
Antonio menatap malang dua anggotanya yang terbujur kaku dalam wujud serigala bersimbah darah. Sementara Peter mengamuk tak terima, bukan karena alasan kekeluargaan namun penyebabnya tak jauh dari rasa benci terhadap red pack, "Sialan, benar kan dugaanku? Blue pack sudah membuat dua anggota kita tewas! Tidak bisa dibiarkan!" Pria itu segera berlalu.
"Kau mau kemana?!"
"Chris harus bertanggung jawab karena hal ini bersangkutan dengan pack-nya!"
Antonio mendekat seraya menepuk bahunya, "Sudahlah, jangan membuat masalah dengan dia. Lagi pula pertarungan mereka telah selesai dan blue pack mengaku kalah, aku dapat panggilan kalau penetuan wilayah baru yang dipimpin Alpha Samuel diberikan oleh white pack, Chris pasti sudah menghabisi semua anggota blue pack."
"Aku tak peduli dengan itu," balas sang alpha ketus.
Antonio mendengus, cengkeraman tangannya para bahu Peter semakin menguat, "Kau mau black pack hancur?"
Peter menepis tangan itu secara kasar, "Aku hanya akan bicara, tidak melakukan serangan!"
...---...
Di sisi lain, gua bawah tanah yang merupakan tempat persembunyian para wanita, anak-anak, dan orang tua di red pack mulai dibuka pintu masuknya oleh pria jangkung berkulit sawo matang cerah. Kedatangannya sontak disambut antusias, apalagi karena Jack menunjukkan senyum senang yang mengartikan kemenangan—meski tetap ada nyawa yang terkorbankan.
Hannah berlari kecil mendekatinya, "Jack! Semua baik-baik saja kan? Apa perang sudah berakhir?"
Pria itu mengangguk disertai senyumnya yang ramah dan menebar aura kehangatan, "Keadaan telah membaik, kalian semua bisa keluar dan kembali ke kastil sekarang. Maaf sudah membuat semuanya terkurung di tempat pengap dan panas seperti ini, aku akan segera mengatakan pada alpha untuk mengadakan perbaikan agar bisa mempernyaman lokasi persembunyian kita jika suatu hari ada bahaya lagi."
"Baguslah, ayo keluar Ailee," Hannah hendak menyeret gadis yang lebih tua darinya satu tahun itu, namun segera dihindari.
__ADS_1
Ailee menatap Jack penuh harap, "Di mana Chris?"
"Ah, astaga baru begitu saja kau sudah rindu. Jangan khawatir, dia adalah monster yang sesungguhnya jadi tidak akan mati," sela Hannah. Alisnya naik turun sembari menggoda dengan bisikan, padahal Ailee sama sekali tidak mempedulikan keberadaannya.
"Aku hanya mencarinya untuk mengatakan sesuatu!"
Jack tertawa, "Alpha sedang bersiap pergi ke kastil pusat. Supaya blue pack tidak mengganggu kita lagi, mereka akan dipindah ke wilayah white pack."
Tanpa banyak bicara lagi, Ailee menerobos antrean untuk keluar dari persembunyian berupa bunker tersebut. Ia berlari ke kastil red pack yang rupanya tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Setiap lorong dan tangga ia telusuri sampai akhirnya berhenti pada pintu tua berukir kepala serigala bermahkota. Ailee tergesa membukanya—mendapati Chris dengan balutan jubah bulu serigala yang dipenuhi bercak darah, tak hanya itu, sebagian wajahnya juga terluka, "Chris!--Ah! Ya ampun, Hannah bilang kau monsternya tapi kenapa bisa luka sebanyak ini?"
"Aku tetap bisa terluka, aku serigala bukan monster baja," pria itu tanpa sadar tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah berperang ia didatangi seseorang yang bersikap menunjukkan kekhawatiran, bahkan Hannah pun tak melakukan hal serupa karena pikirnya sang kakak adalah yang terhebat. Ailee mendekat sembari memeriksa luka yang ada di setiap sisi, Chris tertawa sambil mengalihkan topik, "Apa kau menikmati ubi dan kentang rebus di gua? Sudah puluhan tahun kami menyimpan di sana, pasti rasanya makin enak karena berbaur dengan alam. Masih sisa atau tidak ya, aku mau sedikit."
"Bisa-bisanya kau membicarakan makanan," balas Ailee sinis.
"Darah di mana-mana, aku mual melihatnya!" Gadis itu menuding jubahnya, lalu mendekat dan melepas paksa dari tubuh si pemilik, memperlihatkan otot perut dan punggung di tubuh atasnya yang kekar, "Apa tak ada obat di sini? Apa yang biasa kau gunakan untuk menyembuhkan lukanya?"
"Ada obat herbal di laci."
Ailee menuju ke susut ruangan sesuai telunjuk Chris, banyak dedaunan kering dan alat penumbuk berupa batu, "Bagaimana cara menggunakannya?"
"Ditumbuk lalu diperas dan diambil sarinya."
__ADS_1
Tak membuang waktu, gadis itu segera melakukannya. Ailee sebenarnya sadar dengan perilakunya, ini bukan pengaruh Chris melainkan berasal dari dirinya sendiri.
Salep herbal akhirnya siap, Ailee mendekat sambil bertanya gugup, "Kau mau mengoleskan sendiri?"
"Mana bisa, sepertinya luka di punggungku lebih banyak," Chris mulai menggoda. Ailee yang sebenarnya sejak tadi berniat melakukan hal itu, sigap dilaksanakan, hingga tanpa sengaja semangatnya hampir kembali melukai Chris, pria itu berteriak, "Akh, pelan, jangan ditekan!"
Giliran bagian punggung, Ailee merasa lebih lega karena tak harus bertatap muka yang mana bisa membuat tangannya bergetar. Namun sesuatu justru mengalihkan perhatiannya—saat hidungnya hampir bersentuhan dengan punggung Chris, "Sabun aroma apa yang kau pakai? Wanginya enak sekali."
"Sama seperti punyamu."
"Tidak, ini berbeda. Punyamu kelihatannya dari bubuk white roses," Ailee mendekatkan hidungnya lagi, mengendus.
Chris tertawa seraya menolehkan sedikit kepala, "Kenapa kau tiba-tiba datang kemari dan jadi lebih peduli padaku begini?"
"Jangan salah paham, aku hanya khawatir saat melihat luka."
"Bohong."
"Sebenarnya aku kemari untuk memaksamu," balas gadis itu kembali ketus seperti hari-hari biasanya, "Suruh semua orang diam membicarakan kita apalagi mengenai kejadian malam di air terjun. Beritanya sudah menyebar kemana-mana, aku tidak terima! Apa kau tak malu sebagai alpha selalu digunjing anggotamu sendiri."
"Dari pada mempersulit, bagaimana kalau kita realisasikan kesalah pahaman itu, termasuk memberi tawaran bagus agar aku bisa menjagamu sepenuh hati dari ancaman black pack bukan semata karena perjanjian," goda si alpha.
Ailee menggerutu, "Apa begini caramu menyatakan cinta? Lucu sekali."
__ADS_1
"Aku harus pergi," ujar sang alpha tiba-tiba, ia merebut alat tumbuk dari tangan Ailee lantas kembali menaruhnya di meja, "Lima hari lagi mungkin baru bisa kembali, jaga dirimu dan tetap waspada terhadap situasi sekitar."
...Wolfgang: The Alpha's Throne...