Wolfgang: The Alpha'S Throne

Wolfgang: The Alpha'S Throne
Scars


__ADS_3

Ailee terburu melangkahi tangga dan berlari menuju ruangannya setelah diberitahu keadaan sudah lebih aman, paviliun yang terbakar juga sudah padam—menyisakan puing-puing hangus dan asap kabut. Beruntung yang terbakar hanya satu bangunan, dari sekian banyak tempat pun kenapa harus inapan khusus anggota red pack, yang kemudian mengakibatkan lima orang terluka.


Pintu ruangan terbuka lebar, darah masih berceceran di lantai namun si alpha yang tadi terluka tidak sadarkan diri kini sudah tiada di tempat. Ketika bola mata Ailee tanpa sengaja bergulir ke jendela yang menampakkan pemandangan bekas kebakaran itu, ia mendapati Chris tengah menaiki atap sambil membantu mengangkuti barang-barang yang kebetulan tidak hangus. Padahal pakaiannya lusuh dan kotor masih penuh darah di bagian punggung.


"Kenapa kau panik sekali, dia sudah terbiasa mendapat luka seperti itu, pasti akan sembuh," Celetuk Ratu Claire, saat mendapati Ailee berlarian di lorong menuju halaman depan.


Ailee membalas terbata, "Aku, ah... tapi tadi dia tidak bangun-bangun."


"Ya sudah, ajak dia turun, obati lukanya."


...---...


Pria itu bersandar pada kepala ranjang, kemudian sedikit menunduk untuk merogoh peluru yang menelusup di bagian punggung. Ailee sontak menutup mata tak kuasa melihat siluet darah yang keluar seperti air keran.


"Aku tidak sadar kalau ternyata ada dua peluru, pantas saja masih mengganjal dan tidak cepat sembuh seperti biasanya," Chris bergumam santai, peluru kecil seukuran ibu jari tersebut ia pandangi lama, sampai akhirnya satu jawaban terselip di dalam benak.

__ADS_1


Ailee mengernyitkan kening di sudut kasur, dengan tangan menggenggam erat kotak obat dan sebelahnya lagi menutup rapat mulutnya. Chris tidak pernah melihat reaksi seperti itu sebelumnya, membuat bibirnya mendadak menyunggingkan senyum.


Pria itu mendesis, "Uhum, khawatir sekali kelihatannya..."


"Begini ya, aku hanya memikirkan realistisnya saja. Bayangkan kalau kau mati, siapa yang jadi orang kepercayaanku di sini? Lalu, siapa yang akan menepati janji untuk mengantarku pulang?" Ailee menampatkan diri lebih dekat, ia kemudian menyuruh Chris membersihkan sendiri lukanya menggunakan alkohol, setelahnya dibaluri obat herbal buatan para werewolf. Lantas ia beru berani membantu saat pria itu kesulitan melilitkan kapas dan kasa.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama, lukanya juga lumayan besar, sehingga badian atas badan Chris berbalut seperti mumi.


Ailee mengemasi barang-barangnya, dia sengaja bicara karena lama saling terdiam, suasana serius membuat keduanya jadi canggung tak seperti biasanya. Namun sialnya siku gadis itu justru mengenai luka yang baru saja terbalit sempurna, "Setelah ini kau harus sembuh! Dan antar aku ke kota!"


Chris seketika ambruk telentang, telapaknya memegang luka itu erat-erat sambil mengerang kesakitan.


"Sepertinya berlubang lagi, kau pukul tepat di tengah-tengah, kasa-nya sampai masuk ke dalam—aduh ya ampun sakitnya sampai mengenai tulang rusukku," ujar pria itu dramatis, Ailee baru sadar dengan sikap aneh tersebut, pada akhirnya tawa kelicikan pun keluar dari bibirnya. Tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Yang benar saja! Bagaimana kalau lukamu itu benar-benar ku lebarkan sampai bisa melihat jantungmu, huh?!" Ancamnya, Ailee bahkan sudah mengacungkan potongan besi ranjang yang terleoas di bawahnya, "Pembohong! Kemarilah, ku pukul lagi sampai berlubang semuanya! Kemari, cepat kemari!" Chris berlari mengelilingi ruangan, meski ia rasa lukanya semakin sakit jika terlalu banyak bergerak, entah kenapa kegiatan sepele ini mengasyikan.

__ADS_1


Chris berhenti di dekat perapian, "Kau psikopat, Ailee."


"Katanya Alpha Chris tidak bisa mati kan? Sini biar ku buktikan, bagaimana kalau lehermu dipenggal," Tantang gadis itu sambil mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang menggenggam erat potongan besi dengan ujung runcing.


"Sudah... sudah... cukup. Jangan jahat untuk hari ini saja, aku sedang benar-benar sakit," Chris tertawa, taoi dia benar-benar menunjukkan raut kesakitan, wajahnya juga sudah pucat dengan bibir membiru.


Ailee pun segera berhenti, dan duduk di sofa dekat perapian. Melihat kondisi Chris, ia sobtak menunduk mengatakan kegelisahannya, "Aku lelah, mau pulang."


Chris beralih duduk di sampingnya, "Iya, aku benar-benar berjanji setelah masalah di sini selesai, ok? Tapi sayangnya masalah kita sepertinya bertambah lagi. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka saat ada penyerangan tak terduga seperti semalam."


"Jadi di undur lagi?" Beo Ailee lirih, membuat Chris seketika merasa bersalah.


"Bukan di undur, tapi menunggu waktu yang tepat. Aku juga harus mempersiapkan diri untuk melamar gadis cantik di depan neneknya," Goda pria itu berusaha mencairkan suasana yang mendadak penuh awan hitam seperti segera turun hujan.


Tak diduga, jawaban aneh Ailee membuat Chris kembali tersenyum, "Aku memang cantik."

__ADS_1


"Aku menyesal sudah mengatakannya."


...Wolfgang: The Alpha's Throne...


__ADS_2