
Ruangan VVIP dibuka oleh para karyawan setelah melihat kedatangan Devan dan Ella. Degup jantung keduanya sama-sama beradu saat itu juga. Ella berharap semua akan berjalan lancar, begitu juga dengan Devan.
Sepasang manusia paruh baya, menjadi pemandangan pertama Ella setelah pintu terbuka. Tatapan tegas dan tatapan menyelidik langsung saja menerpa Ella. Ella yang merasa terintimidasi, mau tidak mau mengeratkan genggamannya. Tidak memperdulikan Devan yang mati-matian menahan sakit ditangannya.
"Kamu yang namanya Ella?" tanya wanita paruh baya namun masih terkesan cantik.
"Iya nyonya," jawab Ella. Ella lupa bertanya pada Devan, dia harus memanggil orang tuanya dengan sebutan apa. Jadilah dengan kebiasaan Ella, dia memanggil ibunda Devan dengan sebutan nyonya.
Nyonya Alendra mendekati Ella dengan perlahan. Dengan tangan lentiknya, nyonya Alendra menarik Ella. "Jangan berdiri terus, atau kamu nanti cepat capek." ujar nyonya Alendra dengan lembut, berbeda dengan tatapan yang ia berikan saat pertama kali melihat Ella tadi.
Ella menurut dan duduk dalam diam. Jujur, ini kali pertamanya ia makan bersama sejak kepergian orang tuanya. Untuk melakukan sesuatu pun, Ella berpikir akan meniru Devan nantinya.
"Apa kamu udah merasakan nyidam?" tanya nyonya Alendra yang sepertinya lebih aktif dibandingkan dengan Tuan Alendra.
"Belum nyonya, bayinya baik." jawab Ella dengan menunjukkan sedikit gelengan.
Nyonya Alendra yang paham kalau Ella anak yang pemalu, ia tersenyum. Setidaknya ia lega, bukan wanita macam wanita penghibur yang dibawa Devan. Bolehlah menyelamatkan sedikit reputasi keluarga.
"Jangan panggil aku nyonya, itu kesan yang sangat canggung untuk calon menantu keluarga ini." ujar nyonya Alendra disertai tawa kecil diakhirnya.
"Ca-calon menantu?"
"Kenapa? Apa tidak mau menjadi calon menantuku?" sekarang bukan nyonya Alendra yang berbicara, melainkan tuan Alendra yang membuat nyali Ella menciut.
Entah kenapa, aura keluarga Alendra terasa mencekat bagi Ella. Apa Alendra emang terkenal dengan kekejamannya? Bahkan Devan juga selalu berbicara dingin dengan Ella. Tapi sekarang, tuan Alendra dan nyonya Alendra?
"Papah nih apa-apaan sih! Tanya yang lembut gitu. Tuh, cucumu takut!" kesal nyonya Alendra pada suaminya. Ella sedikit demi sedikit mendongakkan kepalanya melihat perdebatan kecil antara nyonya dan tuan Alendra.
"Sudah, jangan dengarkan dia. Mau bagaimanapun, kamu harus menjadi menantu keluarga ini!" putus nyonya Alendra. Ella sedikit tersenyum melihat wajah kesal nyonya Alendra pada suaminya, ini kah keluarga?
Tak menunggu beberapa lama, pelayan masuk dan membawakan makanan yang sepertinya dipesan oleh tuan dan nyonya Alendra. Hidangan mewah sudah tersaji didepan Ella sekarang. Tapi belum juga ada yang ia sentuh, aroma salah satu makanan membuat Ella menutup mulut dan hidungnya.
Ella yang duduknya disebelah nyonya Alendra, membuat Ella mau tak mau harus menahan gejolak diperutnya. Tidak etis sekali kalau sampai ia mengeluarkan didepan orang-orang. Tapi ibu ya ibu, dengan hati keibuannya nyonya Alendra menyadari gerak-gerik Ella.
__ADS_1
"Mau ke toilet sebentar?" tanya nyonya Alendra pada Ella dengan lembut. Ella mengangguk dan segera berdiri mencari toilet, tak lupa disusul nyonya Alendra yang mengikuti dibelakang Ella.
Rasanya setelah mengetahui kehamilannya, Ella lumayan sering merasakan mual. Tentu saja itu sedikit mengganggu Ella. Kalau dirumah dia akan mencoba menahannya, dan kalau di kantor dia akan diam-diam ke toilet dengan alasan mulas. Hah, kalau terus berbohong juga tidak bagus untuk perkembangan bayinya.
Ella selesai mengeluarkan unek-unek diperutnya. Keluar dari toilet, Ella sudah disambut nyonya Alendra yang tersenyum keibuan pada Ella. "Sudah selesai?" tanya nyonya Alendra pada Ella.
"I-iya sudah," jawab Ella malu-malu.
"Panggil aku mama ya! Dan kalau ada apa-apa katakan saja padaku. Ini kehamilan pertamamu, pasti sulit kalau tidak ada yang menemanimu." ujar nyonya Alendra membuat hati Ella tersentuh. Rasanya seperti ibunya bangkit kembali dan menasehatinya sekarang.
Ella merasakan tangannya ditarik lembut sekarang. Benar saja, sekarang nyonya Alendra sedang menariknya dengan lembut. Membawa Ella ke tempat mereka berkumpul tadi. Ella menatap makanan yang kini sudah membuatnya tidak mual lagi, bahkan sekarang rasanya makanan didepannya menggoda untuk Ella makan.
"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman lagi, katakan saja ya." ujar nyonya Alendra dengan senyum yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Ella mengangguk ramah dan tersenyum manis juga untuk membalas senyuman nyonya Alendra.
Ella memakan makanan yang sudah disiapkan. Memang kalau ada harga ada rasa. Makanan yang masuk kedalam mulut Ella sekarang rasanya memang enak seperti seharusnya, sampai akhirnya Ella tidak sadar kalau makanannya sudah habis.
"Kapan kalian menikah?"
"Uhuk..uhuk!!"
"Kami belum menentukannya." jawab Devan dengan santai setelah meredakan tenggorokannya.
"APA?!"
Mata tegas langsung terasa menyayat untuk Ella dan Devan. Satu pukulan pun mendarat sempurna di kepala Devan, membuat si empunya kepala mengaduh sakit. Berbeda dengan Ella yang sedikit meringis saat melihat Devan dipukul kepalanya. Terlihat tidak keras, tapi tetap saja pukulan orang tua yang paling menyakitkan.
"Bagaimana bisa kau berbicara dengan santai begini!" kesal tuan Alendra pada Devan. Devan sendiri masih mengusap-usap bekas pukulan yang diberikan ayahnya tadi.
"Mana aku tau! Kalau menikahpun sekarang aku bisa!" balas Devan tak mau kalah dengan ayahnya. Sedangkan para perempuan hanya menjadi penonton setia yang menunggu akhir dari perdebatan ayah dan anak.
"Bagaimana dengan dekorasi? Catering? Tamu undangan? Dan lain-lainnya!"
"Pernikahan ini hanya untuk identitas anak itu,"
__ADS_1
"Anak itu?! Kau pikir anak siapa itu!"
Hening, Devan tak menjawab pertanyaan ayahnya. Ella menyadari kalau saat ini Devan masih belum mengakui anak yang ada di rahimnya adalah anak mereka berdua. Dengan senyumnya, mungkin ini saatnya Ella yang menjawab.
"Tuan. Saya rasa kita bisa menikah di KUA saja," ujar Ella yang langsung membuat tuan Alendra menoleh pada Ella.
Terlihat tuan Alendra sekarang menepuk jidatnya. Ella merasa bersalah sekarang, apa dia salah memberi saran? Tapi bagaimana lagi caranya agar semua berjalan lancar?
"Hah! Kau membuatku menjadi seperti majikanmu menantu. Panggil aku Papa! Tidak ada penolakan!" ujar tuan Alendra pada akhirnya. Ella hanya tersenyum malu-malu dan mengangguk mengiyakan apa yang tuan Alendra minta padanya. Lagipula, sangat canggung juga kalau Ella memanggil calon mertua dengan sebutan tuan.
"Ella, dengarkan Papa. Papa tau ini pernikahan yang didasari kesalahan anak saya ini, tapi ini pernikahan juga menyangkut cucu pertama keluarga Alendra." ujar tuan Alendra dengan lembut pada Ella.
Ella tau kalau tuan Alendra memikirkan anak yang ia kandung. Darah Alendra mengalir disini, tapi apa pentingnya itu sekarang kalau ayah dari anak ini saja tidak mau mengakuinya. Ella melirik Devan yang juga meliriknya, tatapan mereka bertemu.
"Beres!"
.
.
.
.
.
Holaaaaaa
Halooooo
Haiiiiiiiiiiii
Tinggalkan jejak kalian disini!!!!
__ADS_1
Papayyyy.....