Wolfgang: The Alpha'S Throne

Wolfgang: The Alpha'S Throne
Romantically


__ADS_3

Max bersusah payah melepaskan ikatan yang melilit kaki, tangan, mulut, dan juga matanya. Kain terakhir yang menutupi mata akhirnya pun terlepas, menampakkan siluet tiga pria bertubuh besar saling menertawakannya dalam ruangan remang.


Salah satu pria mendekatkan putung rokok yang menyala pada bibirnya, membuat postur wajahnya terlihat.


"Bagaimana detektif, kalau kau menangani kasus di sekitar sini beberapa tahun lalu, pasti tidak asing dengan kami."


Sejujurnya dari awal, ketika mendengar suara salah satu dari mereka, Max merasa tidak asing. Suara yang khas dan sering ia dengar, namun dirinya sendiri dibuat bingung karena lupa. Max hendak berdiri menghampiri mereka, namun langkahnya terhenti merasakan pergelangan kaki yang rupanya sudah memar dan membengkak, entah apa yang terjadi.


"Aku ingat jelas wajahmu waktu itu Detektif Max, kau masih sangat muda dan terlalu patuh aturan."


Max sontak terdiam, mereka mendekat lantas mencengkeram lehernya hingga memerah dan muncul urat keunguan disekitarnya.


Semuanya memakai pakaian tebal yang kelihatannya terbuat dari bulu hewan, kaus dan celananya lusuh, sepatu kotor penuh lumpur yang telah mengering, dan bau amis dari mereka semua menguar memenuhi ruangan. Max mulai dapat melihat jelas wajah-wajah itu. Vetori, Caseo, dan Alberto, tiga biang perampok dari perbatasan desa-kota.


Mereka sudah lama dikabarkan mati karena pergi ke hutan saat polisi melakukan penangkapan atas kasus kematian pemilik toko kelontong akibat serbuan perampok yang tak lain adalah mereka.


Max masih mematung, tak percaya jika pria-pria hampir setengah abad seperti mereka bisa lolos dari kejaran polisi dan hidup di hutan belantara, tempat berkumpulnya ribuan binatang buas yang siap mengoyak tubuh manusia kapanpun.


Dari penampilannya yang kekar dan kuat, tak peduli seberapa kotor mereka, hidup ketiga pria itu pasti sangat keras. Mereka pasti sudah mengalahkan puluhan binatang buas sehingga mulai terbiasa sekaligus terlatih.


"Bagaimana kalian bisa hidup di tempat seperti ini?" Max mulau membuka bibirnya, mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


Salah satu pria yang ia ketahui bernama Vetori menaruh telapak di dekat daun telinga, tawanya kemudian meledak, "Huh? Tidak salah kalau kau yang bertanya pada kami, detektif muda?"


"Harusnya kami yang pertama memberi pertanyaan padamu," timpal Alberto, "Ada urusan apa seorang detektif terjun langsung ke tempat mengerikan ini? Apa yang sedang kalian cari?"


"Yang jelas aku sedang menjalankan pekerjaan. Aku tak akan mengurusi masalah kalian lagi, jadi sebaiknya kita anggap saja pertemuan ini tidak pernah terjadi," Max menjauh, ia meraba sekitar untuk mencari ransel dan barang-barang miliknya yang lain. Namun Alberto segera menodongkan pisau kecil di depan wajahnya.


Caseo menendang betis Max cukup keras, "Enak sekali kau mau mengabaikan kami dan pergi begitu saja seolah tidak pernah bertemu? Bagaimana dengan kehidupan kami selama setahun penuh dikejar-kejar polisi, kami merasa dipermainkan seperti tikus got."


Max tak mau diam saja, tungkainya terangkat spontan mengenai perut Caseo sampai pria itu terguling menubruk tumpukan kardus, "Itu salah kalian sendiri tidak menjalani hidup dengan baik. Andai kalian bekerja selayaknya, tidak merugikan orang lain, pasti tidak akan seperti ini keadaanya sekarang."


"Dasar bocah! Tahu apa kau?! Jangan seenaknya menggurui orang yang lebih tua," sahut Vetori hendak membalaskan pukulan tadi. Beruntung Max sigap menhindar sehingga kepalan tangan itu meleset dan beralih mengenai dinding.


Berbeda dengan kedua temannya, Albert dibuat terkagum atas pertunjukan sederhana yang Max buat. Cara berkelahi detektif itu mampu memikat Alberto dalam sekejap, "Detektif, kau kemari untuk mencari sesuatu kan? Mau kami bantu?"


"Jangan tergesa-gesa teman-teman, kita kedatangan tamu. Bagaimana kalau bicarakan semuanya secada baik-baik tanpa kekerasan sama sekali, aku akan membuatkan minuman jahe hangat."


...---...


Ailee bersama Ratu Claire duduk bersebelahan di kursi kayu dekat kebun bunga matahari yang dialiri sungai kecil.


Yang lebih tua pun membuka pembicaraan, "Jadi kapan kalian berencana meresmikan pernikahan?"

__ADS_1


Ailee menghendilkan bahunya, "Entahlah, kami belum membicarakan masalah itu."


"Aku tahu, Chris pasti mencoba memberimu waktu sebelum kehidupanmu berubah tiga ratus enam puluh derajat. Melepaskan gelar sebagai manusia pasti sulit bagimu, aku mengerti meski tidak permah merasakannya."


Ailee hanya bisa mengangguk. Sandiwara yang dilakukan dari pagi kini belum berakhir juga, ia mulai jengah dan lelah, ingin sekali berteriak dan menhatakan kalau ia hanya menipu mereka semua, jadi tidak akan ada lagi yang memberinya ucapan semangat atau semoga bahagia atas pernikahannnya.


Apa mereka tidak sadar kalau usia Ailee bahkan belum menginjak dua puluh tahun. Usia yang belum layak untuk menyandang gelar seorang istri.


"Oh iya, apa kau sudah menyiapkan kado untuk Chris nanti di hari penyerahan?"


Alisnya mengerut, "Hari penyerahan?"


"Hari di mana jiwamu ditukar dengan wujud werewolf. Chris yang akan melakukannya langsung padamu, dan kau perlu memberinya hadiah."


"Ah, tidak perlu diberi hadiah. Aku sudah terlalu sering memberikannya sesuatu."


"Oh, apa itu?"


'Pukulan dan tendangan!' Ailee tersenyum tipis mengingatnya, "Perasaan yang tulus," entah dari mama dirinya mendapatkan kalimat nyentrik seperti itu, hanya saja tiba-tiba terlintas di kepala dan bibir spontan berceletuk mengucapkannya.


"Kau sangat romantis," puji Ratu Claire.

__ADS_1


...Wolfgang: The Alpha's Throne...


__ADS_2