurunkannya perlahan sambil mengangkat tangan, "Kita buat perjanjian dulu, aku akan mengatakan maksud kedatanganku kemari tapi dilarang ada kekerasan dan senjata, kita bicara baik-baik seperti obrolan biasa."
__ADS_1
"Kau ternyata juga penakut, detektif muda," Caseo sontak tertawa.
"Aku tidak takut, hanya waspada," balas Max tak mau direndahkan. Derajatnya sebagai Detektif berpangkat tinggi bisa cela kalau ia panik ketika tiga orang pemberontak menyerangnya.
Alberto segera mengembalikan pisaunya ke piring, "Baiklah... baiklah, sekarang katakan tujuanmu dan kami tidak akan menggunakan senjata."
"Aku datang kemari untuk—"
Vetori menyela, "Harus jujur."
Max mendesah kesal, "Seorang gadis di pemukiman dekat hutan ini hilang saat tidak sengaja berlari lebih jauh ke hutan, kami mengira dia tersesat dan tidak bisa kembali. Karena itulah aku datang, untuk membawanya kembali pulang."
"Dia pasti sudah jadi hidangan utama para werewolf," celetuk Caseo, membuat kedua alis Max seketika menggembung, "Di tempat ini kau akan menemui sesuatu yang asing tapi luar biasa, mereka werewolf atau manusia serigala. Seperti dalam buku cerita anak-anak, mereka sesuai dengan deskripsi itu."
"Kami sudah lima bulan menempati hutan ini, aku mengatahui setiap sudut hutan dan apa saja isinya. Para werewolf itu seperti manusia, ada yang hidup berkoloni dan membangun kelompok dengan satu pemimpin, ada juga yang tidak berkelompok, mereka biasanya sangat liar dan jarang berubah wujud menjadi manusia, tapi bodoh jadi mudah dikelabui."
Caseo menggigit potongan terakhir makanannya, "Gadis yang kau cari itu... apa sudah menemukan bangkainya, atau sekedar pakaiannya?"
"Aku menemukan sobekan bajunya."
"Kalau begitu ada dua opsi, dia masih hidup dan berada di antara koloni para werewolf, atau mati di tangan werewolf liar."
__ADS_1
Vetori tersenyum aneh, "Detektif muda, mau kami bantu mencarinya? Kau akan jadi pemimpin kali ini. Tapi kita tetap memandumu karena pengetahuanmu mengenai tempat ini masih sangat kurang."
"Apa maksud kalian?"
"Keberadaan kami sudah diketahui salah satu koloni serigala, mereka punya pemukiman tak jauh dari sini, sekitar dua kilo meter. Aku berniat membunuh pemimpinnya, agar koloni mereka rusak. Apa kau mau membantu? Barangkali orang yang kau cari berada di sana."
Max mengernyit, "Kalian mengajakku bersekongkol untuk membunuh manusia serigala? Tidak masuk akal."
"Kau terus bicara begitu, besok pagi akan ku tunjukkan kalau mereka memang ada," kata Caseo.
"Bukan begitu, kita manusia... apakah mungkin berhasil melawan sekelompok besar serigala?" Max memastikannya ragu.
Alberto menyela segera, "Kau pikir bagaimana kami hidup selama ini jika tidak menghabisi para serigala itu?"
"Karena kau seorang detektif, maka ilmu bela diri, menembak, berkelahi, dan juga adu fisik lainnya pasti juga di atas rata-rata. Untuk membunuh werewolf, kita perlu mengambil jantung mereka dan membakarnya—itu berlaku untuk alpha atau pemimpin, werewolf biasa hanya butuh ambil jantungnya saja. Jadi bagaimana? Gadis yang kau cari mungkin saja berada di kamar mereka," Vetori menaik turunkan alis.
Caseo berujar, "Bagaimana? Jadi apa kau mau membantu kami membunuh werewolf itu? Asal kau tahu, mencari buruan sambil beradu fisik dengan manusia serigala sangat melelahkan."
"Kalau kau terima tawarannya, maka selamat bergabung. Tapi jika kau menolaknya, maka sampai jumpa," Alberto menggosokkan ujung pisau di meja hingga menimbulkan bunyi memekak.
Max mendesis, "Baiklah ku terima tawaran ini."
__ADS_1
...Wolfgang: The Alpha's Throne...