Wolfgang: The Alpha'S Throne

Wolfgang: The Alpha'S Throne
Hometown


__ADS_3

Maxime menurunkan ransel yang senantiasa melekat pada punggung, merogoh sesuatu di dalamnya agak terburu.


Pria itu rupanya menunjukkan sebuah bukti berbetuk potret dan kartu pengenal sebagai seorang anggota kepolisian yang bertugas di bidang khusus. Ailee mengambil salah potret yang Max pegang, foto ketika usianya baru 15 tahun, "Ini fotoku."


"Aku tahu kau masih hidup, dan tujuanku kemari memang untuk membawamu pulang dan syukurlah kau baik-baik saja," mata pria itu tampak menelisik tubuh Ailee, ia heran mendapati kondisi badannya yang bersih sempiran tanpa satu pun bekas luka. Sementara tiga perampok itu bilang werewolf termasuk pemangsa manusia, mana munglin mereka melewatkan Ailee sebagai santapan, "Apa para serigala itu tidak melukaimu?"


Ailee tak menjawab, ia justru beralih menanyakan hal lain, "Bagaimana dengan nenekku?"


"Dia di pusat rehabilitasi. Kita akan segera kembali ke pemukiman dan menemuinya secepat mungkin."


Gadis itu terbelalak, ini kabar kebetulan terbaik selama ia berada di dunia para werewolf. Sesuatu yang dinanti dan diharapkan selama berbulan-bulan, ada kalanya seseorang tiba-tiba datang sebagai peri penolong untuk segera membawanya pergi, keluar dari hutan lebat yang mengerikan ini.


Melupakan bagaimana mengenai jati dirinya yang sekarang, Ailee pun masih tidak menginginkan jiwa werewolf itu menempati tubuhnya, ia akan berusaha menahan sampai kapanpun, seandanya jiwa serigala itu meronta.

__ADS_1


Ailee bersemangat, menatap si detektif dengan penuh harap sekaligus kebahagiaan tak terkira, "Sekarang saja, ayo bawa aku pulang."


"Tidak bisa." Maxime mendengus, mengingat perjanjian yang ia buat bersama para perampok itu membuatnya kesal, jika tahu pada akhirnya ia akan langsung bertemu Ailee begini, tidak perlu meminta bantuan mereka. Dan lagi, tugasnya di tempat ini bwrtambah banyak—yaitu mengawasi para werewolf dari ras paling kuat hingga rendahan, dan ras terbawah akan dihanguskan lebih dulu, "Selama kau di sini bukankah para werewolf yang menyanderamu?"


Ailee mengernyitkan alis ketika pria itu menata barang bawannya, ada banyak barang peledak dan senjata, termasuk pistol, senapan panjang, dan pisau lipat.


"Mereka meresahkan, aku dan beberapa orang di sini berniat menghanguskan kelompoknya secara bersamaan menggunakan bahan peledak," ungkap Max tanpa ragu. Ia pikir Ailee sedang disandera untuk dijadikan persediaan bahan pangan mereka, dan kebetulan gadis itu bisa lepas dari tempat penjaranya. Max hanya berpikir untuk segera membawa Ailee bersembunyi agar aromanya tidak terendus para werewolf.


Max segera menarik pergelangan gadis itu, namun pemiliknya mengerang sambil menepis, tatapannya juga menunjukkan kekecewaan, "Kau mau membunuh mereka semua?"


"Bukan, tapi lihatlah aku... selama ini mereka tidak mengganggu justru menolongku, tanpa para serigala itu mungkin aku sudah mati dimangsa hewan buas lain. Dan asal kau tahu, koloni serigala itu tidak sedikit, berusaha memusnahkan mereka sama saja dengan menaruh diri sendiri di tepi jurang."


Max tersenyum singkat, "Kalau begitu bagus, kau bisa jadi pemanduku untuk membinasakan mereka."

__ADS_1


Membinasakan werewolf? Menghancurkan koloni mereka tanpa alasan yang jelas?


Ailee tidak mungkin membiarkan itu terjadi terutama terhadap red pack. Chris mungkin membawanya secara paksa dan membuat kontrak sepihak, namun ia sudah diperlakukan baik—tidak ada seorang pun yang menyakiti, apalagi dirinya dilindungi langsung oleh alpha mereka, dan yang terpenting meski Ailee kecewa dengan keadaannya sekarang mengenai perubahan jiwa dengan seekor serigala betina, ia tetap mencintai Chris sampai kapanpun.


Sudah terlalu lama bersama, menghabiskan waktu berdua meski hanya untuk hal-hal sepele, Ailee tanpa sadar telah menaruh banyak perasaan pada Chris. Ia kecewa tapi tak mampu benci, bahkan di saat sekarang, ada harapan kecil tentang semoga Chris datang, mengejar, dan menyuruhnya kembali ke red pack.


"Maaf Detektif Max, para werewolf itu bukan pihak jahat. Beberapa mungkin pernah menghancurkan pemukiman manusia, tapi itu tidak disengaja dan dilaur kendali tubuh sendiri. Jika manusia bisa lebih menjaga pertahanan di perbatasan, dua kaum akan hidup nyaman lebih baik, tidak untuk saling melukai lagi."


Max mengerutkan kening, entah apa yang telah dilakukan para werewolf sehingga otak gadis muda seperti Ailee seolah telah dicuci dan diracuni. Namun tatapannya tampak tulus, meyakinkan si pendengar agar menuruti kehendaknya.


Namun Max tidak mau terperdaya, bisa saja serigala itu telah mengancam Ailee sampai tidak bisa mengatakan kejujuran jika dia ingin lepas dari tempat ini. Ia menarik lengan gadis itu lalu mengelus punggung tangannya lembut, "Tidak apa-apa, Ailee. Semua akan baik-baik saja, dan kau segera pulang bertemu nenekmu. Satu-satunya cara terbaik memanglah dengan memusnahkan mereka.


Ailee mengeram, urat-urat ungu di pelipisnya bermunculan disertai taring memanjang muncul di sela bibir. Ia meloncat ke arah Max, membuat pria itu sontak terlonjak ke belakang.

__ADS_1


"Ailee, kau bukan Ailee?"


...Wolfgang: The Alpha's Throne...


__ADS_2