
Pagi hari, pukul enam pagi saat natahari baru saja menunjukkan diri setengah lingkaran, jajaran polisi telah bersiap di tepi hutan, mengantarkan salah satu anggota mereka yang nekat pergi mencari salah satu korban yang dianggapnya janggal.
Saat sedang bersiap, Xavi mendekati Maxime seraya berceletuk, "Hati-hati di jalan Max, kami akan terus menerbangkan drone demi keamananmu."
"Jangan terlalu dipaksakan, anggaran kita kan sudah menipis," balasnya, seolah tak peduli dengan keselamatan diri sendiri.
"Tapi ini juga bersangkutan dengan nyawamu, aku tak mau kau mati konyol di sana dan jadi arwah gentayangan," canda Xavi.
"Itu tidak akan terjadi, sebagai polisi hutan yang memiliki seribu gelar aku pasti mampu melindungi diri dari berbagai serangan."
Xavi mendengus, "Terserah kau saja, yang jelas kalau makanan di tas ini sudah habis kau harus kembali secepatnya. Kami tidak akan menghina walau kau tak mendapat apa-apa nantinya."
"Hey, bicaramu seperti sedang mendoakan keburukan untukku," jawab Max segera memprotes.
Dengusan kembali keluar dari bibir Xavi, alisnya mengkerut tak bersahabat, "Aku khawatir!"
Maxime sontak tertawa, "Baiklah, aku akan kembali dengan selamat. Sampai jumpa lagi," ia melambaikan tangan seraya berlalu mendekati perbatasan. Orang-orang mulai menyampaikan kalimat keselamatan pada Maxime yang sudah berjalan di area hutan.
Arnold menepuk bahu Xavi, "Dia keras kepala, aku tak bisa menahan untuk tidak pergi. Kalau sampai atasan tahu Max mati karena nekat menelusuri hutan sendiri, kita juga dapat imbasnya."
"Tapi dia melakukan ini untuk menyelamatkan seseorang."
__ADS_1
"Seseorang siapa?! Cucu Nyonya Ema Guttierez pasti sudah mati dan hanya tersisa tulang. Dia terjebak sangat lama di hutan."
Jujur saja, Xavi setuju dengan pendapat Arnold tapi ia sudah lama berkawan baik dengan Maxime. Setiap tuduhan buruk atau olokan yang dilontarkan pada Max ikut membuatnya sakit hati. Xavi memilih segera pergi ketimbang harus mendengar ocehan yang tak berguna.
Ia tak menyangka langkahnya membawa ke halaman belakang rumah Ema Guttierez, di mana kilatan cahaya dari pintu kecil bawah tanah berasal cukup menarik perhatiannya untuk mendekat, "Ah, astaga!" Xavi menjerit kaget melihat tumpukan emas murni di dalam karung, "Ini benar-benar emas! Mereka bilang keluarga Guttierez sangat miskin, tapi... apa mereka memang berniat menumpuk harta?"
...---...
Ailee mengetuk ragu pintu kamar Hannah, lantas segera masuk saat si pemilik ruangan mempersilahkannya seraya membenarkan posisi Lea dalam gendongannya. Hannah yang tengah duduk santai sambil membaca buku mengernyitkan dahi kala tahu siapa yang datang.
Tak mau banyak basa-basi, Ailee segera memperjelas keinginannya, "Ini sudah akhir bulan. Apa kalian tidak mengantarku pulang?"
Raut wajah Ailee sontak berubah lesu, "Memangnya kapan dia akan kembali?"
"Belum tahu, masalahnya semakin rumit di kastil pusat, karena alpha black pack juga sedang memprotes seuatu pada Chris," Hannah menutup buku seraya mendekati Lea, lantas mencubit ringan pipi gembilnya, "Ngomong-ngomong kau dan Lea makin dekat. Dia seperti anakmu sendiri."
"Ibunya terlalu sibuk berlatih, aku jadi harus terus menjaganya."
"Ibunya Lea memang omega petarung dari keluarga Horles, dia harus menerima banyak jabatan termasuk ketua para omega. Wajar kalau sibuk, jadi ku harap kau menjaga putrinya dengan baik."
Ailee mengangguk, mengingat betapa perhatiannya ibu kandung Lea sampai-sampai setiap hari membawakan kado untuknya hingga kamar jadi penuh, "Yah memang, dia memberiku banyak imbalan karena merasa tak enak hati."
__ADS_1
"Wah, apa saja itu?" Tanya Hannah tampak tertarik
"Makanan, gaun, perhiasan, souvenir, bahkan buku."
Yang lebih muda bertepuk tangan kecil sembari mengelus pundak Ailee singkat, "Perlahan kau jadi akrab dengan orang-orang di sini, sudah ku bilang kami semua memang akan menjagamu jadi jangan takut."
"Aku tidak takut, hanya khawatir memikirkan nasibku sendiri."
Hannah beranjak mempersilahkan Ailee duduk di sofa, ia berniat membuatkan minuman untuk mereka, namun suara berat familiar tiba-tiba menyapa gendang telinga. Nadanya tampak berat dan penuh kecemasan, 'Hannah, di mana Ailee?'
"Dia sedang bersamaku," balasnya, Ailee menengok seraya mengerutkan kening, "Huft, kalian saling mencari dan aku harus jadi perantaranya."
'Dia membuat perjanjian kematian dengan black pack, lindungi dia terus, ah-sebaiknya sembunyikan dia sekarang. Mereka bisa kapan saja datang menculiknya.'
"Kenap—"
Ucapan Hannah terpotong, Chris menyela segera, 'Jangan banyak tanya, lakukan saja, aku juga sudah mengarahkan pasukan untuk berjaga.'
"Ailee, kita harus segera pergi."
...Wolfgang: The Alphacs Throne...
__ADS_1